Kaleidoskop 2025: Tragedi Al-Khoziny Tinggalkan Duka Mendalam bagi Dunia Pesantren
NU Online · Selasa, 30 Desember 2025 | 23:00 WIB
Mushala Pesantren Al-Khoziny Sidoarjo, Jawa Timur, ambruk pada 29 September 2025. (Foto: NU Online Jatim)
Muhammad Asrofi
Kontributor
Jakarta, NU Online
Tahun 2025 meninggalkan luka mendalam bagi dunia pesantren Indonesia. Di tengah berbagai peristiwa yang mengguncang ranah pendidikan keagamaan, tragedi ambruknya mushala di Pesantren Al-Khoziny Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur menjadi salah satu catatan paling memilukan.
Peristiwa yang merenggut nyawa 67 santri dan 104 lainnya luka-luka itu meninggalkan duka panjang bagi keluarga, pesantren, dan umat Islam.
Ratusan santri yang sedang melaksanakan ibadah shalat Ashar pada 29 September 2025 tiba-tiba terjebak di bawah reruntuhan setelah mushala tiga lantai pesantren tersebut runtuh.
Pada fase awal evakuasi, data sementara menyebutkan 14 santri meninggal dunia dan 49 orang masih dalam pencarian, sementara ratusan lainnya tertimbun dan selamat dengan kondisi berbeda-beda.
Operasi Search and Rescue (SAR) berlangsung selama berhari-hari. Seiring waktu, jumlah korban terus berubah seiring temuan jenazah dan bagian tubuh korban.
Data yang dirilis Badan SAR Nasional (Basarnas) setelah operasi resmi ditutup pada 7 Oktober 2025 mencatat total 67 korban meninggal dunia, termasuk temuan delapan body part yang masih diklasifikasikan sebagai bagian tubuh korban. Total korban mencapai 171 orang, dengan 104 orang selamat dari reruntuhan tersebut.
Statistik korban tragedi Al-Khoziny menunjukkan peningkatan yang terus berubah selama masa evakuasi. Sebelum angka akhir diumumkan oleh Basarnas, laporan media NU Online menunjukkan peningkatan jumlah korban yang ditemukan dari waktu ke waktu: dari 14 jenazah awal, lalu meningkat menjadi 36 jenazah dan satu bagian tubuh, serta kemudian 60 korban meninggal dunia sebelum angka finis diumumkan.
Selain angka statistik, kampanye doa dan solidaritas pun meluas. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengeluarkan imbauan kepada jajarannya di seluruh Indonesia dan luar negeri untuk menyelenggarakan shalat ghaib dan tahlil bersama bagi korban tragedi Al-Khoziny. Upaya ini dilakukan sebagai bentuk empati umat terhadap keluarga korban dan komunitas pesantren yang berduka.
Reruntuhan mushala Pesantren Al-Khoziny mencerminkan persoalan mendalam yang selama ini menghinggapi banyak pesantren di Indonesia. Banyak pesantren tumbuh dari semangat kemandirian, dibangun secara bertahap oleh sendiri oleh kiai, santri, dan masyarakat sekitar. Semangat ini membuat pesantren bertahan meskipun dengan fasilitas yang sederhana. Namun ketika berhadapan dengan tantangan modern seperti standar keselamatan bangunan, banyak pesantren kekurangan dukungan teknis dan regulasi yang memadai.
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) menyampaikan musibah yang terjadi di Pondok Pesantren Al-Khoziny sebagai puncak dari gunung es persoalan infrastruktur di pesantren yang perlu segera diperbaiki.
“Musibah yang dialami oleh Al-Khoziny ini adalah puncak dari gunung es masalah infrastruktur di pondok pesantren. Itu harus kita perjuangkan bersama untuk perbaikan-perbaikan lebih lanjut,” ujar Gus Yahya pada 10 Oktober 2025.
Korban tragedi Al-Khoziny adalah para santri yang merupakan anak-anak dan remaja yang menitipkan harapan untuk belajar agama, membentuk karakter, dan menjadi bagian dari masa depan umat. Mereka datang dari berbagai latar belakang keluarga, membawa mimpi dan cita-cita yang kini harus terhenti secara tragis.
Banyak orang tua dan kerabat yang menunggu tiap perkembangan evakuasi, berharap tanda kehidupan dari nama-nama yang terpampang di daftar pencarian. Cerita emosional dari keluarga yang menunggu di luar area lokasi bencana menjadi potret kesedihan yang tak bisa diukur hanya dengan angka statistik.
Tragedi ini juga memantik respons dari berbagai institusi. Selain PBNU yang menggagas doa bersama dan tahlil nasional bagi korban, pemerintah melalui Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifatul Choiri Fauzi turun langsung ke lokasi untuk memberikan dukungan sosial dan emosional kepada keluarga korban.
Arifah menegaskan bahwa setiap anak berhak atas tempat pendidikan yang aman. Ia juga mengingatkan bahwa tragedi Al-Khoziny harus menjadi momentum untuk memperkuat perlindungan terhadap anak di sekolah dan pesantren di seluruh negeri.
Sementara itu, Presiden Prabowo Subianto memerintahkan pembentukan Direktorat Jenderal (Ditjen) Pesantren di lingkungan Kementerian Agama sebagai upaya memperkuat pengawasan dan pembinaan pesantren di Indonesia.
Dibentuknya unit kerja di Kemenag ini dilatarbelakangi oleh fakta bahwa banyak pesantren yang belum mendapatkan pendampingan teknis yang seharusnya menjadi tanggung jawab negara, terutama terkait aspek keselamatan bangunan dan fasilitas pendidikan.
Pesantren selama ini dikenal sebagai lembaga pendidikan yang kuat dalam semangat kemandirian. Namun tragedi ini menunjukkan bahwa kemandirian tanpa dukungan struktural yang jelas bisa menjadi bumerang. Kemandirian bukan berarti dijalankan tanpa standarisasi keselamatan, tanpa pendampingan teknis, atau tanpa bantuan negara yang mampu menjamin perlindungan dasar terhadap santri.
Tragedi Al-Khoziny juga membuka pertanyaan tentang regulasi dan implementasi norma keselamatan di lembaga pendidikan nonformal seperti pesantren. Selama ini pesantren sering dianggap di luar lingkup pengawasan bangunan formal, sehingga isu seperti izin bangunan, audit struktural, dan standar keselamatan sering terabaikan. Padahal, keselamatan santri adalah hal mutlak yang tidak boleh dikompromikan oleh semangat mandiri sekalipun.
Semua pihak berharap tragedi Al-Khoziny bukan hanya menjadi catatan duka, tetapi menjadi cermin yang memantik perubahan. Pesantren harus menjadi ruang aman bagi para pencari ilmu, bukan hanya tempat yang rawan risiko. Sistem regulasi, pendampingan teknis, dan kebijakan pendidikan pesantren perlu ditata ulang agar tidak ada lagi santri yang kehilangan nyawa karena kelalaian struktural.
Terpopuler
1
PBNU Tegaskan Aliansi yang Mengatasnamakan Angkatan Muda NU Bukan Bagian dari Organisasi NU
2
Ketum PBNU Respons Penetapan Eks Menag Yaqut Cholil Qoumas sebagai Tersangka Korupsi Kuota Haji
3
Khutbah Jumat: Rajab, Bulan Islah dan Perdamaian
4
Khutbah Jumat: Rezeki yang Halal Menjadi Penyebab Hidup Tenang
5
PWNU Aceh Dukung Pendataan Rumah Terdampak Banjir, Warga Diminta Melapor hingga 15 Januari
6
Khutbah Jumat: Media Sosial dan Ujian Kejujuran
Terkini
Lihat Semua