Komnas Perempuan Terbitkan Buku Saku Pemberitaan Femisida: Menulis dengan Empati dan Tanggung Jawab
NU Online · Selasa, 6 Januari 2026 | 19:00 WIB
Mufidah Adzkia
Kontributor
Jakarta, NU Online
Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) menerbitkan Buku Saku Pemberitaan Femisida: Menulis dengan Empati dan Tanggung Jawab.
Panduan ini disusun untuk merespons pola pemberitaan femisida yang masih kerap bias, sensasional, dan mengabaikan martabat korban, sekaligus melengkapi kerja Komnas Perempuan dalam mendorong praktik jurnalisme yang berperspektif gender dan etis di ruang redaksi.
Ketua Resource Center Komnas Perempuan Chatarina Pancer Istiyani menyampaikan bahwa setiap pemberitaan tentang perempuan yang dibunuh, sering kali memunculkan duka sekaligus pertanyaan mendasar mengenai penyebab terjadinya kekerasan itu.
Menurutnya, femisida tidak dapat dipandang sekadar sebagai statistik atau peristiwa kriminal semata, melainkan merupakan puncak dari ketimpangan relasi kuasa dan kegagalan sistemik yang membiarkan kekerasan terus berulang, serta meninggalkan trauma mendalam bagi keluarga korban dan masyarakat luas.
“Setiap kali ada berita tentang perempuan yang dibunuh, hati kita seringkali tersergap duka dan terbit pertanyaan, ‘Mengapa ini terjadi?’ Lalu, terbersit bagaimana kita sebagai penyampai berita meresponsnya? Femisida bukan sekadar angka statistik atau berita kriminal sesaat. Ia adalah puncak gunung es dari ketimpangan, relasi kuasa, dan kegagalan sistem yang membiarkan kekerasan berulang terjadi,” ujarnya dalam kata sambutan buku tersebut dikutip NU Online, pada Selasa (6/1/2025).
Lebih lanjut, Chatarina menjelaskan bahwa buku saku ini disusun melalui kerja sama Divisi Resource Center dengan Divisi Partisipasi Masyarakat Komnas Perempuan, sebagai panduan praktis bagi jurnalis dalam meliput kasus femisida secara sensitif dan bertanggung jawab.
“Divisi Resource Center bekerja sama dengan Divisi Partisipasi Masyarakat menghadirkan Buku Saku Menulis dengan Empati dan Tanggung Jawab. Buku ini hadir sebagai teman kerja bagi para jurnalis di lapangan,” jelasnya.
Chatarina menambahkan, panduan dalam buku saku ini dirancang untuk membantu jurnalis menerapkan perspektif gender, perspektif korban, serta prinsip do no harm dalam setiap pemberitaan femisida agar tidak memperparah dampak kekerasan yang dialami korban dan keluarganya.
“Kami percaya, jurnalisme bukan hanya tentang bagaimana menyampaikan fakta menjadi sebuah berita, tetapi juga tentang memilih kata-kata yang tidak menyakiti, narasi yang tidak menyudutkan, dan sudut pandang yang membawa kepulihan,” katanya.
Menurut Chatarina, pemberitaan yang baik tidak berhenti pada penyampaian peristiwa, tetapi juga perlu menjelaskan mengapa peristiwa tersebut penting diketahui publik serta mendorong kesadaran kolektif untuk mencegah terulangnya kekerasan terhadap perempuan.
“Semoga buku saku ini dapat menjadi pengingat bahwa di balik headline dan isi berita terkait femisida, ada nyawa yang terkorbankan, martabat yang direnggut, namun ada pula harapan untuk keadilan,” pungkasnya.
Sementara itu, Ketua Bidang Gender, Anak, dan Kelompok Marjinal Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Shinta Maharani menilai buku saku ini penting sebagai panduan bagi jurnalis dalam meliput femisida sebagai bentuk kekerasan paling ekstrem terhadap perempuan dan beragam identitas gender.
“Sebagai perempuan jurnalis, saya melihat pentingnya mengangkat suara perempuan dan beragam identitas gender yang menjadi korban femisida. Untuk mencapai perubahan sosial dan keadilan gender, setiap jurnalis perlu menulis karya jurnalistik dengan menggunakan perspektif Hak Asasi Manusia sebagai pijakan,” katanya.
Buku saku ini terdiri dari lima Bab. Bab I menekankan pentingnya pemberitaan yang berperspektif hak asasi manusia dan gender, dengan menguraikan tanggung jawab pers serta prinsip-prinsip dasar jurnalisme seperti kebenaran, verifikasi, independensi, dan akuntabilitas.
Pada Bab II, buku ini membahas femisida sebagai isu publik dan kemanusiaan, mulai dari pengertian femisida, perbedaannya dengan pembunuhan umum, hingga berbagai bentuk femisida dalam beragam konteks sosial.
Kemudian Bab III memuat panduan teknis peliputan femisida, termasuk prinsip umum pemberitaan, peringatan konten, hal-hal yang perlu dilakukan dan dihindari, pemilihan narasumber, serta etika penggunaan visual agar tidak melukai korban.
Sebagai penguatan, Bab IV menyajikan contoh kasus pemberitaan femisida dengan membandingkan praktik penulisan yang tidak etis dan yang etis serta berperspektif korban sebagai bahan pembelajaran bagi jurnalis.
Sementara Bab V berisi penutup yang menegaskan posisi Komnas Perempuan yang dilengkapi rujukan layanan, guna memastikan pemberitaan turut mendukung perlindungan, pemulihan, dan pencegahan kekerasan terhadap perempuan.
Buku Saku Pemberitaan Femisida: Menulis dengan Empati dan Tanggung Jawab dapat diakses oleh publik melalui tautan https://bit.ly/buku-saku-femisida.
Terpopuler
1
PBNU Tegaskan Aliansi yang Mengatasnamakan Angkatan Muda NU Bukan Bagian dari Organisasi NU
2
Ketum PBNU Respons Penetapan Eks Menag Yaqut Cholil Qoumas sebagai Tersangka Korupsi Kuota Haji
3
Khutbah Jumat: Rajab, Bulan Islah dan Perdamaian
4
Khutbah Jumat: Rezeki yang Halal Menjadi Penyebab Hidup Tenang
5
PWNU Aceh Dukung Pendataan Rumah Terdampak Banjir, Warga Diminta Melapor hingga 15 Januari
6
Khutbah Jumat: Media Sosial dan Ujian Kejujuran
Terkini
Lihat Semua