Jateng

Gus Mus: Umat Islam Bertanggung Jawab atas Baik Buruknya Indonesia

NU Online  ·  Jumat, 9 Januari 2026 | 13:00 WIB

Gus Mus: Umat Islam Bertanggung Jawab atas Baik Buruknya Indonesia

KH Ahmad Mustofa Bisri alam mauidhah hasanah pada acara haul dan tasyakuran hafiz-hafizah Al-Qur’an di Pondok Pesantren Fadhlul Fadhlan, Semarang. (Foto: Yusuf)

Semarang, NU Online Jateng 

Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus menegaskan bahwa baik dan buruknya kondisi Indonesia tidak bisa dilepaskan dari tanggung jawab umat Islam. Pernyataan tersebut disampaikannya dalam mauidhah hasanah pada acara haul dan tasyakuran hafiz-hafizah Al-Qur’an di Pondok Pesantren Fadhlul Fadhlan, Semarang.


Menurut Gus Mus, karena mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam, maka umat Islam memiliki peran besar dalam menentukan arah perjalanan bangsa, baik dalam aspek moral, sosial, maupun kebangsaan.


“Kalau Indonesia baik, yang pertama bersyukur itu umat Islam. Tapi kalau Indonesia rusak, yang paling bertanggung jawab juga umat Islam,” tuturnya, dikutip dari YouTube NU Online, Kamis (8/1/2026).


Ia menyoroti masih adanya kesenjangan antara jumlah umat Islam secara kuantitas dengan pengamalan nilai-nilai Al-Qur’an secara kualitas. Banyak orang mengaku Muslim, bahkan menampilkan simbol-simbol keislaman, tetapi dalam praktik kehidupan sehari-hari belum sepenuhnya mencerminkan ajaran Al-Qur’an.


Kepada para santri penghafal Al-Qur’an, Gus Mus menegaskan bahwa menjadi hafiz atau hafizah bukanlah tujuan akhir. Hafalan Al-Qur’an, menurutnya, harus dilanjutkan dengan tafaqquh, yakni memahami isi dan makna Al-Qur’an secara mendalam, serta ta’mil, yaitu mengamalkannya dalam kehidupan nyata.


“Al-Qur’an itu tidak cukup dihafal, tapi harus dipahami dan diamalkan. Di situlah nilai Al-Qur’an benar-benar hidup di tengah masyarakat,” ujarnya.


Ia berharap para hafiz dan hafizah kelak mampu menjadi teladan di tengah umat, menghadirkan Al-Qur’an sebagai solusi atas berbagai persoalan sosial, moral, dan kebangsaan.


Dalam kesempatan tersebut, Gus Mus juga menjelaskan makna haul sebagai tradisi yang sarat nilai spiritual. Menurutnya, haul bukan sekadar peringatan wafat seseorang, melainkan pengingat akan kematian sekaligus ajakan untuk meneladani kebaikan para pendahulu.


“Orang yang lupa mati, biasanya mudah tergelincir pada keserakahan dan penyimpangan,” ungkapnya.


Menanggapi anggapan sebagian pihak yang menganggap haul sebagai bid’ah, ia menegaskan bahwa tradisi tersebut merupakan kearifan lokal Islam Nusantara yang membawa dampak positif, baik dalam menjaga silaturahmi maupun menumbuhkan kesadaran spiritual.


Selengkapnya klik di sini.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang