Rais 'Aam Harap Nahdliyin Mampu Berpikir Global
NU Online · Kamis, 23 Desember 2021 | 05:00 WIB
Rais 'Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftachul Akhyar pada pembukaan Muktamar Ke-34 NU di Pondok Pesantren Darussaadah, Lampung Tengah, Rabu (22/12/2021). (Foto: Panitia Muktamar)
Muhamad Abror
Kontributor
Lampung Tengah, NU Online
Nahdlatul Ulama merupakan organisasi kemasyarakatan dengan anggota terbesar dan tersebar ke berbagai penjuru dunia. Artinya, NU memang didirikan untuk melayani tidak hanya di tingkat lokal. Oleh sebab itu, anggotanya juga harus mampu berpikir global.
Hal itu dipaparkan oleh Rais 'Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftachul Akhyar saat menyampaikan Khutbah Iftitah Muktamar Ke-34 NU di Lampung, pada Rabu (22/12/2021).
"NU adalah jamiyah diniyah ijtimaiyah, jamiyah perkhidmatan para ulama. Organisasi para kiai kampung dan desa yang memiliki potensi kekuatan dan kehebatan yang mendunia. Sebagaimana Islam itu sendiri adalah agama bagi alam semesta," terangnya.
Lebih lanjut, Kiai Miftach menegaskan, sebagaimana para nabi, terkhusus Nabi Muhammad saw, yang memiliki kiprah global, maka para kiai NU yang tentu menjadi pewaris para nabi juga mengemban amanah untuk melayani dunia, bukan hanya di negara sendiri.
"Dan sekarang sedang dinantikan kiprahnya adalah melahirkan peradaban dunia. Maka karakter-karakter yang mendunia harus terus digali dan diperkokoh. Sifat-sifat membebek, grudak-gruduk, latah, segera kita enyahkan," ujar kiai kelahiran Surabaya, Jawa Timur itu.
Selain mendorong Nahdliyin untuk berpikir global, dalam pidatonya, ia juga menyampaikan beberapa hal terkait NU. Seperti menjelaskan empat prinsip NU berupa grand idea, grand design, grand strategy, dan grand control.
Ia juga menegaskan kembali sistem komando NU yang disimbolkan dengan tongkat Nabi Musa, dengan mengutip kisah Syaikhona Kholil saat memberikan tongkat dan surat Toha ayat 17-23 kepada KH Hasyim Asy'ari menjelang berdirinya NU.
Selain itu, Kiai Miftach juga mengajak segenap Nahdliyin agar memiliki prinsip yang kokoh serta mandiri agar NU tetap ajeg dan tidak mudah diganggu oleh kelompok-kelompok lain yang berlainan ideologi.
Tak lupa pula, di awal pidato Kiai Miftach mengirimkan fatihah untuk para ulama Nahdliyin seperti Syekh Nawawi al Bantani, Syaikhona Kholil bin Abdil Lathif, KH Hasyim Asy’ari, kH Abdul Wahhab Hasbullah, KH Bisri Syamsuri, KH Ramli Tamim, dan semua Pengurus PBNU yang sudah mendahului.
Kontributor: Muhamad Abror
Editor: Kendi Setiawan
Terpopuler
1
Ketum PBNU Respons Penetapan Eks Menag Yaqut Cholil Qoumas sebagai Tersangka Korupsi Kuota Haji
2
Setahun Berjalan, JPPI Nilai Program MBG Berhasil Perburuk Kualitas Pendidikan
3
Laras Faizati Tolak Replik Jaksa karena Tak Berdasar Fakta, Harap Hakim Jatuhkan Vonis Bebas
4
Gus Mus: Umat Islam Bertanggung Jawab atas Baik Buruknya Indonesia
5
Langgar Hukum Internasional, Penculikan Presiden Venezuela oleh AS Jadi Ancaman Tatanan Global
6
Khutbah Jumat Bahasa Jawa: 5 Cekelan Utama kanggo Wong kang Amar Ma'ruf Nahi Munkar
Terkini
Lihat Semua