Penulisan Novel oleh Para Ning Bawa Transformasi dalam Pesantren
NU Online Ā· Kamis, 8 Januari 2026 | 18:30 WIB
Promovendus Novi Diah Haryanti saat berfoto bersama dengan para penguji usai sidang promosi doktor di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, Kamis (8/1/2026). (Foto: NU Online/Syakir NF)
Muhammad Syakir NF
Penulis
Depok, NU Online
Sejumlah ning, putri kiai, menulis novel yang banyak dibaca masyarakat. Novel-novel itu ditulis bukan sekadar catatan biasa, tetapi juga menjadi strategi mereka dalam melakukan negosiasi habitus yang berlangsung di pesantren melalui tokoh-tokoh perempuan di dalamnya.
Hal tersebut disampaikan Novi Diah Haryanti dalam sidang promosi doktornya di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, pada Kamis (8/1/2026).
Disertasinya berjudul Strategi Negosiasi Tokoh Perempuan terhadap Kontestasi Habitus di Pesantren pada Empat Karya Perempuan Penulis Pesantren.
Adapun empat novel yang dimaksud adalah Hati Suhita karya Khilma Anis, Dua Barista karya Najhaty Sharma, Diary Ungu Rumaysha karya Nisaul Kamilah, dan Cincin Kalabendu karya Liza Samchah. Para penulis tersebut merupakan ning dari pesantren-pesantren di Jawa.
"Tokoh perempuan tidak sekadar sosok yang pasif, melainkan menegosiasikan posisi dan otoritasnya," kata dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu.
Strategi negosiasi itu dilakukan berakar pada nilai-nilai pesantren, seperti kepatuhan, kesalehan, adaptif, loyalitas, dan pengabdian. Upaya itu diwujudkan melalui arena pendidikan, pernikahan, otoritas keagamaan, dan ekonomi.
Menurutnya, negosiasi tersebut tidak dipahami sebagai dikotomi tunduk atau melawan terhadap struktur, melainkan strategi negosiasi berbasis kesalehan yang bekerja dari dalam struktur pesantren.
Karenanya, tokoh perempuan itu menjalankan agensi kesalehan secara reflektif dan produktif, melahirkan habitus lentur dan transformatif, yakni disposisi yang memungkinkan penyesuaian sekaligus pergeseran nilai dalam habitus komunal pesantren.
"Dengan demikian, perempuan penulis pesantren tidak hanya merepresentasikan pengalaman mereka tetapi mendesain ulang habitus yang membentuknya sehingga melahirkan wajah pesantren sebagai ruang religius yang lentur, reflektif, terbuka terhadap makna kesalehan serta otoritas kemampuan," katanya.
Atas risetnya itu, Novi berhak menyandang gelar doktor ilmu susastra dengan nilai samgat memuaskan dan indeks prestasi kumulatif 3,9. Ia dibimbing oleh Prof Muhammad Lutfi dan dua kopromotor, yakni Turita Indah Setyani dan Bastian Zulyeno.
Terpopuler
1
Syuriyah PBNU Harapkan Muktamar Ke-35 Digelar di Pesantren dengan Dua Kriteria
2
Khutbah Idul Adha 2026: Menguatkan Solidaritas Melalui Semangat Berbagi
3
Khutbah Idul Adha 2026: Gotong Royong dalam Pengelolaan Kurban
4
Khutbah Jumat: Menumbuhkan Empati dan Solidaritas Sosial Melalui KurbanĀ
5
Rapat Pleno PBNU: Munas dan Konbes Digelar 20-21 Juni 2026, Lokasi Diputuskan Menyusul
6
Khutbah Jumat: Meraih Pertolongan Allah dengan Membantu Sesama
Terkini
Lihat Semua