Nasihat Gus Yahya kepada Dai Internasional: Harus Punya Wawasan Kosmopolitan
NU Online · Jumat, 28 Februari 2025 | 20:45 WIB
Ketum PBNU Gus Yahya Staquf saat melangsungkan pertemuan dengan dai internasional LD PBNU yang akan berdakwah di berbagai negara selama Ramadhan 1446 H. Pertemuan ini berlangsung di Gedung PBNU, Jakarta, pada Jumat (28/2/2025). (Foto: NU Online/Jannah)
Rikhul Jannah
Kontributor
Jakarta, NU Online
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya memberikan nasihat kepada 34 Dai Internasional Lembaga Dakwah PBNU yang akan berdakwah di berbagai negara selama Ramadhan 1446 H/2025 M.
Nasihat itu disampaikan Gus Yahya di Gedung PBNU lantai 5, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta Pusat pada Jumat (28/2/2025).
“Ini adalah perjalanan yang berharga, tak hanya berbagi pengetahuan tapi juga belajar tentang isi dunia. Para pelayan Islam harus punya wawasan kosmopolitan,” ujar Gus Yahya.
Ia mengingatkan, Nabi Muhammad merupakan sosok yang rahmatan lil alamin atau mampu memberikan kasih sayang kepada semua makhluk.
“Jadi, hadirkan imajinasi tentang hajat waqi'iyah (aktual),” lanjutnya.
Gus Yahya berpesan bahwa isi ceramah dalam dakwah perlu disesuaikan dengan kebutuhan warga setempat.
“Terminologi dakwah saat ini lebih luas. Awalnya dakwah itu kan mengajak. Tapi ada artian yang lebih luas, termasuk di dalamnya ta'im. Jadi perlu siap untuk kebutuhan itu. Isi ceramahnya perlu disesuaikan dengan kebutuhan warga lokal. Kita perlu tahu kebutuhan masyarakat di tempat kita dakwah,” ucapnya.
Ia menceritakan pengalamannya saat mendampingi Mustasyar PBNU KH Mustofa Bisri (Gus Mus) saat berdakwah ke Amerika Serikat.
“Warga di sana sangat antusias untuk berdialog dan konsultasi. Misal, ada pekerja yang menghabiskan waktunya hanya untuk bekerja, di tempat kerja tidak ada fasilitas untuk shalat. Kita akan berhadapan dengan orang yang berbeda-beda. Kita perlu kesiapan untuk menghadapi keadaan tersebut,” katanya.
Gus Yahya menuturkan bahwa dai NU dapat menjawab tantangan global melalui dakwah. Menurutnya, banyak negara tetangga yang meminta dai NU untuk menjadi imam masjid di negara dengan kualifikasi yang tinggi.
“Kita harus menjawab tantangan global dengan meningkatkan kualitas bahasa Arab, hafal Al-Qur'an. Saat ini, negara-negara tetangga itu ada permintaan 200 imam masjid dengan kualifikasi tinggi, seperti mahir bahasa Arab dan hafal Al-Qur'an,” katanya.
Gus Yahya berharap, berangkatnya dai internasional ke negara-negara tetangga yang di antaranya Timor Leste, Taiwan, Korea Selatan, Jepang, Australia, Belanda, Selandia Baru, dan Hong Kong.
“Permintaan dakwah di berbagai negara sudah ada, apalagi NU punya citra sangat kuat di tingkat Internasional dan dipercaya. Orang-orang Indonesia yang hidup di luar negeri sangat mengharapkan NU dapat membimbing. Permintaan ini harus segera disambut sebelum kehilangan kepercayaan pada NU,” ucapnya.
Terpopuler
1
PBNU Tetapkan Pesantren Al-Falah Ploso Kediri sebagai Lokasi Pembukaan Munas-Konbes NU 2026
2
TNI-Polri Hadang Massa Aksi BEM UI yang Hendak Menuju Bundaran HI
3
Selain TNI-Polri, Komcad Juga Disiagakan saat Aksi Indonesia Bangkrut
4
Koalisi Masyarakat Sipil Soroti Pengerahan TNI dan Komcad dalam Aksi Indonesia Bangkrut
5
BEM UI Gelar Aksi di Bundaran HI Hari Ini, Berikut Tuntutannya
6
Peaceful Muharam 1448 H, Kemenag Gelar Standardisasi Kosakata Isyarat hingga Akurasi Titik Kiblat
Terkini
Lihat Semua