Kewajiban Mencegah Penyebaran Covid-19 menurut Prof Nasaruddin Umar
NU Online · Rabu, 14 Juli 2021 | 23:00 WIB
Kendi Setiawan
Penulis
Jakarta, NU Online
Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta, Prof KH Nasaruddin Umar mengingatkan umat Islam tidak boleh melakukan pembiaran atau abai terhadap bahaya Covid-19. Umat Islam harus berikthtiar agar Covid-19 tidak terus tersebar. Jika umat Islam telah berupaya mencegah, namun kemudian terkena Covid-19 masih terkena, itulah yang disebut dengan takdir.
"Takdir itu berikhtiair secara maksimum, melakukan berbagai choice (percobaan) untuk menyelamatkan. Kalau sudah dilakukan penyelamatan diri, maka itu namanya takdir," kata Prof Nasaruddin Umar saat mengisi Pesantren Digital Majelis Takwa Telkomsel (MTT), Rabu (14/7).
Menurut Prof Nasaruddin, tidak bisa disebut qadar atau takdir kalau manusia tidak berikhtiar, sehingga terkena suatu bahaya sampai kematian. "Itu malas, sembrono. Orang yang mati sembrono tidak mati terhormat. Bahkan ada istilah mati dalam keadaan kafir,” ujarnya.
Mati tidak terhormat tersebut seperti juga terjadi pada kematian karena bunuh diri atau aksi bom bunuh diri dengan alasan jihad sekalipun. Orang semacam itu mati dalam keadaan murtad atau musyrik.
Lalu bagaimana menyikapi saat musibah seperti wabah Covid-19 itu datang, menurut Prof Nasaruddin sikap kita pada saat musibah itu datang harus bersahabat. Bahkan, kalau perlu menikmati penderitaan. Orang yang dapat menikmati penderitaan sejatinya dijanjikan kedekatan dirinya kepada Allah SWT.
“Tidak ada puncak kenikmaan paling tinggi bagi manusia melainkan ketika seorang hamba berjumpa dengan Tuhan. Makin dekat dengan Tuhan, makin damai,” imbuh Pengasuh Pesantren Modern Al Ikhlas Bone Sulawesi Selatan ini.
Ia menjabarkan, kematian ada dua macam, yakni terpisahnya nyawa dengan tubuh dan kembalinya ruh kepada Tuhan. Jenis yang kedua saat seseorang beribadah dengan khusyuk, lalu menyatu dengan Allah, mendekatkan dirinya kepada Tuhannya itulah hakikat Innalillahi wainna ilaihi raji'un.
“Kematian yang kedua ini bisa terjadi tanpa keluarnya roh dari dalam tubuh. Kalau kita shalat lima waktu dengan khusyuk mencapai puncak, kita mati di situ. Saat membaca Al-Qur’an, saat memegang tasbih kita menyebut nama-Nya, itulah yang disebut mati sebelum mati,” bebernya.
Dari kesadaran itu, umat Islam tidak akan takut mati dalam arti berpisahnya ruh dengan tubuh. Sebab, kematian ibarat ‘pindah kamar’. Dahulu manusia pindah dari rahim ibu ke dunia. Lalu, dijemput ke alam kubur. Lalu, ruh kita pindah lagi ke akhirat.
Sebelumnya, Prof Nasaruddin juga mengatakan adanya Covid-19 ibarat surat cinta dari Allah. Sekian lama, ungkapnya, umat Islam diundang ke langit dengan surat putih berupa berbagai kesenangan. Namun, dengan kesenangan itu manusia tidak pernah naik ke langit, sehingga Allah mengirimkan surat cinta dalam bentuk musibah yakni Covid-19.
Pewarta: Kendi Setiawan
Editor: Musthofa Asrori
Terpopuler
1
Pemerintah Tetapkan Idul Adha 1447 H Jatuh 27 Mei 2026
2
Tim Hisab Rukyat: Hilal Awal Dzulhijjah 1447 H Penuhi Kriteria MABIMS, Idul Adha Diperkirakan 27 Mei 2026
3
Hilal Terlihat, PBNU: Idul Adha 1447 H Rabu, 27 Mei 2026
4
Menhan Sebut Seluruh Kabupaten di Jawa Akan Dikawal Batalyon Teritorial pada 2026
5
Tiga Jurnalis Indonesia Bersama Aktivis Ditangkap Israel, Dewan Pers Minta Pemerintah Bertindak
6
Ambruknya Rupiah Dinilai Tekan Rakyat Kecil, DPR Soroti Harga Kebutuhan Pokok
Terkini
Lihat Semua