KPAI Catat Lonjakan Kekerasan Anak, Dorong Kolaborasi Sekolah dan Keluarga untuk Pencegahan
NU Online · Jumat, 9 Januari 2026 | 14:30 WIB
Lamongan, NU Online
Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat lonjakan signifikan kasus kekerasan terhadap anak sepanjang 2025, serta mendorong penguatan kolaborasi antara sekolah dan keluarga sebagai langkah utama pencegahan. Dari total 2.500 laporan pengaduan yang diterima, sebanyak 37,5 persen di antaranya terjadi di lingkungan sekolah.
Komisioner KPAI Aris Adi Leksono menyatakan keprihatinannya atas tingginya angka kekerasan di satuan pendidikan. Menurutnya, kondisi ini menunjukkan bahwa lembaga pendidikan belum sepenuhnya menjadi ruang aman bagi anak-anak.
“Data kekerasan terhadap anak ini merupakan fenomena gunung es. Banyak korban yang sebenarnya tidak berani untuk melaporkan apa yang mereka alami,” ujar Aris Adi Leksono dalam forum diskusi di Lembaga Pendidikan Ma’arif NU Dadapan, Solokuro, Lamongan, Jumat (9/1/2026).
Aris menjelaskan bahwa lonjakan kasus tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. Pada 2024, KPAI mencatat 114 kasus kekerasan terhadap anak, dengan sekitar 35 persen di antaranya terjadi di satuan pendidikan. KPAI mengidentifikasi masalah internal keluarga, termasuk kondisi broken home, sebagai salah satu faktor pemicu terjadinya kekerasan terhadap anak.
Sebagai lembaga independen, KPAI terus mendorong pemerintah untuk memperkuat upaya pencegahan melalui pendekatan disiplin positif. Aris menekankan pentingnya kehadiran ruang konseling keluarga yang mudah diakses masyarakat.
“Kita perlu memastikan efektivitas pencegahan dan pemenuhan hak-hak anak korban kekerasan agar tidak ada lagi anak yang merasa tidak aman di tempat mereka belajar,” tambah Aris, Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PP Pergunu) itu.
Meski sekolah menjadi salah satu fokus utama, Aris menilai keluarga tetap menjadi garda terdepan dalam perlindungan anak. Namun, ia menilai bahwa tantangan perlindungan anak saat ini makin kompleks, termasuk akibat paparan ideologi kebencian dan kekerasan di ruang digital.
"Melalui penguatan kolaborasi antara keluarga, sekolah, dan lingkungan sosial, kami berharap upaya pencegahan kekerasan terhadap anak dapat berjalan lebih efektif dan berkelanjutan," harap Aris.
Upaya kolaborasi sebagai langkah pencegahan itu mendapat respons dari pihak sekolah. Ketua Badan Pengelola Penyelenggara Pendidikan Ma’arif NU Dadapan Moh Sutikno menegaskan pentingnya kolaborasi antara wali murid dan dewan guru untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang aman.
“Dengan pengarahan ini, seluruh komponen di lembaga pendidikan bisa berkolaborasi menciptakan Pendidikan Ramah Anak. Kami ingin memastikan proses pembelajaran berjalan aman tanpa ada hal-hal yang tidak diinginkan,” kata Sutikno.
Terpopuler
1
PBNU Tegaskan Aliansi yang Mengatasnamakan Angkatan Muda NU Bukan Bagian dari Organisasi NU
2
Khutbah Jumat: Rajab, Bulan Islah dan Perdamaian
3
Ketum PBNU Respons Penetapan Eks Menag Yaqut Cholil Qoumas sebagai Tersangka Korupsi Kuota Haji
4
Nyai Ainiyah Yusuf, Cahaya di Pesantren Mambaus Sholihin Gresik
5
Khutbah Jumat: Rezeki yang Halal Menjadi Penyebab Hidup Tenang
6
PWNU Aceh Dukung Pendataan Rumah Terdampak Banjir, Warga Diminta Melapor hingga 15 Januari
Terkini
Lihat Semua