Tambang Koltan di Kongo Timur Runtuh, 227 Orang Tewas Tertimbun
NU Online · Senin, 2 Februari 2026 | 13:00 WIB
Afrilia Tristara
Kontributor
Jakarta, NU Online
Lebih dari 200 orang meninggal dunia akibat tertimpa reruntuhan tanah di Tambang koltan (kolumbit dan tantalit) di Kota Rubaya, Wilayah Masisi, Kivu Utara, Republik Demokratik Kongo pada Rabu (28/1/2026).
Jumlah korban meninggal dunia ini dikonfirmasi oleh Lumumba Kambere Muyisa, pejabat setempat kepada Reuters pada hari Jumat (30/1/2026). Sementara itu, seorang pejabat secara anonim menyebut korban meninggal dunia akibat runtuhnya tambang telah mencapai 227 orang.
"Kita sedang berada di musim hujan. Tanahnya rapuh. Tanah itulah yang ambruk saat para korban berada di dalam lubang," terang Muyisa.
Tambang Rubaya merupakan salah satu penghasil koltan terbesar dunia. Pada tahun 2023, tambang ini memproduksi sekira 40 persen kebutuhan koltan global dengan lebih dari 15 persen pasokan tantalum dunia berasal dari Rubaya.
Reuters melaporkan penduduk setempat menggali secara manual dengan upah beberapa dolar per hari di lokasi tambang yang telah berada di bawah kendali kelompok pemberontak AFC/M23 sejak tahun 2024.
Melansir NPR. Seorang mantan penambang di lokasi tersebut mengatakan kepada Associated Press bahwa insiden tanah longsor telah berulang kali terjadi karena terowongan digali dengan tangan, dibangun dengan buruk, dan dibiarkan tanpa perawatan.
"Orang-orang menggali di mana-mana, tanpa kendali atau tindakan keselamatan. Di satu lubang galian, bisa ada sebanyak 500 penambang, dan karena terowongan-terowongan itu berjalan sejajar, satu runtuhan dapat memengaruhi banyak lubang galian sekaligus," kata Clovis Mafare.
Apa itu mineral koltan?
Secara kimia, tantalit mirip dengan kolumbit. Keduanya sering dikelompokkan bersama sebagai mineral semi-tunggal yang disebut koltan (coltan, "columbite-tantalite") dalam banyak panduan mineral.
Kelompok mineral hitam tantalit merupakan sumber utama unsur kimia tantalum sebuah logam tahan korosi (panas dan asam) yang sangat dibutuhkan oleh produsen telepon seluler, komputer, komponen kedirgantaraan, dan turbin gas.
Kendali M23 atas sumber daya di Wilayah Kivu Utara dan Selatan
Geopolitical Monitor menulis pada Januari 2025, kelompok bersenjata M23 menyerang dengan kekuatan penuh dan menaklukkan Goma, ibu kota Kivu Utara.
Pada Februari, wilayah kekuasaannya meluas setelah merebut Bukavu, ibu kota Kivu Selatan, yang semakin memperkuat kendali kelompok M23 atas sumber daya dan jalur perdagangan utama. Konflik kemudian meningkat lebih lanjut di wilayah Masisi (lokasi penambangan koltan di Rubaya) dan Lubero.
Meskipun Republik Demokratik Kongo memiliki kekayaan mineral yang luar biasa, lebih dari 70 persen penduduk Kongo hidup dengan kurang dari 2,15 Dolar per hari.
Terpopuler
1
PBNU Tetapkan Panitia Munas-Konbes dan Muktamar Ke-35 NU
2
Rentetan Pembubaran Nobar Film 'Pesta Babi' Picu Kritik dan Perdebatan Publik
3
Kunuzur Rohman Karya Katib Syuriyah PBNU Gus Awis Menyingkap Pesan Al-Qur’an untuk Kehidupan Modern
4
Jamaah Haji Aceh Terima Uang Baitul Asyi Rp9,2 Juta, Wujud Warisan Ulama yang Terus Hidup
5
Soroti Penilaian Juri LCC di Kalbar, KPAI: Mental dan Kepentingan Anak Harus Diutamakan dalam Kompetisi
6
Rupiah Tembus Rp17.500 per Dolar AS, DPR Akan Panggil BI dan Menkeu
Terkini
Lihat Semua