DPR Nilai SPPG Sebaiknya Hanya Menyediakan 1.000 Porsi MBG per Hari
NU Online · Selasa, 30 September 2025 | 07:00 WIB
Ketua Badan Anggaran DPR Said Abdullah saat sesi wawancara di Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin (29/9/2025). (NU Online/Fathur)
M Fathur Rohman
Kontributor
Jakarta, NU Online
Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI Said Abdullah menilai kapasitas Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) perlu diperkecil agar lebih efektif. Menurutnya, jumlah ideal porsi yang disiapkan tidak lebih dari 1.000 per hari.
"Bebannya terlalu berat kalau 3.000, disesuaikan aja 1.000 atau pemerintah dalam hal ini ngambil posisi yang ekstrem, langsung dapur MBG di sekolah-sekolah," kata Said di Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin (29/9/2025).
Ia menjelaskan, kantin sekolah dapat direhabilitasi dan dilengkapi fasilitas sanitasi sehingga dapat difungsikan sebagai dapur MBG. Dengan pola tersebut, penyediaan makanan akan terbatas hanya untuk sekolah masing-masing.
"Sehingga kantin sekolah direhab, diperbaiki, kemudian bagaimana dicek, sanitasinya, dan sebagainya, dan cakupannya hanya di sekolah itu saja, itu akan lebih luar biasa," ujarnya.
Said menegaskan program MBG merupakan prioritas Presiden Prabowo Subianto untuk memenuhi gizi anak-anak Indonesia. Karena itu, menurutnya, evaluasi harus dilakukan secara menyeluruh, tidak hanya soal anggaran, tetapi juga mekanisme dan keterlibatan tenaga ahli gizi.
"Muncul isu bagaimana tentang anggarannya, saya berpendapat, kalau memang harus dievaluasi secara menyeluruh silakan evaluasi, tidak hanya anggaran tapi mekanismenya, juga pada expert yang menangani soal gizi," jelasnya.
"Kalau itu secara menyeluruh dan dilakukan oleh pemerintah, saya yakin isunya tidak lagi anggaran, karena sasarannya akan tercapai," sambungnya.
Ia juga menyoroti minimnya dapur MBG yang memiliki Sertifikasi Laik Higienis Sanitasi (SLHS). Dari ribuan SPPG yang ada, hanya 34 dapur yang memenuhi standar tersebut.
"Soal expert-nya karena dari 5.823 itu ternyata yang punya lisensi sertifikat higienis dan sanitasi kan tidak lebih hanya 34 SPPG, istilahnya dapur MBG lah ya, hanya 34 dapur," ujarnya.
Menurut Said, kapasitas yang lebih kecil akan membuat distribusi makanan lebih sederhana dan terjangkau. Ia menilai jumlah 3.000 porsi terlalu besar sehingga sulit dijalankan secara efektif tanpa fasilitas penyimpanan dan pendukung yang memadai.
"Saya memang pernah menyampaikan alangkah baiknya SPPG itu kalau 3.000 itu terlalu, size-nya terlalu besar, terlalu banyak dan jangkauannya pasti akan terlalu jauh. Kenapa sih SPPG itu tidak cukup untuk paling tidak 1.000 anak didik sehingga rantainya itu lebih diperpendek," ujarnya.
"Barangkali itu akan mengurangi juga, karena kalau 3.000 itu, saya tidak yakin kalau SPPG tidak punya cool storage, penyimpanan dan sebagainya, tiba-tiba dia belanja harian, walah, tidak akan punya kemampuan," imbuhnya.
Terpopuler
1
PBNU Tegaskan Aliansi yang Mengatasnamakan Angkatan Muda NU Bukan Bagian dari Organisasi NU
2
Ketum PBNU Respons Penetapan Eks Menag Yaqut Cholil Qoumas sebagai Tersangka Korupsi Kuota Haji
3
Khutbah Jumat: Rajab, Bulan Islah dan Perdamaian
4
Khutbah Jumat: Rezeki yang Halal Menjadi Penyebab Hidup Tenang
5
PWNU Aceh Dukung Pendataan Rumah Terdampak Banjir, Warga Diminta Melapor hingga 15 Januari
6
Khutbah Jumat: Media Sosial dan Ujian Kejujuran
Terkini
Lihat Semua