Di KTT Islam-Budha, PBNU Sebut Pentingnya Pendekatan Ashoka
Jumat, 28 Februari 2025 | 21:00 WIB

Wasekjen PBNU H Ahmad Ginanjar Syaban saat berpidato dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Islam Budha di Sokha Hotel Phnom Penh, Kamboja, Kamis (27/2/2025). (Foto: tangkapan layar kanal Youtube CITV Channel)
Afrilia Tristara
Kontributor
Phnom Penh, NU Online
Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Ahmad Ginanjar Sya'ban mewakili PBNU dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Islam Budha di Sokha Hotel Phnom Penh, Kamboja, Kamis (27/2/2025). Kehadirannya dalam konferensi yang mengusung tema "Dialog Peradaban dalam Melayani Kemanusiaan" ini sebagai perwakilan Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf.
Dalam kesempatan tersebut, Ginanjar menyampaikan pentingnya Ashoka Approach, yakni pendekatan yang sejalan dengan nilai-nilai peradaban yang terbentuk pada masa Kaisar Agung Ashoka.
"Wilayah ini memiliki contoh luhur tentang nilai-nilai toleransi, harmoni, dan dialog peradaban dalam sejarah manusia, seperti pada masa Kaisar Agung Ashoka pada abad ketiga sebelum Masehi," ujar Ginanjar.
Ia memaparkan pendekatan Ashoka bisa diterapkan sebagai penghormatan terhadap semua agama dan kepercayaan karena menjunjung tinggi nilai toleransi.
Nilai-nilai yang terkandung dalam pendekatan tersebut dapat diadopsi sebagai langkah dalam menghidupkan warisan spiritual untuk hidup berdampingan dan saling toleransi sebagai pemeluk agama dan kepercayaan.
"Hari ini, kita dapat mengadopsi strategi regional yang disebut Pendekatan Ashoka itu untuk menghidupkan kembali warisan spiritual, budaya, sosial, dan politik toleransi," jelas Dosen Fakultas Islam Nusantara Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) itu.
Ginanjar juga menekankan bahwa toleransi, dialog, dan saling mengasihi merupakan fondasi kuat antar umat beragama untuk saling hidup berdampingan dan semua agama diyakini mempercayai nilai-nilai luhur tersebut.
Kamboja dengan lima persen masyarakatnya muslim serta 93 persen pemeluk agama Budha dapat hidup saling berdampingan dalam solidaritas dan toleransi. Hal ini menunjukkan koeksistensi yang positif antar agama di Kamboja.
Senada, Perdana Menteri Samdech Moha Borvor Thipadei Hun Manet menyampaikan apresiasinya terhadap KTT ini. Dalam sambutan hangatnya kepada seluruh delegasi, ia menyampaikan suka cita atas terselenggaranya konferensi ini sebagai wujud kerukunan beragama di Kerajaan Kamboja.
"Ini adalah pertemuan puncak Liga Muslim Dunia yang pertama di Kamboja. Acara ini menunjukkan dengan jelas solidaritas dan kerukunan beragama di Kamboja," kata Hun Manet sebagaimana dilansir dari situs resmi Pemerintah Kamboja.
Konferensi ini diinisiasi oleh Liga Muslim Dunia dan bekerja sama dengan Kerajaan Kamboja. Sekira 180 delegasi dari 31 negara turut menghadiri KTT Islam-Budha pertama di Kamboja, yang diselenggarakan oleh Liga Muslim Dunia.
Terpopuler
1
Doa Awal Ramadhan yang Diajarkan Rasulullah
2
Berikut Lafal Niat Puasa Ramadhan Sebulan Penuh
3
Lembaga Falakiyah PBNU dan BMKG Rilis Data Hilal, Kapan 1 Ramadhan 1446 H?
4
Khutbah Jumat: Menyambut Ramadhan dengan Hati yang Riang
5
Aceh Jadi Penentu Awal Ramadhan, Hilal Berpotensi Terlihat di Sabang dan Lhoknga
6
Potensi Perbedaan Awal Ramadhan 1446 H
Terkini
Lihat Semua