KH Miftachul Akhyar Jelaskan Dua Nikmat Yang Melekat Pada Tiap Makhluk
NU Online · Jumat, 9 Januari 2026 | 22:00 WIB
KH. Miftachul Akhyar saat Ngaji Syarah Kitab Al-Hikam pertemuan ke-151 di Pondok Pesantren Miftachus Sunnah, Jalan Kedung Tarukan No. 100, Surabaya, Jumat (9/1/2026). (Tangkapan layar akun Youtube Multimedia KH Miftachul Akhyar)
Achmad Risky Arwani Maulidi
Kontributor
Jakarta, NU OnlineÂ
Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar menjelaskan dua nikmat Allah yang melekat kepada setiap makhluk. Nikmat itu berupa nikmat wujud (ijad) dan nikmat anugerah atau pemberian (imdad).
Hal demikian ia sampaikan saat pertemuan ke-151 Ngaji Kitab Syarah al-Hikam bertempat di Pondok Pesantren Miftachus Sunnah, Jalan Kedung Tarukan No. 100, Surabaya.
Kiai Miftach mengatakan, segala yang diwujudkan Allah pasti memiliki nilai positifnya. Tanpa terkecuali manusia, mereka diciptakan sebab memiliki aspek manfaatnya meski banyak pula sisi kekurangan yang merugikan manusia lainnya. Hal ini yang disebut dengan nikmat wujud.
"Maksudnya masih ada titik-titik kebaikan yang bisa dikembangkan makhluk yang wujud. Dan Allah memilih mewujudkan kita itu kuasa Allah," ujar Kiai Miftach dalam dikutip NU Online, Jumat (9/1/2026).
Kiai Miftach membedakan pemahaman antara manusia secara umum (awam) dengan orang arif dan para wali terkait wujud Allah. Menurutnya, orang awam beranggapan bahwa segala sesuatu yang ada di dunia jadi salah satu tanda wujudnya Allah.Â
"Orang yang sudah berada di maqam wali dan arif yang menunjukkan wujudnya Allah itu dzat Allah sendiri. Apa sebab, sebelum adanya makhluk di langit maupun bumi apa yang bisa menunjukkan keberadaaan Allah?.," terangnya.
Nikmat selanjutnya yakni imdad. Ia menggambarkan bahwa yang dimaksud imdad merupakan segala bentuk pemberian terus menerus yang datang dari Allah. Seperti orang tua welas asih dan tetangga yang peduli.Â
"Maka nikmat imdad itu nikmat yang diberikan selama manusia hidup, dan akan terus berkembang menurut kemampuannya. Tidak ada hari tanpa nikmat, hanya saja kita yang kurang cermat menemukannya," tegas Pengasuh Pondok Pesantren Miftachus Sunnah Surabaya itu.
Ia pun mengajak jamaah agar senantiasa mensyukuri adanya dua nikmat tersebut dengan cara menghayati detail nikmat yang Allah karuniakan sekaligus mengembangkan sisi positif dari nikmat tersebut.Â
"Coba satu nikmat kalian rasakan, pasti akan menarik nikmat-nikmat yang lain," ajaknya dilanjut mengutip penggalan Al-Quran dalam surah an-Nahl ayat 18 dan surah Ibrahim ayat 34 yang menyatakan bahwa nikmat Allah berikan tak terhitung jumlahnya.
Terpopuler
1
PBNU Tegaskan Aliansi yang Mengatasnamakan Angkatan Muda NU Bukan Bagian dari Organisasi NU
2
Khutbah Jumat: Rajab, Bulan Islah dan Perdamaian
3
Ketum PBNU Respons Penetapan Eks Menag Yaqut Cholil Qoumas sebagai Tersangka Korupsi Kuota Haji
4
Nyai Ainiyah Yusuf, Cahaya di Pesantren Mambaus Sholihin Gresik
5
Khutbah Jumat: Rezeki yang Halal Menjadi Penyebab Hidup Tenang
6
PWNU Aceh Dukung Pendataan Rumah Terdampak Banjir, Warga Diminta Melapor hingga 15 Januari
Terkini
Lihat Semua