Jember, NU Online
Korupsi di Indonesia begitu mengerikan. ibarat penyakit kanker, korupsi sudah mencapai stadium empat. Jika tidak diobati, korupsi akan menjalar ke seluruh tubuh Indonesia, dan menggerogotinya hingga tak berdaya. Bangkrut.
Ā
Menurut salah seorang pengasuh Pondok Pesantren Mamba'ul Khoiriyatil Islamiyah (MHI), Bangsalsari, Kabupaten Jember Jawa Timur, Gus Mirhabun Nadir, untuk menuntaskan persoalan bangsa butuh kejujuran. Tidak hanya kejujuran dalan masalah harta (tidak korupsi) tapi juga kejujuran dalam banyak hal.
Ā
āKejujuran dalam masalah harta, kalau dalam ilmu tasawuf, itu termasuk strata yang paling rendah Seakan-akan orang yang tidak korupsi di Indonesia itu sudah hebat. Padahal dia termasuk yang paling rendah,ā ujar Gus Nadir, sapaan akrabnya, saat menjadi narasumber dalam Launching & Bedah Kitab BI HUBBIN NABI MUHAMMAD SHALLALAHU āALAIHI WASALLAM di Pesantren Raden Rahmat Sunan Ampel, Antirogo, Kecamatan Sumbersari, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Sabtu (2/11).
Ā
Doktor lulusan Unisma, Malang itu menambahkan, di dalam kitab Jamiāul Ushul fil Aulia karya Syekh Ahmad Annaqsabandi, terdapat maqola yang menyebut prilaku manusia terkait dengan kejujuran ada empat hal. Pertama, jujur dalam soal harta tapi tidak jujur dalam soal kelamin. Betul tidak korupsi, tapi masih gemar bermain perempuan.
Ā
āIni tidak bagus, karena siapapun yang menuruti hawa nafsu akhirnya bisa terdorong untuk melakukan korupsi,ā ucapnya.
Ā
Kedua jujur dalam masalah harta dan alat kelamin, tapi akhlaknya jelek. Misalnya, ngomong seenaknya, dan tidak bisa menjaga perasaan orang lain.
Ā
Ketiga, jujur dalam menjaga harta, kelamin, dan akhlaknya baik, tapi tapi hatinya jelek. Orang seperti ini, penampilannya boleh jadi bagus, tapi hatinya kerap memelihara dendam, dan memproduksi dengki, dan sebagainya.
Ā
āDia ngomognya bisa jadi sopan, tingkah terpuji tapi hatinya menyimpan bara dengki,ā ucapnya.
Ā
Kempat, jujur dalam menjaga harta, alat kelamin, akhlaknya baik, dan hatinya baik tapi agamanya jelek alias bodoh.
Ā
Namun dari semua itu, lanjut Gus Nadir, menurut kaca mata Syekh Ahmad Annaqsabandi bahwa yang paling tinggi stratanya adalah orang yang memiliki ilmu agama, dan merasa tenteram atas apa yang diberikan Allah kepdanya.
Ā
āSekarang pertayaannya adalah apakah kalau orang sudah mempunyai ilmu agama, dan merasa nyaman dan rela terhadap pemberian Allah, apakah masih mau korupsi?. Tidak,ā ungkapnya.
Ā
Pewarta: Aryudi AR
Editor: Ibnu Nawawi
Ā
Terpopuler
1
Diskusi Kabla Muktamar Ke-35 di Unusia: Pengendali NU Kian Anonim, Perlu Menjaga Jarak dari Intervensi Negara
2
Akui Dapat Banyak Kritik, Presiden Prabowo Heran MBG Disebut Pemborosan
3
Pendukung Spanyol Kibarkan Bendera Palestina Sepanjang Turnamen Piala Dunia 2026
4
Gempa 7,3 Magnitudo Guncang Meksiko, Tidak Ada Korban Maupun Kerusakan Langsung
5
Fachry Ali Ulas Muktamar Cipasung 1994 Jadi Perlawanan NU terhadap Intervensi Pemerintah
6
Lowongan Kerja Belum Ramah Difabel, Di Mana Letak Keadilannya?
Terkini
Lihat Semua