Jatim

3 Faktor Masyarakat Urban Minat Masuk Pesantren

Jumat, 9 Januari 2026 | 19:00 WIB

3 Faktor Masyarakat Urban Minat Masuk Pesantren

Pimpinan Pondok Pesantren Bayt Al Hikmah Kota Pasuruan, Gus HM Nailur Rochman. (Foto: NOJ/ Istimewa)

Malang, NU Online Jatim

Pimpinan Pondok Pesantren Bayt Al Hikmah Kota Pasuruan, Gus HM Nailur Rochman, menjelaskan tiga hal besar yang terjadi dan menjadikan pesantren diminati oleh masyarakat urban.

 

“Pertama, middle class migration. Kedua, urban crisis. Ketiga, Artificial Intelligence (AI),” ujarnya saat Sarasehan Pesantren dan Kebangsaan pada Kick Off Harlah 1 Abad NU yang diselenggarakan PWNU Jatim. Kegiatan ini dipusatkan di Auditorium Prof Dr KH M Tolchah Hasan Universitas Islam Malang (Unisma), Rabu (07/01/2026).

 

Ia menjelaskan, Middle Class Migration yaitu fenomena perpindahan penduduk dari kelas menengah ke kawasan perkotaan. Disebutkan, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa tren urbanisasi terus meningkat sejak tahun 2010.

 

“Dan pada 2035 mendatang diprediksi 66,6 populasi masyarakat Indonesia tinggal di perkotaan (kawasan urban),” kata Gus Amak, sapaan karibnya. 

 

Ia menegaskan, data di atas penting bagi pesantren karena masyarakat perkotaan akan mencari sekolah atau lembaga pendidikan yang dilengkapi dengan asrama. Mereka tidak tertarik lagi dengan sekolah internasional atau sekolah unggulan. Masyarakat urban akan mencari pesantren yang modern.

 

Selanjutnya, ialah urban crisis (krisis perkotaan), yaitu persoalan kompleks yang terjadi di kota akibat kegagalan pembangunan dan pengelolaan perkotaan, yang mencakup masalah sosial, ekonomi, lingkungan, hingga infrastruktur.

 

Urban crisis ini tergambar dengan munculnya fenomena mental health, kecanduan hp, merasa kesepian sosial, dan tidak punya tujuan spiritual,” tutur Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Pasuruan ini.

 

Ia menerangkan, faktor lainnya ialah artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan. Menurutnya, AI telah banyak mengubah cara hidup, berpikir, dan belajar seseorang. Namun, kaum pesantren tidak perlu khawatir, karena pesantren menghadirkan pengalaman spiritual dan penanaman karakter yang tidak bisa disajikan oleh AI.

 

“Masyarakat urban mencari pesantren, karena telah sadar saat ini tidak hanya mencari nilai matematika 100. Namun mereka berpikir bagaimana anak memiliki adab, tatakrama, mentalnya tangguh, dan tidak tergerus arus digital,” ujarnya.

 

Selengkapnya klik di sini.