Nasional

Cegah Liburan Pasif, Rumah Belajar Ilalang Hadirkan Aktivitas Edukatif Ramah Anak

NU Online  ·  Jumat, 19 Desember 2025 | 17:00 WIB

Cegah Liburan Pasif, Rumah Belajar Ilalang Hadirkan Aktivitas Edukatif Ramah Anak

Ilustrasi liburan sekolah anak. (Foto: Freepik)

Jepara, NU Online

Masa libur sekolah kerap menjadi waktu yang dinantikan anak-anak. Di sisi lain, orang tua juga berupaya memanfaatkan momen tersebut untuk lebih mendampingi buah hati. Situasi ini mendorong perlunya pengisian liburan dengan kegiatan yang tidak bersifat pasif, melainkan kreatif dan edukatif.


Pendiri Rumah Belajar Ilalang Jepara, Den Hasan, menilai libur sekolah merupakan peluang untuk menjaga sekaligus meningkatkan daya kognitif anak melalui aktivitas literasi yang menyenangkan. Menurutnya, liburan panjang tidak cukup hanya diisi dengan membaca buku, tetapi juga perlu melibatkan anak secara aktif dalam berbagai kegiatan kreatif.


“Kegiatan yang paling sering dilakukan antara lain membaca bersama (read aloud), kelas menulis dan menggambar cerita, mendongeng, bermain peran berbasis cerita rakyat, hingga aktivitas berbasis alam seperti jelajah kampung, membaca lanskap sungai, dan pengamatan lingkungan sekitar,” ujar Den Hasan kepada NU Online, Jumat (19/12/2025).


Selain itu, Den Hasan bersama anak-anak juga membuat portofolio sederhana berupa catatan, gambar, atau karya visual yang merekam pengalaman mereka selama masa liburan. Baginya, daya tarik kegiatan edukatif terletak pada suasana yang ramah anak dan tidak kaku.


“Anak-anak merasa datang untuk bermain, bukan belajar dalam arti sempit. Pendekatan berbasis minat, kebebasan berekspresi, serta kegiatan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari seperti cerita kampung dan alam sekitar menjadi kunci,” imbuhnya.


Ia menambahkan, peran relawan dan fasilitator juga sangat penting sebagai teman belajar anak agar suasana kegiatan tetap menyenangkan dan tidak menekan.


Terkait penggunaan gawai, Den Hasan menegaskan bahwa Rumah Belajar Ilalang tidak melarang anak-anak menggunakan handphone secara frontal. Namun, pihaknya berupaya meminimalisasi penggunaan gawai dengan menawarkan alternatif kegiatan yang lebih menarik.


“Strateginya dengan memperbanyak aktivitas berbasis pengalaman langsung (hands-on activity), seperti membuat buku cerita sendiri, bermain permainan tradisional, teater kecil, hingga lokakarya seni dari bahan alam,” tuturnya.


Pendekatan tersebut bertujuan agar anak tetap aktif bergerak, berdiskusi, dan berkreasi, sehingga perhatian mereka secara alami beralih dari layar gawai ke interaksi sosial dan eksplorasi lingkungan nyata.


Selain kegiatan harian, Rumah Belajar Ilalang juga memiliki sejumlah program unggulan, antara lain kelas cipta karya anak, Ilalang Fantasia, serta literasi ekologi dan budaya lokal. Program-program tersebut dirancang berbasis literasi lintas disiplin dengan menempatkan anak sebagai subjek aktif, bukan sekadar penerima materi.


“Literasi bagi anak-anak sangat penting sebagai fondasi untuk membentuk cara berpikir kritis, empati, dan kesadaran sosial sejak usia dini hingga dewasa awal,” jelas Den Hasan.


Ia menegaskan bahwa membaca tidak hanya berkaitan dengan kemampuan memahami teks, tetapi juga memahami diri, lingkungan, dan realitas sosial. Budaya literasi, menurutnya, membantu anak menemukan minat dan bakat, memperluas imajinasi, serta membangun daya tahan berpikir di tengah arus informasi digital yang serba cepat.


“Literasi yang kuat akan melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga peduli serta berakar pada nilai-nilai kemanusiaan dan kelestarian lingkungan,” pungkasnya.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang