Pustaka

Mengupas Tafsir al-Baghawi: Panduan Lengkap Tafsir Bil Ma’tsur

NU Online  ·  Ahad, 11 Januari 2026 | 23:32 WIB

Kitab Ma’alimut Tanzil, yang lebih dikenal sebagai Tafsir al-Baghawi, adalah salah satu karya tafsir klasik yang menjadi rujukan utama bagi umat Muslim Sunni. Menurut Imam Adz-Dzahabi, kitab ini termasuk tafsir bil ma’tsur (tafsir berdasarkan riwayat) terbaik dan paling terpercaya, sehingga banyak ulama mengandalkannya dalam memahami Al-Qur’an.

 

 

Keistimewaan Tafsir al-Baghawi terletak pada keakuratan penjelasan dan ketaatannya pada Sunnah. Para ulama besar, termasuk Ibnu Taimiyyah dan Al-Khazin, memuji kitab ini karena validitas pandangannya dan kepatuhannya terhadap sumber riwayat. Tidak heran jika kitab ini direkomendasikan sebagai rujukan utama bagi siapa pun yang ingin memahami Al-Qur’an dengan cara yang tepat dan aman dari kesalahan interpretasi.

 

Dengan bahasa yang ringkas dan jelas, Ma’alimut Tanzil membantu pembaca menyelami makna ayat-ayat Al-Qur’an tanpa kehilangan konteks sejarah dan hukum syar’i, menjadikannya pilihan ideal bagi pelajar maupun pencinta ilmu tafsir.

 

 

Latar Belakang Penulisan Kitab

 

Sebagaimana diakui secara eksplisit oleh Imam al-Baghawi dalam mukadimah kitabnya, motivasi utama di balik penyusunan karya tafsir ini muncul dari dorongan kolektif serta permintaan tulus dari para sahabat dan murid-murid terdekatnya.

 

 

Selain itu, karya ini juga lahir dari rasa tanggung jawab keilmuan yang mendalam sebagai seorang ulama otoritatif. Tujuannya adalah untuk mendokumentasikan khazanah pemikiran Islam, menjaga keasliannya, dan memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi generasi mendatang.

 

 

Simak ungkapan Imam Baghawi berikut:

 

فَسَأَلَنِي جَمَاعَةٌ مِنْ أَصْحَابِي الْمُخْلِصِينَ- وَعَلَى اقْتِبَاسِ الْعِلْمِ مُقْبِلِينَ- كِتَابًا فِي مَعَالِمِ التَّنْزِيلِ وَتَفْسِيرِهِ، فَأَجَبْتُهُمْ إِلَيْهِ مُعْتَمِدًا عَلَى فَضْلِ اللَّهِ تَعَالَى وَتَيْسِيرِهِ، مُمْتَثِلًا وَصِيَّةَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فِيهِمْ فِيمَا يَرْوِيهِ أَبُو سَعِيدٍ الْخُدْرِيُّ رضي الله عنه. أَنَّهُ عليه الصلاة والسلام قَالَ: «إِنَّ رِجَالًا يَأْتُونَكُمْ مِنْ أَقْطَارِ الْأَرْضِ يَتَفَقَّهُونَ فِي الدِّينِ فَإِذَا أَتَوْكُمْ فَاسْتَوْصُوا بِهِمْ خَيْرًا» . وَاقْتِدَاءً بِالْمَاضِينَ مِنَ السَّلَفِ فِي تَدْوِينِ الْعِلْمِ إِبْقَاءً عَلَى الْخَلَفِ

 

Artinya: "Sekelompok sahabatku yang tulus, yang memiliki semangat besar dalam menimba ilmu, memintaku untuk menulis sebuah kitab tentang tanda-tanda wahyu (Ma'alimut Tanzil) dan tafsirnya. Aku pun memenuhi permintaan mereka dengan bersandar pada karunia Allah Ta'ala dan kemudahan-Nya.

 

Hal ini aku lakukan demi menjalankan wasiat Rasulullah terhadap mereka (para penuntut ilmu), sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Sa'id al-Khudri radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi bersabda: 'Sesungguhnya akan datang kepada kalian orang-orang dari berbagai penjuru bumi untuk memperdalam pemahaman agama (tafaqquh fiddin). Maka apabila mereka datang kepada kalian, berikanlah wasiat kebaikan kepada mereka.'

 

Serta dalam rangka meneladani para pendahulu dari kalangan salaf dalam membukukan ilmu, agar ilmu tersebut tetap terjaga bagi generasi mendatang (al-khalaf)." (Imam Baghawi, Tafsir al-Baghawi, Tahqiq: Abdur Razaq Al-Mahdi, [Beirut, Daru Ihya’it Turats Al-’Arabi: 1420], jilid. I, hal. 46).

 

Dari pernyataan tersebut, kita dapat memahami bahwa Tafsir al-Baghawi disusun untuk memenuhi kebutuhan dan permintaan para murid serta pengikut Imam al-Baghawi, khususnya mereka yang memiliki semangat tinggi dalam menimba ilmu.

 

Selain itu, penulisan kitab ini juga bertujuan untuk mewujudkan ajaran Rasulullah ﷺ terkait perhatian kepada orang-orang yang mendalami agama (mutafaqqihin fiddin), yang menempuh perjalanan di muka bumi demi menuntut ilmu. Hal ini sekaligus merupakan bentuk meneladani Salafus Shalih dalam menjaga, merawat, dan membukukan ilmu pengetahuan agar tetap tersampaikan dengan baik kepada generasi berikutnya

 

Metodologi dan Sistematika Penafsiran

 

Syekh ‘Ifaf Abdul Ghafur dalam kitabnya Al-Baghawi wa Manhajuhu fi Tafsir menjelaskan bahwa Imam al-Baghawi menetapkan sistematika tertentu dalam penyusunan tafsirnya, yaitu sebagai berikut:

 

1. Menyebutkan nama surah dan jumlah ayatnya.

 

Imam Baghawi dalam tafsirnya terkadang merinci dengan menyebutkan adanya ayat-ayat Makkiyah dalam surah Madaniyyah, atau sebaliknya, ayat-ayat Madaniyyah dalam surah Makkiyah, jika memang terdapat kasus seperti itu.

 

2. Membawakan Asbabun Nuzul (sebab-sebab turunnya ayat).

 

Jika surah turun karena latar belakang atau peristiwa tertentu, beliau menjelaskan konteksnya. Selama proses penafsiran, beliau juga kerap memaparkan sebab turunnya ayat-ayat khusus dalam surah tersebut.

 

3. Menjelaskan makna ayat-ayat secara terperinci.

 

Beliau memberikan perhatian khusus pada lafal dan kosakata sulit, menjelaskan maknanya secara linguistik dengan merujuk pada asal kata (ashl) dan sumbernya.

 

4. Menafsirkan ayat dalam konteks.

 

Penafsiran dilakukan dengan merujuk pada ayat-ayat Al-Qur’an lainnya (tafsir Al-Qur’an dengan Al-Qur’an), hadits-hadits Nabi SAW, pendapat Salafus Shalih, serta riwayat tafsir dari kalangan Sahabat dan Tabi’in.

 

Selain itu, dalam tafsirnya, Imam al-Baghawi juga menyertakan:

 

Pertama, aspek I’rab (tata bahasa) untuk sebagian ayat dan konsekuensi makna yang timbul darinya.

 

Kedua, Ragam Qira’at (cara baca) yang bersumber dari riwayat untuk sebagian ayat.

 

Lebih jauh lagi, Imam Baghawi, dalam membahas ayat-ayat akidah dan tauhid, ia menegaskan pandangan Ahli Sunnah wal Jamaah, sambil membantah pendapat sekte-sekte lain serta menolak bid’ah dan khurafat yang terkait dengan bidang ini.

 

Selanjutnya, dalam pembahasan ayat-ayat hukum fiqih, beliau menyajikan berbagai pendapat para faqih secara ringkas dan padat, termasuk pendapat Imam Syafi’i, Abu Hanifah, dan imam-imam lainnya.(Sumber: Syekh ‘Ifaf Abdul Ghafur, Al-Baghawi wa Manhajuhu fi Tafsir, (Baghdad: Mathba’ah Al-Irsyad, 1983), hlm. 78–79)

 

Kelebihan Tafsir Al-Baghawi

 

Salah satu kelebihan kitab Tafsir Al-Baghawi dari kitab tafsir klasik lainnya adalah kehadirannya secara inklusif dan komprehensif, yang menghimpun berbagai sisi dan corak yang berbeda-beda (corak fiqih, bahasa, dsb). Hal ini menjadikannya bermanfaat bagi banyak kalangan pembaca dan mereka yang ingin memahami serta mentadabburi Kitabullah dengan cara yang paling ideal.

 

Selain itu, keistimewaan Tafsir al-Baghawi juga terletak pada sisi moderasinya. Ia tidak hanya terpaku pada riwayat hingga menjadi sangat panjang, namun tidak juga terlalu mengandalkan logika hingga menjauh dari teks asli. Inilah yang membuatnya menjadi kitab yang "aman" dan bermanfaat bagi khalayak luas. (Al-Baghawi wa Manhajuhu fi Tafsir, hal. 180-183)

 

Kritik terhadap Tafsir Al-Baghawi

 

Meskipun Imam al-Baghawi dikenal selektif, beliau masih mencantumkan beberapa riwayat Israiliyat, terutama dalam kisah-kisah nabi terdahulu. Namun, para kritikus tersebut sepakat bahwa intensitasnya jauh lebih sedikit dan lebih bersih jika dibandingkan dengan kitab tafsir klasik lain seperti Tafsir ath-Thabari atau Tafsir ats-Tsa'labi.

 

Beberapa peneliti modern telah mengisyaratkan adanya riwayat Israiliyat (cerita yang bersumber dari ahli kitab) yang masuk ke dalam Tafsir al-Baghawi, dan mereka memberikan catatan kritis terhadap Imam Al-Baghawi atas hal tersebut. Di antara para ulama tersebut adalah Dr. Muhammad Husain adz-Dzahabi, Dr. Muhammad Muhammad Abu Syahbah, Dr. Ramzi Na’na’ah, dan Dr. Abdullah Syahatah. (Al-Baghawi wa Manhajuhu fi Tafsir, hal. 159)

 

Simak komentar Dr. Muhammad Husain adz-Dzahabi berikut:

 

ووجدته يذكر أحيانًا بعض الإسرائيليات ولا يُعَقِّب عليها

 

Artinya: “Dan aku mendapatinya (Imam al-Baghawi) terkadang menyebutkan beberapa riwayat Israiliyat tanpa memberikan komentar (penjelasan benar/salahnya).” (At-Tafsir wal Mufassirun, jilid I, hal. 170)

 

Dengan demikian, Tafsir al-Baghawi merupakan salah satu karya tafsir klasik yang menonjol karena keakuratan, kedalaman, dan ketaatannya pada Sunnah. Dari awal disusun hingga metodologinya yang sistematis, kitab ini menunjukkan dedikasi Imam al-Baghawi dalam menyampaikan makna Al-Qur’an secara jelas dan dapat dipertanggungjawabkan.

 

 

Meski terdapat beberapa riwayat Israiliyat, hal ini tidak mengurangi nilai ilmiah kitab tersebut, karena Imam al-Baghawi tetap selektif dan mendahulukan sumber-sumber yang terpercaya. Tafsir ini tetap menjadi rujukan penting bagi para pelajar, ulama, dan siapa pun yang ingin memahami Al-Qur’an secara mendalam dan aman dari kesalahan interpretasi.

 

Dengan segala keistimewaannya, Tafsir al-Baghawi tidak hanya menjadi warisan keilmuan bagi generasi terdahulu, tetapi juga sumber pengetahuan yang berharga bagi generasi masa kini, serta menjadi contoh bagaimana ilmu Al-Qur’an dapat dipelajari, dijaga, dan diwariskan dengan penuh tanggung jawab.

 

Identitas Kitab

Judul: Tafsir Al-Baghawi

Penulis: Imam Al-Baghawi (w. 516 H)

Penerbit: Daru Ihya’it Turats Al-’Arabi

Tempat Terbit: Beirut

Jumlah Juz: 5

 


 

Identitas Kitab

Judul: Tafsir Al-Baghawi

Penulis: Imam Al-Baghawi (w. 516 H)

Penerbit: Daru Ihya’it Turats Al-’Arabi

Tempat Terbit: Beirut

Jumlah Juz: 5

 

--------------------

Muhammad Ryan Romadhon, Alumni Ma’had Aly Al-Iman, Bulus, Purworejo, Jawa Tengah.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang