Nyai Ainiyah Yusuf, Cahaya di Pesantren Mambaus Sholihin Gresik
NU Online · Rabu, 7 Januari 2026 | 15:20 WIB
Pengasuh Pondok Pesantren Mambaus Sholihin KH Masbuhin Faqih mengabdikan diri kepada umat melalui jalur pendidikan agama melalui pesantren di Kabupaten Gresik. Ia merintis, mengembangkan, dan membesarkan lembaga pendidikan hingga kini memiliki 10 cabang di berbagai daerah di Indonesia.
Ada sosok yang mendampingi perjuangan KH Masbuhin Faqih, yaitu istrinya, Bu Nyai Ainiyah Yusuf, sosok yang setia mendampinginya sejak masih mondok dan berkhidmah di Pesantren Langitan, Tuban.
Bu Nyai Ainiyah lahir pada 30 Oktober tahun 1952 di Desa Suci. Ia merupakan putri kedua dari empat bersaudara pasangan Kiai Yusuf Kardi Nyai Hj. Masfufah. Konon, kakeknya dari Nyai Hj. Masfufah merupakan seorang kiai yang alim di Desa Suci, yakni Kiai Kholil. Hari ini, nama itu diabadikan sebagai nama gang salah satu kampung di Desa Suci, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik.
Secara nasab, saat ini baru dapat ditelusuri dari jalur ibunya, yaitu Hj. Masfufah binti Kiai Kholil bin Mbah Aqil bin Mbah Qalyubi bin Mbah Syarifuddin.
Riwayat Pendidikan
Bu Nyai Ainiyah mendapatkan pendidikan agama pertama secara langsung dari kedua orang tuanya. Sementara pendidikan formalnya ditempuh di Madrasah Ibtidaiyah Nurul Islam Pongangan—tetangga Desa Suci. Pada usia 16 tahun, yakni 1968, ia menikah dengan Kiai Masbuhin Faqih sesuai perintah Kiai Abdul Hadi Zahid, Langitan. Meski sudah pasangan itu berkhidmah dan tinggal di Pondok Langitan.
Selama di Langitan, meski dalam keadaan serba pas-pasan, Bu Nyai Ainiyah menemani suami dalam derap langkah khidmah sebagai ketua pondok (rais aam), abdi ndalem, dan kepala madrasah. Beberapa tahun di Langitan, keduanya dikaruniai lima anak.
Pada 1976, sang suami diperintah gurunya untuk membangun pesantren tersendiri. Namun, baru pada 1980, secara resmi, Kiai Abdullah Faqih memintanya untuk pulang mulai merintis pesantren. Kendati demikian, Kiai Masbuhin masih tetap berkhidmah mengajar di Pesantren Langitan seminggu sekali.
Merintis Pesantren
Saat merintis pesantren, Kiai Masbuhin menjalankan beberapa usaha untuk menghidupi keluarga. Menurut Agus Muqsith—mantu keempat, Kiai Masbuhin pernah berjualan minyak tanah dan beberapa usaha lainnya. Sayangnya, usaha-usaha itu selalu gagal sehingga ia memutuskan untuk fokus mengajar para santri.
Peran untuk mencukupi kebutuhan keluarga pun diambil alih Bu Nyai Ainiyah. Ia berjualan es lilin. Ketelatenannya disaksikan Agus Muqsith. Setiap pukul 03.00 dini hari, bahkan terkadang juga pukul 02.00, Bu Nyai duduk di depan kulkas membungkusi es sendiri untuk dijual. Jauh sebelum pulang ke Suci pun Bu Nyai membantu suami dengan jualan nasi bungkus.
Dalam kondisi seperti itu, Bu Nyai masih sempat menabung. Tabungan kemudian ia ubah dalam bentuk perhiasan. Kelak perhiasan-perhiasan itu diperuntukkan untuk kepentingan pondok saat dibutuhkan, baik untuk pembebasan lahan baru atau keperluan lainnya.
Masyhur riwayat di para santri bahwa Bu Nyai pernah memberikan satu kaleng Biskuit yang isinya penuh perhiasan untuk membantu pelunasan tanah demi pembangunan pesantren.
Selain membantu sang suami, Bu Nyai juga hadir di tengah-tengah santri dengan tarbiyah, memperhatikan hal-hal kecil, seperti kebersihan, menu makan santri, menu jajanan yang dijual di kantin pesantren, dan menjadi imam shalat maktubah di pondok putri.
Perhatian Bu Nyai pada hal-hal kecil juga diakui oleh salah satu adik iparnya, Nyai Farida. "Ibu Nyai adalah orang yang rajin, kreatif, bersih. Ia tidak pernah bisa melihat tempat kotor. Ada sampah sedikit saja, pasti langsung ia bersihkan,” jelasnya.
Bu Nyai juga tidak segan membangunkan santri untuk Tahajud. Saat membangunkan santri, terkadang ia berkeliling sambil membaca Burdah. Agus Muhammad menyebutkan, Bu Nyai rutin membaca Burdah setiap pagi. Malahan, menurut salah satu khadimah ndalem—Ustadzah Zahratus Nasihah, Bu Nyai mendawamkan Burdah setiap pagi dan sore hari.
Jeruk dan Keluarga
"Bu Nyai itu hafal hal-hal disukai oleh para putra-putrinya, termasuk menantunya," cerita Agus Muqsith.
Menurutnya, ada banyak momen indah bersama Bu Nyai. Salah satunya adalah tentang buah jeruk, jeruk memang buah favoritnya. Meski sebagai menantu, ia merasa sangat diperhatikan, setiap ada berkat dari tetangga, Bu Nyai pasti akan menyisihkan buah jeruk untuknya.
"Jeruknya sisihkan. Jangan dimakan! Jeruk itu buah kesukaan Muqsith. Biar (nanti) kasihkan," kenang Agus Muqsith dengan mengutip dawuh Bu Nyai berdialek Jawa.
Perhatian Bu Nyai kepada para putra-putrinya diberikan secara proporsional, misalnya kepada putrinya yang ke-9, Neng Hj. Khodijah yang menikah dengan dr. Ainul Ghurri Lamongan. Setiap kali berkunjung ke Suci, Bu Nyai selalu mengingatkan untuk tidak berlama-lama di Suci.
Bu Nyai menyuruh Neng Khodijah untuk segera pulang ke Lamongan karena ada tanggung jawab rumah yang wajib didahulukan daripada bertemu dengan dirinya, yaitu suami dan anak.
Siapa, sih ibu yang tidak ingin berlama-lama dengan sang anak di usia senjanya! Meski demikian, Bu Nyai ingin menekankan tanggung jawab seorang istri adalah suami dan anak-anaknya.
Neng Hj. Azizah—putri keempat, yang kediamannya berada di Desa Suci pun diperlakukan sedemikian oleh Bu Nyai. Lebih dari itu, Bu Nyai akan mempertanyakan ihwal sang suami (Agus Muqsith) sudah makan apa belum, ada makanan apa, kalau tidak ada, Bu Nyai akan membawakan makanan untuk dibawa pulang.
Demikian cerita Agus Muqsith, "Betapa Bu Nyai memperhatikan hal-hal kecil, yang itu didasari (ukuran) syariat! Ia tidak mau mengorbankan hal lain yang lebih utama."
Perhatian Bu Nyai kepada keluarga sangat luar biasa, bukan hanya kepada para putra-putri ia saja, melainkan kepada sanak famili baik dari jalur ia sendiri atau jalur Kiai Masbuhin—sang suami tercinta. Bu Nyai termasuk orang tua yang mengajari kepada putra-putrinya agar selalu sambung silaturahmi dengan sanak-sanak famili. Bahkan sering memerintahkan silaturahmi ke sanak famili, bahkan yang jauh sekalipun. Demikian menurut Agus Muhammad.
Putra-putri ia berjumlah 12, berikut nama-namanya: 1. Agus H. Ahmad Fakhrul Anam; 2. Agus H. Mohammad Zainul Huda; 3. Agus. H. Muhamad Ma'ruf; 4. Neng Hj. Azizah; 5. Agus H. Ahmad Suhaimi; 6. Agus H. Mohammad Majduddin; 7. Neng Hj. Musyafa'ah; 8. Agus H. Muhammad Anas; 9. Neng Hj. Khodijah; 10. Agus Mohammad Qomarul Anam (alm.); 11. Agus H. Zakiyul Fuad; 12. Agus H. 'Ainun Na'im.
Kedermawanan
Masyhur di kalangan masyarakat Desa Suci, bahwa Bu Nyai Ainiyah termasuk sosok dermawan. Tidak heran banyak masyarakat yang senang jika berkunjung ke ndalem Bu Nyai. Setiap bawaan atau buah tangan yang diberikan kepada Bu Nyai, akan dibalas lebih. Demikian penuturan Ustadz Arwani salah satu khadim-nya.
Salah satu santri putri senior juga menceritakan kepada penulis apa yang pernah dilihatnya. Suatu ketika Bu Nyai kedatangan tamu, maksud dan tujuan tamu tersebut ingin membayar utang saudaranya yang baru saja meninggal. Namun, Bu Nyai tidak mau menerimanya, sembari dawuh dalam dialek Jawa.
"Sudah tidak usah (dibayar utangnya), saya (sudah) ikhlas. Tak doakan (saudaramu) husnul khatimah."
Setiap Ramadan para khadimah ndalem pasti repot bersama ia untuk membuat makanan ringan, kue, jajajan desa, apalagi Rabu Wekasan lontong bumbu ladan akan disiapkan untuk dibagikan kepada para sanak famili.
Berpulang
Pada tanggal 23 Ramadan 1430 H/13 September 2009 M Bu Nyai jatuh sakit. Dalam keadaan sakit stroke pun, ia tetap menjalankan keistiqamahan membaca Burdah. Rutinitas ia dalam memperhatikan santri tidak berkurang banyak, meski kondisi ia harus menggunakan kursi roda. Dalam kondisi sakit, ia berusaha hadir di tengah-tengah santri saat jamaah shalat.
Setelah Bu Nyai berjuang menghadapi sakit selama 3 tahun lebih, beberapa kali keluar-masuk rumah sakit, ia ingin berkumpul dengan keluarga. Pada 14 Januari 2013 ia harus menjalani rawat inap kesekian kalinya di RS Petrokimia Gresik. Sayangnya, beberapa hari tidak ada perkembangan hingga pada 17 Januari dipindahkan ke ruangan ICU. Sesuai permintaan Bu Nyai untuk pulang. Ketentuan Allah SWT tiba.
Kecintaan kuat Bu Nyai Ainiyah pada baginda Nabi Muhammad SAW.—dalam kehidupan ia sehari-hari—mengantarkan ia ke haribaan Allah SWT di bulan kelahiran Nabi, rabiulawal. Tepat tiga hari setelahnya, pada tanggal 20 Januari 2013 M malam ia dipanggil ke haribaan Allah SWT atau tepatnya 8 Rabiulawal 1434 H.
Langit Suci mendung ikut berduka melepas kepergian Ibu Nyai. Mambaus Sholihin kehilangan salah satu cahayanya. Namun, cahaya itu mengakar dalam hati para santri. Cahaya yang tetap hidup dalam hati para pecinta. Sejak malam sampai esok hari, shalat jenazah silih bergantian mengiringi pertemuan dengan Sang Pencipta. Kalimat tahlil bercampur tangis menjadi satu, terdengar para santri tidak henti-henti baca ayat Al-Qur'an dan Burdah. Suara-suara itu bergetar memecah kesunyian malam.
Senyumnya yang hangat, yang selalu berikan semangat, kini tinggal dalam kenangan. Betapa banyak air mata pecah melepas kepergian ia, namun teladan itu tertanam dalam relung jiwa. Esok paginya masyarakat, para santri, dan para masyayikh berbaur melepas kepergian ia ke tempat peristirahatan terakhir. Kepergian ia meninggalkan banyak atsar yang sulit untuk dijelaskan dengan kata-kata.
Momen kepergian yang indah, tepat pada momentum haul KH Abdul Hamid Pasuruan—salah satu masyayikh dai tiga jangkar Mambaus Sholihin. Di bulan lahirnya Sang Nabi, yang selalu ia rindukan untuk berjumpa. Bu Nyai meninggalkan 11 putra-putri saleh-salehah, yang sekarang menjadi jujukan umat sekaligus teladan para santri.
Penulis: Ahmad Syahrul Ansori, santri Pondok Pesantren Mambaus Sholihin Gresik
Terpopuler
1
PBNU Tegaskan Aliansi yang Mengatasnamakan Angkatan Muda NU Bukan Bagian dari Organisasi NU
2
Khutbah Jumat: Rajab, Bulan Islah dan Perdamaian
3
Ketum PBNU Respons Penetapan Eks Menag Yaqut Cholil Qoumas sebagai Tersangka Korupsi Kuota Haji
4
Nyai Ainiyah Yusuf, Cahaya di Pesantren Mambaus Sholihin Gresik
5
Khutbah Jumat: Rezeki yang Halal Menjadi Penyebab Hidup Tenang
6
PWNU Aceh Dukung Pendataan Rumah Terdampak Banjir, Warga Diminta Melapor hingga 15 Januari
Terkini
Lihat Semua