Nasional

Aksi Kamisan Ke-905, Aktivis Ungkap Teror Buzzer hingga Ancaman terhadap Perempuan

NU Online  ·  Kamis, 23 April 2026 | 21:30 WIB

Aksi Kamisan Ke-905, Aktivis Ungkap Teror Buzzer hingga Ancaman terhadap Perempuan

Kalis Mardiasih saat berorasi dalam Aksi Kamisan Ke-905 di depan Istana Negara, Jakarta, pada Kamis (23/4/2026). (Foto: NU Online/Fathur)

Jakarta, NU Online

Penulis dan aktivis Kalis Mardiasih mengungkapkan pengalaman menghadapi teror buzzer serta ancaman terhadap perempuan dalam orasi pada Aksi Kamisan Ke-905 di depan Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (23/4/2026).


Kalis menilai, pola serangan digital terhadap masyarakat sipil saat ini jauh lebih masif dan berlangsung lebih lama dibandingkan sebelumnya. Kalis menyebut, serangan buzzer yang dialaminya tidak hanya terjadi dalam waktu singkat, tetapi berlanjut hingga berbulan-bulan.


Ia membandingkan situasi tersebut dengan periode pemerintahan sebelumnya, ketika serangan serupa cenderung mereda dalam hitungan hari.


"Kalau di pemerintahan yang sebelumnya itu paling teror akan berakhir tiga hari, empat hari, itu pasti akan reda. Tetapi di kasus yang sekarang, itu beda. Jadi ternyata buzzer ini long run, sudah hampir dua bulan mereka masih ada," ujarnya di hadapan massa Aksi Kamisan.


Menurut Kalis, dua pekan pertama merupakan fase paling intens. Pada periode itu, puluhan kreator konten di berbagai platform digital memproduksi narasi yang menyerangnya, baik melalui unggahan, komentar, maupun pesan langsung di media sosial. Tekanan tersebut bahkan meluas hingga menyasar pihak-pihak yang bekerja sama dengannya.


Meski menghadapi tekanan, Kalis menegaskan bahwa kritik dari masyarakat sipil merupakan bentuk kepedulian terhadap negara.


"Yang dipasang untuk ngerjain masyarakat sipil, yang sebenarnya cuma mau menyampaikan kritik, cuma mau mencintai negara ini. Ketika mengkritik, itu adalah tanda sayang kepada negara. Tapi malah dibalas dengan state terrorism, serangan menakut-nakutin dalam bentuk buzzer di digital," tegasnya.


Rasa takut dan keberanian bertahan

Kalis juga menyinggung peristiwa kekerasan yang menimpa aktivis KontraS, Andrie Yunus, yang mengalami teror penyiraman air keras. Ia mengakui bahwa kejadian tersebut menimbulkan rasa takut, tetapi tidak boleh menghentikan perjuangan.


"Kita gak bisa bohong bahwa kita takut. Tetapi walaupun takut, kita harus tetap bisa mengelola rasa takut kita agar orang lain tidak takut," katanya, mengutip pesan almarhum Munir Said Thalib.


Ia turut merefleksikan posisinya sebagai perempuan dan ibu yang rentan terhadap ancaman ketika bersikap kritis terhadap negara.


Perempuan dan bayang-bayang kekerasan

Kalis mengaitkan situasi saat ini dengan sejarah kekerasan terhadap perempuan, khususnya tragedi 1998. Menurutnya, dalam praktik kekuasaan yang represif, tubuh perempuan kerap dijadikan alat untuk menebar ketakutan.


"Di rezim militerisme, perempuan menjadi alat kontrol negara untuk menundukkan dan menebar ketakutan. Alat utamanya justru tubuh perempuan," ujarnya.


Ia juga menyoroti penyangkalan Fadli Zon terhadap peristiwa pemerkosaan massal 1998 sebagai persoalan serius yang berkaitan dengan keamanan perempuan hingga saat ini.


"Kita habis Kartinian, tapi kita tidak aman. Karena sejarahnya sudah pernah ada (Tahun 1998)," pungkasnya.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang