Dayah Raudhatul Ma’arif Pante Lhong Masih Terkubur Lumpur
NU Online · Kamis, 8 Januari 2026 | 09:00 WIB
Helmi Abu Bakar
Kontributor
Bireuen, NU Online
Empat puluh hari telah berlalu sejak banjir bandang menerjang kawasan Pante Lhong, Kecamatan Peusangan, Kabupaten Bireuen, Aceh. Namun waktu seakan enggan bergerak di sini. Bau tanah basah dan lumpur masih pekat, menetap di udara, di dinding rumah warga, dan terutama di ruang-ruang pendidikan keagamaan yang belum tersentuh pemulihan.
Di antara titik terparah bencana, Dayah Raudhatul Ma’arif Pante Lhong berdiri—atau lebih tepatnya, tersisa—sebagai saksi bisu kehancuran. Lumpur masih menumpuk tebal di hampir seluruh bangunan dayah. Ruang belajar santri tak lagi dikenali. Dinding-dinding kusam menyimpan bekas hantaman arus, sedang lantai tertutup endapan lumpur yang mengeras, belum tersentuh pembersihan menyeluruh.
NU Online meninjau langsung lokasi dayah yang berada tak jauh dari bantaran Krueng Peusangan, sungai yang kini melebar jauh melampaui ingatan warga. Hingga hari ke-40 pascabencana, belum tampak tanda uluran tangan serius dari pemerintah untuk membersihkan atau memulihkan dayah ini.
Sentuhan itu terasa redup, nyaris tak hadir, meski Raudhatul Ma’arif berada di kawasan yang oleh warga disebut sebagai daerah paling parah diterjang banjir bandang.
Ibnu, warga yang berada di wilayah tersebut, Rabu (7/1/2025), mengatakan dayah masih berlumpur. Di sudut halaman dayah, terlihat tumpukan kitab kuning dan mushaf Al-Qur’an yang dipindahkan ke tempat sedikit lebih tinggi. Namun lumpur tetap melekat di sampul dan halaman. Sebagiannya rusak, sebagian lain mengering dalam keadaan kotor—seolah menunggu tangan-tangan yang belum datang.
Pimpinan dayah, Tgk Zulfahmi, akrab disapa Abati, maupun para dewan guru tidak tampak di lokasi. Kondisi ini dimaklumi warga, sebab tak satu pun bangunan dayah yang layak ditempati. Dayah hancur, rumah-rumah di sekitarnya rusak, dan aktivitas pendidikan terhenti total sejak banjir bandang melanda.
Fadhli, warga Pante Lhong yang mendampingi tim NU Online, mengajak menelusuri tepi sungai. Dari titik itu, ia menunjuk aliran Krueng Peusangan yang kini jauh lebih lebar.
“Dulu batas sungai di sana,” katanya lirih. “Sekarang sudah tak ada lagi. Air mengambil semuanya.”
Sebagian kawasan perumahan yang dulu padat kini lenyap. Yang tersisa hanyalah bekas fondasi dan cerita kehilangan. Tak jauh dari sana, Jembatan Pante Lhong tampak roboh dan terabaikan. Rangka besinya terkulai, menjadi simbol putusnya akses dan lambannya pemulihan.
Dari arah sungai itu pula, Fadhli menunjuk kembali ke arah Dayah Raudhatul Ma’arif.
“Dayah itu dipimpin ulama muda,” ujarnya. “Beliau jebolan dan dididik langsung oleh Ayah Cot Trueng, ulama senior Aceh. Dayah ini bukan dayah kecil. Tapi sekarang seperti ini.”
Kehancuran dayah hanyalah satu sisi dari luka besar yang ditinggalkan banjir bandang. Di balik bangunan yang rusak, tersimpan tragedi keluarga yang mengguncang batin siapa pun yang mendengarnya.
Saat banjir bandang datang pada 26 November 2025 lalu, arus air memisahkan pimpinan dayah dengan keluarganya, termasuk santri dan dewan guru. Dalam kepanikan dan derasnya arus, anggota keluarga terseret terpisah, baik istri maupun anak. Ada yang hanyut. Ada yang tak pernah kembali. Bahkan buah hatinya yang masih kecil ikut dibawa arus banjir hingga ajal menjemput.
Duka itu membuat Dayah Raudhatul Ma’arif Pante Lhong bukan sekadar bangunan yang hancur, melainkan ruang luka yang hidup. Hingga kini, sang pimpinan dayah belum sanggup kembali menatap puing-puing itu. Bukan karena berpaling, melainkan karena kehilangan yang terlalu dalam dan ketiadaan tempat untuk berpijak.
Sementara itu, di sekitar dayah, warga berjuang sendiri. Alat berat memang sempat masuk desa, namun pekerjaannya berhenti di jalan utama. Membersihkan dayah dan rumah warga menjadi urusan masing-masing. Dengan cangkul dan sekop seadanya, mereka mengangkut lumpur sambil menahan letih dan trauma.
“Banjir sudah surut,” ujar Fadhli, “tapi penderitaan belum.”
Empat puluh hari pascabencana, Raudhatul Ma’arif masih terkubur lumpur, dan perhatian belum menyentuh ruang-ruang pendidikan santri. Padahal, bagi warga Pante Lhong, dayah bukan sekadar tempat belajar, melainkan pusat kehidupan spiritual dan sosial.
Terpopuler
1
PBNU Tegaskan Aliansi yang Mengatasnamakan Angkatan Muda NU Bukan Bagian dari Organisasi NU
2
Ketum PBNU Respons Penetapan Eks Menag Yaqut Cholil Qoumas sebagai Tersangka Korupsi Kuota Haji
3
Khutbah Jumat: Rajab, Bulan Islah dan Perdamaian
4
Khutbah Jumat: Rezeki yang Halal Menjadi Penyebab Hidup Tenang
5
PWNU Aceh Dukung Pendataan Rumah Terdampak Banjir, Warga Diminta Melapor hingga 15 Januari
6
Khutbah Jumat: Media Sosial dan Ujian Kejujuran
Terkini
Lihat Semua