Akibat Konten Pendek, Psikolog: Remaja Mudah Bosan dan Tak Sabaran
NU Online · Kamis, 27 November 2025 | 08:00 WIB
Semarang, NU Online Jateng -
NU Online Institute bekerja sama dengan Yayasan Darussalam Mranggen Demak dan Kementerian Agama RI menggelar Halaqah Revitalisasi Manajemen Pesantren bertema “Transformasi Pesantren Nusantara: Penguatan Kelembagaan, Mutu Pendidikan, dan Kesejahteraan Santri” di Hotel Pandanaran Semarang, Rabu (25/11/2025).
Dalam halaqah tersebut, Psikolog Bianglala Andriadewi memaparkan tantangan besar yang dihadapi generasi Z, terutama terkait ketahanan mental, kemampuan fokus, dan kedisiplinan belajar. Menurutnya, derasnya konsumsi konten pendek membuat banyak remaja mudah jenuh dan kesulitan bertahan pada proses yang membutuhkan kesabaran.
“Anak-anak sekarang cenderung cepat bosan dan kurang tahan pada proses yang membutuhkan kesabaran. Ketika harus sowan kiai atau belajar mendalam, mereka merasa ribet. Ini fenomena yang banyak saya temui,” terangnya.
Lala, demikian sapaan Bianglala Andriadewi, mencontohkan banyak remaja yang lebih memilih bertanya pada mesin pencarian atau kecerdasan buatan daripada berguru langsung kepada kiai.
Kemudahan akses informasi digital, kata Lala, membuat sebagian anak kehilangan sensitivitas terhadap pentingnya proses belajar yang berjenjang.
Lebih jauh, ia menegaskan bahwa paparan berlebihan terhadap video pendek turut meningkatkan kecemasan anak-anak muda terhadap masa depan.
“Banyak klien remaja yang masih SMA atau kuliah tetapi sudah merasa masa depan itu menakutkan, seperti kiamat. Ini dipengaruhi derasnya konten yang mereka konsumsi,” katanya.
Pendidikan Pesantren Mengajarkan Ketahanan dan Komitmen
Menurut Lala, sistem pendidikan pesantren justru memiliki keunggulan dalam membentuk ketahanan mental (resilience). Tradisi ngaji yang membutuhkan kesabaran adalah bagian dari proses pendidikan yang penting, bukan sesuatu yang harus selalu dibuat menyenangkan.
“Belajar itu tidak selalu enak, dan itu perlu disampaikan. Ada proses yang harus dilalui. Yang ingin kita tanamkan adalah komitmen, bukan sekadar semangat yang sifatnya emosional,” ucapnya.
Ia mengingatkan bahwa bagian otak yang berfungsi mengontrol rasionalitas dan pengambilan keputusan jangka panjang baru berkembang sempurna pada usia sekitar 25 hingga 30 tahun. Karena itu, remaja membutuhkan pendampingan intensif dari musyrif-musyrifah agar tidak dikuasai emosi.
Selengkapnya klik di sini.
Terpopuler
1
PBNU Tegaskan Aliansi yang Mengatasnamakan Angkatan Muda NU Bukan Bagian dari Organisasi NU
2
Ketum PBNU Respons Penetapan Eks Menag Yaqut Cholil Qoumas sebagai Tersangka Korupsi Kuota Haji
3
Khutbah Jumat: Rajab, Bulan Islah dan Perdamaian
4
Khutbah Jumat: Rezeki yang Halal Menjadi Penyebab Hidup Tenang
5
PWNU Aceh Dukung Pendataan Rumah Terdampak Banjir, Warga Diminta Melapor hingga 15 Januari
6
Khutbah Jumat: Media Sosial dan Ujian Kejujuran
Terkini
Lihat Semua