Menemukan Semangat Muslim di Donggang Taiwan Menjalani Ramadhan
Selasa, 1 April 2025 | 21:00 WIB
Donggang, NU Online
Menjalani ibadah Ramadhan di negara dengan jumlah Muslim minoritas memiliki tantangan tersendiri. Salah satu tantangan besar adalah menjaga konsistensi dalam melaksanakan shalat tarawih, terlebih bagi mereka yang memiliki jadwal kerja padat. Namun, semangat untuk tetap menjaga ibadah tetap menyala di hati banyak Muslim yang tinggal di negara-negara tersebut.
Begitulah yang terjadi saat saya mengunjungi salah satu titik tugas dakwah Ramadhan di Taiwan, tepatnya di Masjid An-Nur Donggang (yang sering disebut Tongkang), Taiwan. Saya bersyukur bisa berada di sana selama beberapa hari yakni Senin hingga Jumat, 10-15 Maret 2025.
Masjid An-Nur Tongkang didirikan oleh para pekerja Indonesia yang mayoritas Muslim di Tongkang, dibantu oleh umat Muslim di seluruh Taiwan. Masjid yang cukup megah ini terdiri dari 4 lantai. Lantai 3 dan 4 digunakan untuk kegiatan ibadah, sedangkan lantai 1 dan 2 difungsikan sebagai tempat istirahat dan transit bagi para pelaut.
Selain sebagai tempat ibadah, Masjid An-Nur juga berfungsi sebagai sarana penguatan solidaritas, tempat singgah para pelaut saat kapal sandar, serta menjadi sekretariat Pimpinan Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama Taiwan (PCINU) Ranting Tongkang.
Pekerja di Tongkang rata-rata adalah pelaut. Mereka bekerja mulai malam hingga dini hari, hingga waktu Ashar tiba. Meskipun di bulan Ramadhan, waktu kerja mereka tidak berubah. Meski demikian, banyak pelaut di Tongkang yang tetap berusaha keras menjalankan ibadah wajib dan sunnah, seperti tarawih, di bulan suci Ramadhan.
Takmir Masjid An-Nur Tongkang, Bapak Sumarjo, mengatakan, "Muslim di Tongkang mayoritas adalah pelaut, sehingga kegiatan di masjid An-Nur Tongkang ramai pada malam hari," ujarnya pada Rabu (14/3/2025).
Ketua Tanfidziyah NU Tongkang, Bapak Umar Robi Juhri, menambahkan, "Di sini, malam hari ramai, tarawih juga ramai, apalagi pada awal Ramadhan. Bisa mencapai 80-90 jamaah tarawih, tetapi setelah itu, mereka langsung kembali ke kapal masing-masing," ujar ketua NU Tongkang tersebut.
Di beberapa negara dengan mayoritas non-Muslim, jumlah jamaah tarawih mungkin tidak sebanyak di negara mayoritas Muslim. Namun, berbeda dengan masjid di Tongkang ini. Para pekerja sangat semangat untuk menunaikan ibadah wajib dan bahkan ibadah sunnah seperti tarawih, sholat qabliyah, dan bakdiyah.
Menjalankan ibadah di negara dengan jumlah Muslim minoritas tentu tidak mudah. Tantangan seperti keterbatasan waktu, badan yang lelah setelah bekerja, hingga kurangnya dukungan dari lingkungan sering kali dirasakan. Namun, para pekerja di Masjid An-Nur melihat ini sebagai bentuk perjuangan dalam meraih ridha Allah Swt.
Baca Juga
Berburu Takjil di Gangshan, Taiwan
Menjaga shalat tarawih di negara dengan jumlah Muslim minoritas di tengah kesibukan bekerja memerlukan komitmen dan pengorbanan. Namun, semangat menjalankan ibadah ini menjadi bukti keteguhan iman dan kecintaan pada Allah SWT. Bagi mereka, Ramadan bukan sekadar ritual, tetapi sebuah perjalanan spiritual untuk mendapatkan ridha Allah Swt.
Nurwahid Pardi – Dai Internasional LD PBNU 2025 dengan penugasan di Taiwan. Program ini didukung oleh NU Care - LAZISNU.
Terpopuler
1
Niat Puasa Qadha bagi yang Batal atau Meninggalkannya di Bulan Ramadhan
2
Hukum Dahulukan Puasa Syawal Ketimbang Qadha Puasa Ramadhan
3
Khutbah Jumat: Menjaga Konsistensi Ibadah Pasca Ramadhan
4
Meski Hujan, 25.000 Jamaah Khidmat ikuti Shalat Idul Fitri di Taipei
5
PCINU Yordania dan Aqua Salurkan Bantuan Kemanusiaan untuk Warga Palestina
6
Kebahagiaan Masyarakat Muslim Nagano Jepang Menyambut Peresmian Masjid MINU
Terkini
Lihat Semua