Tripoli, NU Online
Dalam kunjungan Alwi Shihab ke Libya dalam rangka mendampingi beberapa pengusaha untuk tujuan bisnis, Keluarga Nahdlatul Ulama (KANU) Libya menyempatkan diri untuk bertemu pada Kamis, (16/3). Beberapa pengurus yang hadir dalam pertemuan tersebut adalah Shihabuddin Mufti (ketua Tanfidziyyah), Fahmi Zakwani (sekjen), Idris Sholeh (bendahara) dan Ramdhani Hamzah (sek. Pen&bud).
“Kedatangan kami kali ini dalam rangka usaha meningkatkan hubungan bisnis dan dagang dengan pemerintah Libya. Misalnya agar Indonesia bisa menanamkan investasi di bidang pengeboran minyak di Libya dan mendapatkan suplai minyak langsung dari Libya. Jadi bukan hanya bidang politik dan pendidikan saja,” ungkap Alwi dalam dialognya dengan keempat pengurus KANU tersebut.
<>“Semenjak embargo Amerika untuk Libya dicabut, pemerintah Libya mengundang pengusaha-pengusaha asing yang tertarik menanamkan investasinya. Nah, sekarang kita ini diundang mereka,” lanjutnya.
Dalam dialog yang hanya berlangsung sekitar 20 menit itu, Alwi juga menyampaikan beberapa perkembangan di tanah air. Salah satunya adalah ramainya dua kubu yang berseberangan yaitu fundamentalis dan liberalis. “Orang yang jadi fundamental itu rata-rata bukan orang pesantren. Kalau orang pesantren kan enggak begitu. Sebab adanya perbedaan sudah diajarkan di pesantren. Pemahaman agama mereka (fundamentalis) kurang mendalam.
Dan kebanyakan fundamentalis tumbuh di tengah metropolitan, yang kebanyakan orang-orangnya kurang memperhatikan agama. Atau mereka memperhatikan agama sekedarnya saja. Atau cuma mendengarkan guru mereka dan menjadi fanatik terhadap gurunya itu. Dan keberadaan mereka (di tengah kota) lebih mudah di ekspos media ketimbang pesantren-pesantren di pelosok desa,” demikian anggapannya tentang fundamentalis. Sedangkan tentang liberalisme, ia menganggap mereka hanya ingin tampil beda saja. Dan keilmuan orang-orangnya juga kurang.
Bertolak belakang dengan apa yang pernah disampaikan DR. Said Aqil Siradj dalam kunjungannya beberapa waktu lalu ke Libya, yang mengatakan bahwa sebenarnya keilmuan orang JIL sangat mumpuni. Namun disayangkan ada yang mboncengi.
Alwi juga sempat menyindir tentang pecahnya PKB. ia menganggap ini adalah akibat kurangnya idealisme anak muda PKB. “Kita kalah dengan anak muda PKS. Ini yang harus diperbaiki. Gimana nanti kita menghadapi (Pemilu) 2009 kalau begini?”, katanya.
Ia juga banyak bercerita tentang pengalamannya selama belajar di Kairo dan Amerika dulu untuk dijadikan pegangan mahasiswa NU selama menuntut ilmu di Libya. ”Setidaknya kita bisa menguasai dua bahasa dunia yaitu Inggris dan Arab,” tuturnya.
Kontributor Libya : Ahmad Fahmi
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: Ramadhan, Melatih Sabar, Memperkuat Syukur
2
Khutbah Jumat: Tiga Kebahagiaan Orang Puasa
3
Gerhana Bulan Total Bakal Terlihat di Seluruh Indonesia pada Selasa 3 Maret 2026, Dianjurkan Shalat Khusuf
4
Gus Yahya Sebut Kepergian Ketum Fatayat Margaret adalah Kehilangan Besar bagi Keluarga NU
5
Khutbah Jumat: 4 Cara Menghidupkan Malam Ramadhan dengan Ibadah
6
Ali Khamenei Wafat dalam Serangan Israel-Amerika
Terkini
Lihat Semua