Nasional

Kaleidoskop 2025: Pengolahan Sampah dan Gerakan Pesantren Hijau di Sejumlah Daerah

NU Online  ·  Rabu, 31 Desember 2025 | 14:30 WIB

Kaleidoskop 2025: Pengolahan Sampah dan Gerakan Pesantren Hijau di Sejumlah Daerah

Santri Pesantren Krapyak sedang melakukan proses pengolahan sampah. (Foto: dok. Pesantren Krapyak)

Jakarta, NU Online

Sepanjang 2025, pesantren di berbagai daerah mulai ambil andil dalam merespons persoalan lingkungan, khususnya pengelolaan sampah. Di tengah krisis sampah nasional yang kian mengkhawatirkan, banyak pesantren justru bergerak lebih progresif dengan menggalakkan pengolahan sampah berbasis sistem reduce, reuse, recycle (3R) dan memperkuat Gerakan Pesantren Hijau.


Pengolahan sampah

Di lingkungan pesantren, pengelolaan sampah tidak lagi dipandang sebagai urusan teknis semata, melainkan bagian dari pendidikan karakter santri. Seluruh santri dilibatkan langsung dalam proses pemilahan, pengumpulan, hingga daur ulang sampah.


Pengurus Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim (LPBI) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Syamsul Arifin menekankan bahwa santri memiliki posisi strategis dalam membangun kesadaran ekologis di masyarakat.


“Santri memiliki peran strategis dalam menyebarkan nilai-nilai kepedulian terhadap lingkungan. Dengan memahami pengelolaan sampah yang benar, mereka dapat menjadi pelopor perubahan dalam menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan sehat,” ujarnya di Kota Bekasi, Jawa Barat, pada 21 Februari 2025.


Pengasuh Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo, Magelang, Jawa Tengah, KH Muhammad Yusuf Chudlori menegaskan pentingnya pembiasaan sejak dini. Menurutnya, kesadaran lingkungan harus dibangun sebagai mindset yang melekat pada diri santri.


“Saya selalu mengingatkan santri, jangan sampai kalian beranjak meninggalkan sampah. Mindset menjaga kebersihan dan lingkungan harus ditanamkan terus-menerus agar terbentuk alam bawah sadar yang mencintai lingkungan,” ujarnya di Jakarta, pada 28 Oktober 2025.


Praktik konkret pengelolaan sampah mandiri terlihat di Pondok Pesantren Krapyak Yayasan Ali Maksum, Yogyakarta, melalui program Krapyak Peduli Sampah yang berdiri sejak 12 Juli 2023.


Direktur Krapyak Peduli Sampah Andhika Muhammad Nuur menyebut sampah sebagai sumber daya ekonomi jika dikelola secara tepat. Melalui program tersebut, sampah diolah menjadi kompos, biogas, kursi, gantungan kunci, hingga bahan ecobrick.


“Bahkan program ini menjadi tempat berkreativitas dalam mengelola limbah. Kami mengubah mindset bahwa sampah bukan beban, bukan sampah yang salah, tapi cara kita memperlakukannya yang kurang bijak,” ujarnya kepada NU Online, pada 17 Oktober 2025.


Inovasi serupa dilakukan Pondok Pesantren Nur El Falah, Kabupaten Serang, Banten, melalui program Bank Sampah Pesantren. Pengasuh pesantren, KH Ahmad Yury Alam Fathallah, menyebut inisiatif ini berawal dari keresahan para pengurus pada 2022. Sampah organik diolah menggunakan maggot, sementara hasilnya dimanfaatkan sebagai pakan ikan lele di kolam pesantren.


Sisa nasi, sayur, dan kulit buah menumpuk di ember besar, dulu hanya dibuang gitu saja. Sekarang kami olah melalui maggot,” katanya kepada NU Online, pada 6 November 2025.


Sementara itu, sampah anorganik dikelola melalui sistem bank sampah berbasis aplikasi. Setiap santri memiliki akun tabungan yang saldonya diumumkan setiap semester.


“Kami buat aplikasi agar santri bisa belajar menabung dari sampah. Jadi, mereka tahu bahwa sampah ternyata ada nilai ekonominya dan juga memberikan manfaat jika dikelola dengan baik,” ujar Kiai Yury.


Di Pondok Pesantren Al-Anwar 2 Sarang, Rembang, Jawa Tengah, pengolahan sampah organik dengan maggot juga diterapkan. Pembina Sub Kebersihan Pesantren Al-Anwar 2, Fachrurrozi, menekankan pentingnya pelibatan langsung santri.


“Santri ini harus dilibatkan dalam memilah sampah, kalau tidak dilibatkan nanti malah mereka tidak tahu,” ungkapnya kepada NU Online, pada 7 November 2025.


Gerakan pesantren hijau

Upaya pengelolaan sampah ini berjalan seiring dengan penguatan Gerakan Pesantren Hijau. Direktur Eksekutif NU Care-LAZISNU, Riri Khariroh, menyampaikan bahwa gerakan tersebut bertujuan membangun kesadaran dan keterampilan santri dalam menjaga lingkungan.


“Kami mengajak para santri, bagaimana sih hidup ramah lingkungan dan bagaimana juga mereka (santri) bisa berpartisipasi aktif untuk gerakan lingkungan di pesantren,” ujarnya di Jakarta, pada 19 Februari 2025.


Direktur Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said, menegaskan bahwa pesantren hijau merupakan bagian dari gerakan nasional penghijauan sekaligus refleksi ajaran agama. Ia mengimbau setiap pesantren menyediakan ruang terbuka hijau dan pepohonan.


“Dengan adanya pepohonan itu, anak-anak jadi nyaman tinggal di pesantren yang sejuk dan rindang, akhirnya dapat mempengaruhi semangatnya anak-anak untuk belajar,” ujarnya kepada NU Online di Jakarta, pada 14 Oktober 2025.


Menurut Basnang, konsep ekoteologi di pesantren tidak hanya menciptakan lingkungan belajar yang sehat, tetapi juga menanamkan kesadaran teologis tentang amanah menjaga alam.


“Jadi jangan selalu menyalahkan Tuhan. Sesungguhnya ada kontribusi kita yang membuat alam ini rusak. Maka Pesantren akan mengambil bagian penghijauan, dalam rangka memelihara alam itu,” ujarnya.


Sejumlah pesantren telah menerapkan konsep Pesantren Hijau, di antaranya Pondok Pesantren Al-Hamid di Jakarta Timur; Pesantren Al-Ikhlas di Bone; Pesantren As’adiyah di Wajo; Pesantren Zainul Hasan Genggong di Probolinggo; Pesantren Al-Mubarok di Demak; Pesantren Mahasina di Kota Bekasi; Pesantren Al-Hamidiyah di Depok; Pesantren Al-Kenaniyah di Jakarta Timur; Pesantren Al-Hamid di Jakarta Timur; dan Pesantren Mathlaul Anwar Linahdlatil Ulama (MALNU) di Pandeglang.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang