Kesehatan

Obat Hati untuk Ruminasi dan Depresi ala Salahuddin Al-Ayyubi

NU Online  ·  Sabtu, 10 Januari 2026 | 22:00 WIB

Obat Hati untuk Ruminasi dan Depresi ala Salahuddin Al-Ayyubi

Obat Hati untuk Ruminasi dan Depresi ala Salahuddin Al-Ayyubi (Freepik)

Merenungi kesedihan atau kekecewaan di masa lalu adalah hal yang wajar. Biasanya, perasaan ini akan memudar seiring waktu. Namun, jika pikiran terus terjebak dalam kenangan sedih atau penyesalan, kita bisa mengalami ruminasi, yaitu kondisi pikiran terus-menerus memutar hal-hal negatif. Jika dibiarkan, ruminasi dapat memicu suasana hati yang buruk dan bahkan depresi.

 

Orang yang mampu mengelola ruminasi dengan baik biasanya dikenal memiliki ketangguhan mental, karena mereka bisa lepas dari lingkaran pikiran negatif. Sayangnya, pada sebagian orang, ruminasi bisa bertahan minggu-minggu, bahkan bertahun-tahun, terutama bagi mereka dengan temperamen melankolis yang lebih sensitif terhadap kesedihan atau kekecewaan.

 

Beberapa orang mencoba “mengobati” kesedihannya dengan mendengarkan lagu-lagu sedih. Tapi, penelitian di Universitas Gadjah Mada (UGM) menunjukkan bahwa bagi orang dengan kecenderungan ruminasi dan depresi tinggi, lagu sedih tidak selalu membantu dan kadang justru memperparah suasana hati.


Lebih jauh, orang dengan temperamen melankolis cenderung lebih sensitif terhadap kesedihan atau kekecewaan. Namun, jika mereka belajar menetralisir emosi negatif, mereka tetap bisa sehat secara mental dan berprestasi seperti orang pada umumnya. 


Lantas, adakah tokoh Islam yang dapat mengobati hatinya dari kemungkinan ruminasi dan depresi pada temperamen melankolis? Bagaimana perilaku islami untuk mengantisipasi agar tidak mengalami ruminasi dan depresi? Apakah ada pengelolaan holistik untuk kesehatan mental yang dapat mencegah ruminasi dan depresi?


Sultan Salahuddin: Contoh Pengelolaan Hati dan Mental Islami

 

Ternyata, dalam sejarah Islam, ada tokoh yang dapat menjadi contoh pengelolaan hati dan pikiran ketika menghadapi tekanan berat: Salahuddin Al-Ayyubi. Ia adalah panglima Umat Islam legendaris pada masa Perang Salib yang dikenal bijaksana, tegas, sekaligus memiliki kepribadian melankolis. Meski sering menghadapi peristiwa menyedihkan, Salahuddin tetap mampu memimpin pasukan dengan hebat.


Dalam bukunya The Life of Saladin, diceritakan bahwa Salahuddin pernah sangat terganggu oleh ulah Reginald of Sidon, seorang penguasa Kota Tirus, yang menipu dan mempermainkannya saat gencatan senjata. 

 

Taktik mengulur waktu dan menipu dengan pura-pura tertarik untuk menanyakan masalah agama selama gencatan senjata yang telah disepakati merupakan bentuk pengkhianatan penguasa Kota Tirus itu dengan cara yang menyakitkan hati sehingga berujung pada kekecewaan dan kesedihan Sultan Salahuddin.

 


Perang Salib yang menguras emosi dan mengguncangkan mental pasukan muslimin dihadapi oleh Sultan Salahuddin dengan kepala dingin. Meskipun tipu daya musuh sering membuat Salahuddin kecewa, sedih, dan tertekan, tetapi ada hal unik yang selalu diterapkannya untuk menjaga daya tahan mental di tengah suasana perang jangka panjang. Karakter memperlakukan musuh dengan santun menjadi fakta sejarah yang tercatat dengan tinta emas sebagai kepribadian Sultan Salahuddin.


Sultan Salahuddin juga tidak mengeksekusi mati Reginald of Sidon yang telah menipu dan mempermainkannya. Ketika berhasil mengalahkannya, Sultan Salahuddin memperlakukan musuhnya itu dengan baik dan hanya memborgolnya menggunakan rantai besi sebagai penghormatan atas intelektualitas Reginald of Sidon. 


Kepribadian Sultan ini bersesuaian dengan anjuran Al-Qur’an dalam Surat Ali Imran ayat ke-134.

 


الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّۤاءِ وَالضَّرَّۤاءِ وَالْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ

 

Artinya:  (yaitu) orang-orang yang selalu berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang mengendalikan kemurkaannya, dan orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.

 

Di samping sifat melankolisnya, Sultan Salahuddin ternyata mampu menjaga keseimbangan emosinya dengan menahan amarah sekaligus memaafkan orang lain. Upaya ini berjalan seiring dengan perilaku sehari-hari yang seimbang dan kebiasaan baik sebagai seorang Muslim yang taat. Sikap ini membantu beliau tetap tenang, bahkan di tengah tekanan dan kekecewaan berat.

 

Selain menahan amarah dan memaafkan, Salahuddin juga memperhatikan pola hidup dan pola makan sebagai bagian dari strategi menjaga keseimbangan emosinya. Ketika sedang menghadapi penderitaan mental atau kesedihan, beliau memilih makanan tertentu yang dapat menenangkan hati dan membantu menyeimbangkan sifat melankolisnya.

 

Sejarawan Arab dan Latin yang hidup sezaman dengannya menggambarkan profil Salahuddin sebagai berikut:


“Tampaknya Salahuddin adalah pria kurus dengan tinggi sedang, dengan kulit gelap, rambut, mata dan janggut hitam, dan ekspresi yang melankolis. Dia memiliki daya tahan yang luar biasa dan selera makanan yang sederhana. Dia menyukai buah segar dan serbat (sejenis minuman yang terbuat dari buah-buahan), minum air jelai (barley) saat dia menderita, dan menikmati nasi rebus. 


Ketika tidak berada di lapangan, dia menyukai suasana malam yang dikelilingi oleh para cendekiawan, sahabat, dan penyair, berdiskusi tentang aqidah dan hukum atau mendengarkan bacaan Alquran, yang jika disampaikan dengan baik dapat membuatnya menangis.” (Antar, Saladin Story of A Hero, (Saudi : Saudi Aramco World, 1970): halaman 26-31)  


 

Talbinah dan Pola Makan Sehat untuk Hati yang Tenang

 

Sultan Salahuddin mengonsumsi bahan makanan tertentu saat kondisi mentalnya terusik oleh kekecewaan dan kesedihan. Salah satu bahan pangan yang disebutkan dalam kisah di atas dan dapat berefek memperbaiki penderitaan hati adalah talbinah. 


Talbinah adalah sejenis bubur terbuat dari tepung biji-bijian yang masih mengandung sekam dan kulit ari. Hidangan ini sering dicampur dengan kuah dan daging sehingga menjadi tsarid yang dihidangkan untuk keluarga orang yang berduka cita karena ditinggal meninggal dunia (Al-Hafiz Adz-Dzahabi, At-Thibbun Nabawi, [Beirut, Dar Ihyail Ulum: 1990], halaman 240).


Penelitian tentang talbinah menghasilkan fakta bahwa Talbinah sangat potensial untuk mengurangi depresi dan meningkatkan kesehatan mental. Secara rinci, konsumsi talbinah dapat mengurangi tingkat kecemasan, stress, dan gangguan perasaan (Badrasawi dkk, 2013, Effect of Talbinah Food Consumption on Depressive Symptoms Among Elderly Individuals in Long Term Care Facilites, Randomized Clinical Trial, Clinical Interventions in Aging 2013:8, halaman 279-285). 


Talbinah di Timur Tengah biasanya terbuat dari Barley yang masih kasar (whole grain) sehingga mengandung karbohidrat kompleks dan dimasak bersama dengan madu agar berasa manis atau dicampur dengan kaldu dan daging untuk menghasilkan rasa gurih.  


Karbohidrat kompleks, seperti Tabinah, merupakan makanan yang dianjurkan untuk dikonsumsi pada keadaan depresi karena mengandung serotonin, suatu zat yang dapat memperbaiki mood (Bikha dan Saville, 2014, Healing with Tibb, Ibn Sina Institute of Tibb, Afrika Selatan: halaman 50). 

 

Apabila di Indonesia tidak dijumpai jenis biji-bijian berupa Barley, maka beras yang masih mengandung sekam seperti beras merah maupun biji jelai atau jali (Pearl Barley) dapat digunakan sebagai alternatif diet untuk mengatasi depresi. 

 

Sultan Salahuddin juga dikisahkan suka mengonsumsi nasi rebus yang tentunya berasal dari beras. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beras merah seperti halnya whole grain bisa memperbaiki kondisi mood dan depresi ke arah yang lebih baik (Ross dkk, 2023, The Relationship between Whole-Grain Intake and Measures of Cognitive Decline, Mood, and Anxiety-A Systematic Review, an International Review Journal: halaman 657). 

 


Ajaran Islam juga merekomendasikan agar seseorang yang sedih mengalihkan pikirannya dengan kegiatan yang membuatnya sibuk. Beberapa kegiatan yang dilakukan oleh Sultan Salahuddin untuk menyibukkan diri adalah mendiskusikan hal-hal yang bermanfaat untuk umat seperti membahas masalah hukum atau aqidah. Hal ini tentu dimungkinkan bagi orang yang memiliki daya pikir dan kapasitas untuk itu.

 


Tentang rasa sedih dalam konteks ruminasi, perasaan ini bisa berkaitan dengan keadaan yang terjadi sekarang. Ruminasi juga berkaitan dengan kecemasan dan stress terhadap kemungkinan yang dihadapi di masa yang akan datang. Bagian otak yang terkena pengaruh pada kondisi ruminasi erat kaitannya dengan bagian otak yang merespon kecemasan.


Jadi orang yang menderita banyak kesedihan, cemas, maupun stress hendaklah menyibukkan dirinya dengan hal-hal yang bisa membuatnya lupa akan kesedihan dirinya sendiri. Semua kondisi ini sering dialami oleh Sultan Salahuddin ketika memimpin peperangan. Mendengarkan bacaan Al-Qur’an dapat menjadi salah satu penghibur dari kesedihan maupun kecemasan yang dilakukan oleh Sultan Salahuddin.

 


Penelitian sistematik review dan meta analisis menunjukkan bahwa mendengar pembacaan Al-Qur’an memberikan dampak yang signifikan terhadap penanganan berbagai bentuk kecemasan, depresi, dan stress (Al-Razaq dkk, 2020, The effectiveness of listening to the Holy Quran toimprove mental disorders and psychological well-being: Systematic review and meta-analysis, Preprint Research Square, halaman 1). 

 


Tidak ada aktivitas Sultan Salahuddin ketika mengalami penderitaan mental yang justru mengarah pada berlarut-larutnya kesedihan.  Pola hidup yang seimbang, pendekatan islami, dan pengelolaan emosi yang Beliau contohkan telah meletakkan landasan kuat untuk pencegahan ruminasi maupun depresi secara holistik. 


Selayaknya kaum muslimin juga memberikan perhatian terhadap kesehatan mental dengan berbagai pendekatan islami agar terhindar dari ruminasi dan depresi yang membahayakan. Perilaku yang penuh kesantunan dan keseimbangan pola hidup qurani menjadi kunci dalam melawan kesedihan, kecemasan, serta berbagai gangguan mental lainnya. Wallahu a’lam bis shawab.

 

-----------
Yuhansyah Nurfauzi, apoteker dan peneliti farmasi

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang