KH Ahmad Bahauddin atau yang akrab disapa Gus Baha menjelaskan bahwa yang mengawal Islam hingga hari kiamat adalah logika yang sehat.
Syarif Abdurrahman
Kontributor
Pasuruan, NU Online
Pengasuh Pesantren Tahfidz Qur'an LP3IA Narukan, Rembang, KH Ahmad Bahauddin atau yang akrab disapa Gus Baha menjelaskan bahwa yang mengawal Islam hingga hari kiamat adalah logika yang sehat.
Hal ini disampaikannya saat mengisi ceramah dalam haul ke-41 KH Abdul Hamid di Pondok Pesantren Salafiyah, Kota Pasuruan, Jawa Timur, Rabu (5/10/2022).
"Dari sekian hitungan, yang bisa mengawal Islam hingga ila yaumil qiyamah adalah logika," jelasnya.
Menurut Gus Baha, agama Islam diturunkan untuk orang yang berpikir. Nabi Muhammad, lanjut Gus Baha, dalam urusan tauhid dan sosial saja pakai logika. Jadi kalau umat dilatih kayak begitu, kecewa sekuat apapun tetap Islam. Menikmati ilmunya dan akalnya sendiri.
"Kalau agama dijual dengan hukum sosial akan ribet. Banyak tuntutan. Maka disyiarkan lewat logika sehat," imbuh Gus Baha.
Gus Baha lalu mencontohkan logika dalam bab tauhid bahwa setiap yang ada pasti membutuhkan pencipta karena asalnya tidak ada. Selain itu, gambar apapun yang sulit, pasti dimulai dari satu titik. Diumpamakan apapun yang ada di dunia ini dimulai dari satu zat yaitu Allah.
"Saya ingin keilmuan dengan kerangka berpikir jika Allah memberi rezeki maka anggap saja Allah zat yang baik. Jika Allah tidak memberi maka anggap saja Allah itu tidak bisa diatur. Logika sederhana. Orang Islam harus dilatih logika sehat," katanya.
Gus Baha lalu menceritakan bagaimana Rasulullah membangun logika sehat di awal-awal kedatangan Islam, khususnya dalam perjanjian Hudaibiyah.
Mayoritas isi perjanjian dari luar terlihat merugikan Islam, Nabi hanya minta dibebaskan untuk diskusi tentang Islam. Akhirnya masyarakat mulai membanding-bandingkan.
Awalnya mulai membandingkan antara Abu Jahal dan Nabi Muhammad. Lebih unggul Muhammad karena orangnya jujur dan terpercaya. Lalu lanjut ke siapa yang pantas jadi Tuhan. Apakah berhala atau Tuhan yang disampaikan Muhammad yang tidak berawal dan berakhir.
"Sekarang harus ngaji seperti ini. Logika akan menuntut orang untuk bertuhan. Selanjutnya mungkin orang bisa kecewa kiai, tapi tidak kecewa Islam. Beda pilihan dalam politik, tetap Islam. Karena logika sehat," ungkap Gus Baha.
Dalam cerita lain, Rasulullah pernah didatangi seorang lelaki yang mau masuk Islam asalkan boleh zina. Lalu ditanya Rasulullah, apakah ia suka ketika ibunya dizina orang, apakah ia rela putri dan bibinya dizina orang. Nabi berusaha membangun logika sederhana. Lalu pemuda itu jawab dengan logikanya, sesuatu yang saya benci adalah zina dan akan masuk Islam tanpa zina.
"Logika yang dibangun Islam adalah maruf dan maqqul. Orang Islam harus didorong untuk terus punya kenyamanan untuk berpikir," tandas Gus Baha.
Pewarta: Syarif Abdurrahman
Editor: Zunus Muhammad
Terpopuler
1
Mengenal Enam A’wan PBNU 2026-2031 dari Kalangan Guru Besar dan Rektor Perguruan Tinggi
2
Khutbah Jumat: Keutamaan Mendoakan Keluarga yang Sudah Meninggal pada Hari Jumat
3
Khutbah Jumat: Sedekah Jumat Berkah, Menghidupkan Hari Mulia dengan Kebaikan
4
Khutbah Jumat: Menjaga Diri dari Maksiat Digital di Era Media Sosial
5
PBNU Sosialisasikan AD/ART Baru, Konferensi PWNU, PCNU, dan PCINU Dimulai 1 November 2026
6
Khutbah Jumat: Peran Masyarakat, Pemerintah dan Keluarga dalam Menciptakan Lingkungan Bebas Perundungan
Terkini
Lihat Semua