Wakil Rais Aam PBNU Jelaskan Kebebasan Bertanggung Jawab di Konferensi Internasional Humanitarian Islam
NU Online · Rabu, 6 November 2024 | 20:00 WIB
Wakil Rais Aam PBNU KH Afifuddin Muhajir saat berbicara pada Konferensi Internasional Humanitarian Islam di Jakarta, Selasa (5/11/2024). (Foto: NU Online/Esky)
Rikhul Jannah
Kontributor
Jakarta, NU Online
Wakil Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Afifuddin Muhajir menjelaskan bahwa kebebasan merupakan karunia yang melekat bagi setiap manusia. Hal tersebut disampaikan melalui firman Allah pada Al-Quran surat Al-Isra ayat 70.
“Terkait prinsip kebebasan ini juga terdapat pada pernyataan Sayyidina Ali bin Abi Thalib, janganlah kamu menjadi hamba orang lain karena Allah menciptakan kamu dalam keadaan merdeka,” ujar Kiai Afif pada acara Konferensi Internasional Humanitarian Islam yang digelar di Grand Hyatt, Jalan M. H. Thamrin, Jakarta Pusat pada Selasa (5/11/2024).
Ia menambahkan kebebasan itu membuat takjub bangsa Eropa saat bangsa Arab memasuki wilayahnya. Kebebasan yang sesungguhnya merupakan kebebasan yang bertanggung jawab, tidak hanya memperjuangkan diri sendiri, tetapi juga orang lain sebagai hidup yang berdampingan dan menjaga martabat.
“Orang-orang Arab telah mengajarkan kepada orang-orang Eropa, bagaimana kebebasan dalam agama Islam yang persis seperti ajaran agama-agama terdahulu yang mereka percayai,” ujarnya.
Kiai Afif juga menyampaikan bahwa saat seseorang sudah mengucapkan kalimat tauhid laa ilaaha illa Allah, maka pernyataan tersebut merupakan sebuah deklarasi bahwa seseorang tersebut hanya menghamba pada Allah dan tidak kepada makhluk-Nya.
“Adapun penghormatan kepada Nabi Muhammad dan rasul-rasul-Nya, orang tua, dan guru, semuanya adalah bagian dari penghambaan kepada Allah yang telah memerintahkan manusia untuk menghormati mereka,” katanya.
Selain itu, Kiai Afif juga menjelaskan mengenai agama Islam yang memiliki dua dimensi yaitu dimensi ketuhanan dan dimensi kemanusiaan. Dimensi ketuhanan dalam Islam merupakan tujuan akhir manusia untuk mendapatkan rida Allah.
“Kenapa disebut dimensi ketuhanan? Karena tujuan akhir dari pada Islam adalah mendapatkan ridho dari Allah dan disisi yang lain sumbernya,” katanya.
Ia menjelaskan mengenai dimensi kemanusiaan dalam Islam yang meletakkan Al-Quran sebagai sumber utama dan kitab suci umat manusia.
“Disebut dimensi kemanusiaan karena sasaran utama ajaran Islam adalah manusia, sehingga Al-Qur'an sebagai sumber utama dari pada sumber Islam itu sebagai disebut sebagai kitab insani, kitab yang diturunkan kepada manusia dan berbicara tentang manusia,” ujarnya.
Terpopuler
1
Pemerintah Tetapkan Idul Adha 1447 H Jatuh 27 Mei 2026
2
Tim Hisab Rukyat: Hilal Awal Dzulhijjah 1447 H Penuhi Kriteria MABIMS, Idul Adha Diperkirakan 27 Mei 2026
3
Hilal Terlihat, PBNU: Idul Adha 1447 H Rabu, 27 Mei 2026
4
Menhan Sebut Seluruh Kabupaten di Jawa Akan Dikawal Batalyon Teritorial pada 2026
5
Tiga Jurnalis Indonesia Bersama Aktivis Ditangkap Israel, Dewan Pers Minta Pemerintah Bertindak
6
Ambruknya Rupiah Dinilai Tekan Rakyat Kecil, DPR Soroti Harga Kebutuhan Pokok
Terkini
Lihat Semua