KH Zulfa Mustofa Dorong Santri Aktif Berorganisasi setelah Lulus dari Pesantren
NU Online · Ahad, 4 Januari 2026 | 18:00 WIB
KH Zulfa Mustofa dalam Haflah Akhirussanah XI dan Khatmil Quran di Pondok Pesantren Kauman Lasem. (Foto: Tangkapan layar Youtube Kauman Lasem Official)
Ayu Lestari
Kontributor
Rembang, NU Online
Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Zulfa Mustofa mendorong para santri agar tetap aktif berorganisasi setelah menyelesaikan pendidikan di pesantren.
Menurutnya, aktivitas organisasi menjadi bagian penting dalam mengamalkan ilmu dan membentuk tanggung jawab sosial santri di tengah masyarakat.
“Santri harus tetap ngaji di mana pun dan sampai kapan pun. Setelah lulus, tetaplah aktif berorganisasi, khususnya di badan otonom NU seperti IPNU, IPPNU, PMII, Ansor, Fatayat, Muslimat, dan Nahdlatul Ulama,” katanya.
Pesan tersebut disampaikan Kiai Zulfa dalam acara Haflah Akhirussanah ke-11 Pondok Pesantren Kauman Lasem yang dirangkai dengan haul para masyayikh serta khatmil Qur’an bagi santri dan santriwati penghafal 30 juz, pada Ahad (4/1/2026).
Dalam tausiyahnya, Kiai Zulfa mengulas jejak perjuangan para pendiri Nahdlatul Ulama, yakni KH Ma’shum Ahmad Lasem, KH Baidlowi Abdul Aziz, dan KH Kholil Masyhuri. Ia menilai ketiganya tidak hanya memiliki kedalaman ilmu syariat, tetapi juga pemahaman yang kuat dalam mengelola organisasi.
“Para ulama ini tidak hanya memahami fiqhus syariah, tetapi juga fiqhul jam’iyah,” ujar KH Zulfa.
Ia menjelaskan bahwa fiqhus syariah berkaitan dengan hukum-hukum syariat Islam, sementara fiqhul jam’iyah menyangkut pemahaman tata cara berorganisasi yang baik, tertib, dan bertanggung jawab.
Menurutnya, ulama ideal adalah sosok yang mampu memadukan keilmuan syariat dengan kemampuan berorganisasi. Kiai Zulfa menilai para pendiri NU telah memberikan teladan dalam hal tersebut.
“Beliau-beliau ini alim dalam urusan syariat, mumpuni dalam forum bahtsul masail, dan pada saat yang sama juga paham bagaimana mengelola organisasi,” katanya.
Kiai Zulfa kemudian menyinggung sosok KH Ma’shum Ahmad Lasem yang dikenal memiliki banyak murid dan karya keilmuan. Hal itu, menurutnya, menjadi bukti kealiman Kiai Ma’shum dalam bidang syariat sekaligus kapasitasnya dalam dunia organisasi ketika terlibat dalam pendirian NU.
Lebih lanjut, Kiai Zulfa menegaskan bahwa aktivitas organisasi tidak terbatas pada lingkungan NU semata, tetapi dapat diterapkan dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk sosial dan politik.
Baca Juga
Mengapa Perlu Berorganisasi NU?
Pentingnya murajaah
Pengasuh Pondok Pesantren API Tegalrejo Magelang KH Muhammad Yusuf Chudlori menekankan pentingnya murajaah bagi para santri penghafal Al-Qur’an.
“Rasulullah menyesuaikan jawaban tentang amal utama dengan siapa yang bertanya. Bagi anak muda, beliau menjawab al-halu wal murtahil—datang dan kembali—yang bermakna memiliki target jangka panjang dalam hidup,” jelasnya.
Menurutnya, capaian santri tidak boleh berhenti pada khatam dan hafal Al-Qur’an semata.
“Targetnya bukan hanya hafal, tapi bagaimana ilmu itu bermanfaat dan membawa keberkahan,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan agar santri tidak cepat berpuas diri setelah menghafal dan mengkhatamkan Al-Qur'an.
“Di akhir zaman, ada orang yang hafal Al-Qur’an tetapi tidak mendapat keberkahan karena menjadikannya sebagai ajang pamer. Al-Qur’an tahu siapa yang benar-benar belajar dan mengamalkannya,” tegasnya..
Lebih lanjut, Gus Yusuf menegaskan peran pesantren dalam membentuk karakter dan akhlak santri.
“Ilmu bisa diperoleh di mana saja, tetapi pembentukan akhlak secara intens hanya bisa dilakukan di pondok pesantren melalui keteladanan kiai dan para pengurus,” tuturnya.
Menjaga hafalan Al-Qur'an
Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen dalam sambutannya menyampaikan pesan kepada para khatimat dan wali santri agar senantiasa menjaga hafalan Al-Qur’an yang telah dimiliki.
“Alhamdulillah, saya bisa menyaksikan langsung para khatimat Kauman Lasem. Kehadiran saya juga dalam rangka menjalankan program Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, yakni pemberian bisyarah bagi para hafidz dan hafidzah yang telah memperoleh sanad 30 juz bil hifdzi,” ungkap Yasin.
Ia menjelaskan bahwa program tersebut merupakan bagian dari pembangunan spiritual masyarakat Jawa Tengah.
“Kami berharap keberkahan Al-Qur’an senantiasa menjaga Jawa Tengah. Meskipun APBD mengalami pengurangan, pemerintah tetap berupaya memperjuangkan program pembangunan yang bermanfaat bagi masyarakat,” ujarnya.
Yasin menegaskan bahwa Al-Qur’an adalah mukjizat terbesar Nabi Muhammad yang terus memberikan manfaat bagi para penjaganya.
“Al-Qur’an tetap eksis dan memberikan manfaat besar bagi para hafidz dan hafidzah. Karena itu, jangan sampai Al-Qur’an yang sudah dikhatamkan dibiarkan begitu saja,” paparnya.
Ia juga mengingatkan agar Al-Qur’an tidak hanya dibaca, tetapi dijadikan pedoman hidup.
Terpopuler
1
PBNU Tegaskan Aliansi yang Mengatasnamakan Angkatan Muda NU Bukan Bagian dari Organisasi NU
2
Ketum PBNU Respons Penetapan Eks Menag Yaqut Cholil Qoumas sebagai Tersangka Korupsi Kuota Haji
3
Khutbah Jumat: Rajab, Bulan Islah dan Perdamaian
4
Khutbah Jumat: Rezeki yang Halal Menjadi Penyebab Hidup Tenang
5
PWNU Aceh Dukung Pendataan Rumah Terdampak Banjir, Warga Diminta Melapor hingga 15 Januari
6
Khutbah Jumat: Media Sosial dan Ujian Kejujuran
Terkini
Lihat Semua