Kerja Terus Bikin Tifus? Begini Penjelasan Lembaga Kesehatan NU
NU Online · Senin, 12 September 2022 | 19:30 WIB
Jakarta, NU Online
“Kerja, kerja, tifus (tipes).” Ungkapan ini tak asing di telinga, khususnya bagi mereka yang memiliki segudang aktivitas harian. Kelelahan bekerja kerap kali dikaitkan sebagai penyebab seseorang terserang penyakit tifus atau demam tifoid.
Pengurus Lembaga Kesehatan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LK PBNU) dr Citra Fitri Agustina, menjelaskan bahwa menjalani aktivitas yang padat terkait urusan pekerjaan tidak secara langsung menyebabkan seseorang terserang penyakit tifus.
Alih-alih karena kelelahan sibuk bekerja, dr Citra menjelaskan rentannya seseorang terserang tifus karena menurunnya imunitas yang menyebabkan adanya ketidakseimbangan dalam tubuh.
“Sebenarnya itu soal keseimbangan. Kondisi daya tahan tubuhnya kurang baik. Kalau tidak seimbang istirahat, pola makan, olahraga, sakit apapun bisa datang,” jelas dr Citra dalam keterangan yang diterima NU Online, Senin (12/9/2022).
Ia melanjutkan, tifus merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi. Penyakit ini, lanjut dia, umumnya menyebar melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi bakteri tersebut.
“Kalau kita lupa makan saat bekerja dan menunda makan, itu bisa kena penyakit pencernaan, termasuk juga tifus. Atau, makannya sembarangan aja. Kayak mendzalimi tubuh,” ungkap dokter yang praktik di Rumah Sakit Yarsi, Jakarta itu.
Secara umum, gejala-gejala tifus meliputi demam, lesu, lemas, mual, muntah, sakit perut, diare serta gangguan pencernaan serupa, dan sakit kepala.
“Sebaiknya makanannya diubah makanan lunak dan istirahat cukup. Yang jelas, makanan lunak, teratur dimakannya,” tutur dr Wakil Dekan 3 Fakultas Kedokteran Universitas Yarsi tersebut.
Penderita tifus, lanjut dia, disarankan untuk mengonsumsi makanan lunak, perbanyak minum air, dan istirahat cukup. Pada beberapa kasus, penderita tifus ada yang harus dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut. Namun, ada juga yang bisa menjalani perawatan di rumah.
Maka itu, ia mengimbau masyarakat khususnya yang memiliki aktivitas padat untuk pandai mengatur ritme berkegiatan, sehingga kesehatan tubuh tetap terjaga.
“Kita juga harus mengenal tubuh kita. Ada beberapa makanan yang mungkin kita tidak bisa makan. Tidak bisa mengatur ritme bekerja, mengganggu keseimbangan tubuh. Tubuh kita kan, punya hak untuk istirahat dan mendapatkan makanan yang sesuai,” paparnya.
Pewarta: Nuriel Shiami Indiraphasa
Editor: Muhammad Faizin
Terpopuler
1
Pemadaman Listrik dan Pergeseran Tanggung Jawab Negara atas Barang Publik
2
Muktamar Ilmu Pengetahuan 2026 di UIN Sunan Kudus Perkuat Konsolidasi Ilmuwan NU untuk Transformasi Sosial
3
Gempa Magnetudo 5,6 Guncang Pacitan, Terasa hingga Yogyakarta
4
Muktamar Ilmu Pengetahuan IV Dorong Lahirnya Gagasan Strategis untuk Bangsa
5
Kapten Timnas Iran Kritik FIFA, Sebut Piala Dunia 2026 'Bencana' dan Berjalan Tidak Adil
6
Mulai 1 Juli 2026, Kemenhaj Alihkan Seluruh Penerbangan Umrah dan Haji Khusus ke Terminal 2F
Terkini
Lihat Semua