Kasus ISPA di Jakarta Hampir Tembus 2 Juta, Polusi Udara Jadi Faktor Dominan
NU Online · Senin, 27 Oktober 2025 | 11:00 WIB
Jakarta, NU Online
Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta mencatat sebanyak 1.966.308 kasus Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) di wilayah ibu kota. Lonjakan kasus tersebut terlihat sejak bulan Juli, dan saat ini ISPA tercatat sebagai penyakit dengan terbanyak di puskesmas.
Kepala Dinkes DKI Jakarta, Ani Ruspitawati menjelaskan bahwa penularan ISPA berlangsung cepat karena dapat menyebar melalui percikan droplet dan partikel aerosol di udara.
"Total kasus ISPA merupakan penyakit dengan jumlah kunjungan tertinggi di Puskesmas karena penularannya dapat terjadi dengan sangat mudah melalui percikan droplet maupun partikel aerosol di udara," kata Ani diberitakan NU Online Jakarta.
Ani menjelaskan bahwa tingginya tingkat polusi udara serta fenomena musim kemarau basah menjadi faktor dominan yang memicu peningkatan kasus ISPA di Jakarta.
Kedua kondisi tersebut membuat daya tahan tubuh masyarakat menurun dan memperbanyak penyebaran agen biologis penyebab infeksi pernapasan.
Ia menambahkan, gejala ISPA umumnya berupa batuk, pilek, nyeri tenggorokan, dan demam, disertai gejala lain seperti hidung tersumbat, sakit kepala, nyeri otot, kelelahan, bersin, dan suara serak.
"Pada kasus yang lebih berat, penderita dapat mengalami sesak napas yang memerlukan penanganan medis segera," imbuhnya.
Meski demikian, Ani menegaskan bahwa tidak ada lonjakan signifikan kasus ISPA di Jakarta saat ini. Menurutnya, angka yang tercatat masih berada dalam batas kewaspadaan dan dapat dikendalikan oleh Dinkes DKI bersama seluruh fasilitas kesehatan (faskes) di ibu kota.
"Sejauh ini untuk kasus ISPA masih sesuai dengan polanya. Jadi ketika memang iklim, cuaca cenderung seperti sekarang, kasusnya biasanya agak naik, tapi sejauh ini enggak sangat signifikan," ucap Ani.
Ani menambahkan, pemantauan terhadap kasus ISPA dilakukan secara rutin melalui jaringan layanan kesehatan di berbagai wilayah. Saat ini terdapat 292 puskesmas pembantu (pustu) dan 44 puskesmas utama yang aktif melakukan monitoring.
"Di puskesmas kecamatan pun sudah 24 jam sehingga ketika warga memang merasakan gejala, silakan berobat ke puskesmas, ke faskes, sehingga bisa dilakukan deteksi dini terhadap penyakit apa pun," pungkasnya.
Terpopuler
1
PBNU Terima Kasih kepada Ploso, Minta Doa Kiai Huda untuk Munas-Konbes 2026
2
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Gubernur BI Siapkan Dua Langkah Penguatan
3
Imbas Rupiah Melemah, Menkeu Sebut Pedagang Tahu dan Tempe Mulai Tertekan
4
Kasus Suap Izin Tinggal WNA, Citra Indonesia Tercoreng di Mata Dunia
5
NU Abad Kedua: Masihkah Kita Berani Berpikir Melampaui Diri Sendiri?
6
Kiai Azaim Harap Kekerasan di Pesantren Masuk Materi Munas-Konbes hingga Muktamar ke-35 NU
Terkini
Lihat Semua