Alissa Wahid Sebut Tragedi Siswa SD di NTT Jadi Alarm Pentingnya Pengasuhan Kolektif
NU Online · Jumat, 6 Februari 2026 | 14:00 WIB
Suci Amaliyah
Kontributor
Jakarta, NU Online
Tragedi meninggalnya seorang siswa sekolah dasar berinisial YBR (10) di Nusa Tenggara Timur menjadi alarm keras tentang pentingnya pengasuhan kolektif atau community parenting dalam menjaga kesehatan mental anak.
Psikolog keluarga dan anak, Alissa Qotrunnada Munawaroh Wahid menilai, beban psikologis yang menumpuk pada anak tidak bisa sepenuhnya diserahkan kepada keluarga inti, tetapi memerlukan dukungan lingkungan sekitar serta kebijakan negara yang berpihak pada perlindungan anak.
Ia menyebut, kondisi kemiskinan yang dialami keluarga YBR berpotensi memperberat tekanan emosional anak. Terlebih, ia tumbuh tanpa figur ayah dan harus tinggal jauh dari ibunya yang merupakan orang tua tunggal.
"Dia harus coping bahwa dia tidak punya ayah yang ada di dekat dia, jadi figur ayah atau figur laki-laki dewasa itu mungkin tidak ada," kata Alissa dalam program Rosi di Kompas TV, Jumat (6/2/2026).
Menurut Alissa, situasi tinggal bersama nenek sementara sang ibu berada di tempat lain dapat memunculkan perasaan kesepian, bahkan dorongan untuk tidak membebani orang tua. Keterbatasan ekonomi juga bisa membuat harapan anak terasa sulit dicapai, termasuk dalam memenuhi kebutuhan sekolah.
"Itu jadi ada beban psikologisnya. Dengan kondisi kemiskinan, apa yang dia harapkan atau inginkan lebih sulit dicapai, misalnya soal bekal sekolah tentu sangat berbeda," ujar Ketua PBNU itu.
Alissa juga menyoroti pentingnya kualitas relasi antara orang tua dan anak. Tekanan hidup yang berat, katanya, dapat membuat orang tua tanpa sadar menjadi lebih emosional sehingga respons terhadap kebutuhan anak tidak selalu optimal.
"Bayangkan anak ini mendapatkan beban psikologis yang terlalu bertumpuk sehingga meledak pada satu titik seperti ini," kata Alissa.
Ia mengusulkan perlunya menghidupkan kembali prinsip community parenting, yakni kepedulian bersama dalam lingkungan tempat tinggal untuk saling menjaga dan memahami kondisi keluarga sekitar.
"Beban kemiskinan seperti ini tidak kemudian diemban secara personal oleh sang ibu. Itu yang bisa menjadi introspeksi kita bersama," ungkapnya.
Alissa menjelaskan, usia sekitar 10 tahun merupakan masa pra-remaja, fase peralihan ketika hormon mulai berubah dan pergolakan emosi meningkat. Pada tahap ini, anak kerap mengalami kegamangan yang lebih besar dibanding masa sebelumnya.
"Kita menyebut ini sebagai periode pra-remaja, pergolakan emosinya lebih berat," jelasnya.
Ia juga mengingatkan adanya pergeseran nilai dalam masyarakat serta derasnya arus informasi yang tidak selalu diimbangi pendampingan. Karena itu, komunitas perlu hadir sebagai sistem pendukung yang aman bagi anak.
"Kalau dalam komunitas ada orang-orang yang menjalankan peran pendamping dan dipercaya muridnya, anak tidak akan segan bercerita kepada guru, paman, guru ngaji, atau pemuka agama," katanya.
Community parenting masih jadi tantangan
Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Margaret Aliyatul Maimunah mengatakan, praktik community parenting hingga kini masih menjadi tantangan, bahkan pada keluarga yang tidak berada dalam kondisi kemiskinan ekstrem.
"Anak-anak dalam keluarga yang utuh saja masih banyak mengalami pengasuhan yang tidak berkualitas, apalagi dalam kondisi berlapis yang berat," ujarnya.
Margaret menegaskan bahwa pengasuhan berkualitas merupakan hak setiap anak. Namun, menurutnya, tidak bijak jika tanggung jawab tersebut sepenuhnya dibebankan kepada orang tua tanpa mempertimbangkan kondisi ekonomi dan sosial yang mereka hadapi.
"Di sini butuh intervensi berupa kebijakan pemerintah untuk mendorong pengasuhan berkualitas, karena tidak semua masyarakat paham tentang hal itu," katanya.
Ia menambahkan, sebagian orang tua masih menerapkan pola asuh lama yang tidak lagi relevan, bahkan berpotensi bertentangan dengan aturan, seperti penggunaan kekerasan. Karena itu, pemerintah perlu memastikan adanya edukasi parenting yang berkelanjutan.
Selain orang tua, dukungan juga perlu diperkuat di lingkungan terdekat anak, termasuk satuan pendidikan. Guru, kata Margaret, tidak bisa hanya berfokus pada proses belajar-mengajar, tetapi juga perlu peka terhadap kondisi psikologis siswa.
"Dalam kondisi keterbatasan, dibutuhkan komunitas untuk saling menjaga. Itu salah satu cara mengatasinya,” tuturnya.
Terpopuler
1
Pengakuan Korban Pelecehan Gus Idris, Berkedok Syuting Konten Sumpah Pocong
2
Khutbah Jumat: Mempererat Tali Persaudaraan Menjelang Bulan Ramadhan
3
Khutbah Jumat: Menyambut Ramadhan dengan Saling Memaafkan
4
6 Puasa yang Boleh Dilakukan Setelah Nisfu Sya'ban
5
Khutbah Jumat: Menyambut Ramadhan dengan Meningkatkan Kepedulian Sosial
6
Kasus Anak SD Bunuh Diri di Ngada, Kemiskinan Jadi Faktor Risiko, Negara Diminta Hadir
Terkini
Lihat Semua