Hasyim: NU Hadapi Tantangan Ekstrimisme, Liberalisme dan Komunisme
NU Online Ā· Jumat, 6 Februari 2009 | 22:34 WIB
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi mengatakan, kini NU menghadapi sekaligus tiga tantangan dari paham liberalisme, ekstrimisme dan komunisme. Dua paham pertama muncul dari dalam Islam sendiri.
āKami menghadapi tantangan liberalisme. Liberalisme ini mengancam akidah dan syariah secara bertahap,ā ujar Hasyim saat menerima Cucu Pemimpin Revolusi Islam Iran Ayatollah Ruhollah Khomeini, Sayyed Yaser Khomeini, di Kantor PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta, Jumat (6/2).<>
Liberalisme itu, kata Hasyim, tidak hanya memengaruhi Islam, tapi juga āmenggangguā agama lain untuk diliberalkan. Paham yang berasal dari Barat itu telah merusak Katolik dan Kristen di Eropa.
Di samping liberalisme, NU juga menghadapi ekstrimisme di dalam Islam sendiri. Jika liberalisme memengaruhi akidah dan syariah, maka ekstrimisme mengancam nama baik Islam. āMereka yang membawa Islam dengan kekerasan, merugikan Islam Indonesia,ā ujarnya.
Sementara, paham komunisme sendiri telah resmi dilarang di Indonesia. Tetapi, pikiran dan ideologinya tetap berkembang, terutama sikap tidak percaya pada Tuhan atau ateisme-nya.
āPKI (Partai Komunis Indonesia) resmi dilarang, tetapi negara tidak mungkin melarang sebuah ideologi yang tidak kelihatan. Kita menghadapinya dengan kewaspadaan dan dakwah,ā jelas Hasyim kepada Sayyed Yaser Khomeini.
Senada dengan Hasyim, Yaser mengatakan, saat ini masih terlihat gerakan komunisme dan permusuhan terhadap agama. Bahkan, gerakan itu saat ini lebih kompleks dibanding dahulu. Gerakan itu kini mempunyai āwajahā yang lain.
Namun, jelas Yaser, gerakan itu tidak bisa memengaruhi umat Islam karena ketuhanan adalah fitrah manusia. āMungkin untuk sementara, masyarakat bisa menerima pandangan komunisme. Tapi, karena tidak ada akarnya, tidak ada dasarnya, komunisme tidak bisa berkembang,ā pungkasnya.
Meski demikian, umat Islam tidak boleh diam. Masalah itu juga menjadi tanggung jawab ormas Islam seperti NU agar memberitahukan kepada masyarakat tentang paham tersebut. Ormas Islam harus memberitahukan kepada umatnya bahwa ada gerakan yang ingin ingin menghancurkan Islam. (rif)
Terpopuler
1
Syuriyah PBNU Harapkan Muktamar Ke-35 Digelar di Pesantren dengan Dua Kriteria
2
Khutbah Jumat: Menumbuhkan Empati dan Solidaritas Sosial Melalui KurbanĀ
3
Khutbah Idul Adha 2026: Menguatkan Solidaritas Melalui Semangat Berbagi
4
Rapat Pleno PBNU: Munas dan Konbes Digelar 20-21 Juni 2026, Lokasi Diputuskan Menyusul
5
Khutbah Jumat: Meraih Pertolongan Allah dengan Membantu Sesama
6
Khutbah Idul Adha 2026: Gotong Royong dalam Pengelolaan Kurban
Terkini
Lihat Semua