TGB Zainul Majdi Dorong Santri Teladani Cara Berpikir KH Hasyim Muzadi
NU Online · Ahad, 11 Januari 2026 | 17:00 WIB
Depok, NU Online Jakarta
Peringatan Haul Ke-9 almarhum KH Hasyim Muzadi digelar Pesantren Al-Hikam Depok pada Sabtu (10/1/2026). Tuan Guru Bajang (TGB) H Zainul Majdi yang hadir sebagai pembicara utama mendorong santri untuk meneladani cara berpikir Kiai Hasyim dalam menyikapi persoalan keumatan, kebangsaan, dan kemanusiaan.
TGB mengenang Kiai Hasyim sebagai sosok ulama yang lahir dari konteks lokal Indonesia, tetapi memiliki kiprah, pengaruh, dan pengakuan hingga tingkat global dan internasional. Dia menyebut keulamaan Kiai Hasyim berakar kuat pada tradisi pesantren Nusantara, namun mampu berdialog dan berkontribusi dalam wacana Islam dunia.
"KH Hasyim Muzadi adalah contoh ulama yang berpijak pada prinsip ats-tsawābit fil 'aqīdah wa al-mutaghayyirāt fil mu'āmalāt; teguh dalam akidah, tetapi adaptif dalam praktik sosial," ujar TGB.
Menurutnya, Kiai Hasyim memiliki kekokohan ideologis tanpa kehilangan kelenturan sosial dalam merespons dinamika zaman.
TGB menjelaskan bahwa cara berpikir Kiai Hasyim ditopang oleh tiga pilar utama. Pertama, penguasaan mendalam terhadap khazanah keilmuan klasik Islam (tamakkunuhu minal maurits al-fiqhī). Kedua, pemahaman yang komprehensif terhadap realitas sosial, politik, dan budaya Indonesia kontemporer (wāqi' Indūnīsiyā al-mu'āshir).
"Ketiga, kesadaran penuh akan tantangan globalisasi serta kemampuan membaca arah dan proyeksi masa depan (tahaddiyāt al-'awlamah)," jelasnya.
Dengan fondasi itu, TGB mengungkapkan bahwa Kiai Hasyim tampil sebagai ulama yang mampu menjaga wibawa dan kebijaksanaan. Dia menyebut Kiai Hasyim dihormati oleh kawan dan disegani oleh lawan, serta dakwah yang disampaikannya menenangkan umat, bukan menekan; merangkul, bukan menghakimi; mengajak dengan hikmah, bukan melaknat.
"Inilah praktik nyata Islam rahmatan lil 'alamin yang beliau teladankan," tegas TGB.
Lebih lanjut, TGB mengingatkan para santri Al-Hikam bahwa kecintaan kepada Kiai Hasyim tidak boleh berhenti pada ritual semata, seperti mengirimkan doa, membaca tahlil, atau mengkhatamkan Al-Qur'an. Dia menyatakan semua amaliah tersebut penting, namun belum cukup.
"Bukti cinta yang sejati adalah meneladani (perjalanan hidup) beliau," katanya.
Selengkapnya klik di sini.
Terpopuler
1
Ketum PBNU Respons Penetapan Eks Menag Yaqut Cholil Qoumas sebagai Tersangka Korupsi Kuota Haji
2
Setahun Berjalan, JPPI Nilai Program MBG Berhasil Perburuk Kualitas Pendidikan
3
Laras Faizati Tolak Replik Jaksa karena Tak Berdasar Fakta, Harap Hakim Jatuhkan Vonis Bebas
4
Gus Mus: Umat Islam Bertanggung Jawab atas Baik Buruknya Indonesia
5
Langgar Hukum Internasional, Penculikan Presiden Venezuela oleh AS Jadi Ancaman Tatanan Global
6
Khutbah Jumat Bahasa Jawa: 5 Cekelan Utama kanggo Wong kang Amar Ma'ruf Nahi Munkar
Terkini
Lihat Semua