Kronologi Persoalan di PBNU (10): PBNU Kembali Guyub, Kepengurusan Dikembalikan Seperti Semula
NU Online · Rabu, 31 Desember 2025 | 20:30 WIB
Aru Lego Triono
Penulis
Jakarta, NU Online
Drama persoalan di tubuh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) akhirnya menemui titik temu. Persoalan ini berjalan selama satu bulan sejak 20 November 2025. Masing-masing pihak telah bertemu dan menyatakan kesediaannya untuk kembali bersatu.
Susunan kepengurusan, baik tanfidziyah maupun syuriyah, yang sebelumnya mengalami rotasi atau reposisi, kini kembali seperti semula.
NU Online telah merangkum berbagai peristiwa dalam artikel kronologi persoalan di PBNU bagian kesatu hingga kesembilan. Berikut kronologi persoalan di PBNU bagian 10.
25 Desember 2025
Pernyataan KH Muhibbul Aman Aly
NU Online melakukan wawancara eksklusif bersama Rais Syuriyah PBNU KH Muhibbul Aman Aly yang menjadi moderator dalam Rapat Konsultasi Syuriyah dengan Mustasyar di Pesantren Lirboyo, pada 25 Desember 2025. Kiai Muhib menyatakan bahwa Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar menyampaikan pandangan-pandangannya, kronologi, dan harapan-harapannya.
Gus Yahya pun sama, menyampaikan kronologi sampai terjadinya persoalan internal itu. Hal yang paling penting, kata Kiai Muhib, kedua pihak menyampaikan harapannya.
“Jadi, kita sengaja tidak membuka perdebatan soal legalitas pemecatan, karena prinsip kita adalah bukan untuk mencari benar-salah. Target kita adalah rekonsiliasi. Jadi sekali lagi, rapat tadi itu bukan untuk menghakimi mana yang benar, mana yang salah, tetapi targetnya adalah untuk mencapai rekonsiliasi,” kata Kiai Muhib.
Selain Gus Yahya dan Kiai Miftach, Mustasyar PBNU KH Ma'ruf Amin juga menyampaikan harapan-harapannya agar PBNU segera mengakhiri konflik dengan Muktamar yang shahih bilaa syubhatin (sah tanpa syubhat), sehingga tidak menimbulkan konflik yang berbuntut ke belakang.
“Saya menyampaikan, kita sebagai pengurus PBNU punya amanat, punya tanggung jawab, untuk menyelesaikan konflik ini. Kalau kemudian Muktamar malah menimbulkan konflik ke belakang, maka kita berdosa karena kita tidak amanah dalam menjalankan organisasi PBNU ini,” jelas Kiai Muhib.
Ulama sepuh KH Nurul Huda Djazuli juga menyampaikan harapannya untuk segera islah, karena NU punya tanggung jawab amanat dari KH Hasyim Asy’ari. Kiai Nurul Huda banyak berbicara tentang KH Hasyim Asy’ari.
Kiai Muhib menggambarkan suasana Rapat Konsultasi itu tidak untuk mencari pihak yang salah dan benar, serta tidak untuk saling menghakimi. Rapat tersebut digelar demi menuju tercapainya rekonsiliasi untuk mewujudkan Muktamar dalam rangka mengakhiri konflik supaya tidak berkepanjangan.
“Itu intinya. Bahkan suasana rapat tidak tegang, santai, semua menyampaikan dengan baik. Karena para sesepuh semua yang hadir, jadi pandangannya sudah soal ke depan, ya. Bukan soal nafsu. Semuanya, Rais Aam, Mustasyar, dan Ketum juga, tidak dalam rangka menang-menangan, tidak, tetapi dalam rangka menuju rekonsiliasi. Mudah-mudahan ini mendapat ridhonya para rasul dan masyayikh,” kata Kiai Muhib.
Gus Yahya minta maaf
Kiai Muhib mengungkapkan bahwa Gus Yahya meminta maaf kepada Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar. Sebagai orang tua, Kiai Miftach pun memaafkan Gus Yahya. Hal ini membuat suasana menjadi cair. Sebab semua pihak yang hadir punya tujuan yang sama.
“Tujuannya bukan untuk konflik menang-menangan, tetapi tujuannya untuk menyelamatkan Nahdlatul Ulama. Semua punya tujuan yang sama. Jadi semua kepentingan egonya ditaruh di belakang,” jelas Kiai Muhib.
Kiai Muhib berharap, Muktamar Ke-35 NU kelak berjalan lancar dan menghasilkan keputusan-keputusan yang baik. “Tentu berharap konflik ini tidak terjadi lagi di masa yang akan datang,” harapnya.
26 Desember 2025
Gus Yahya sowan Rais Aam
Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) sowan ke kediaman Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar di Surabaya. Pertemuan keduanya ini berlangsung pada 26 Desember 2025 atau sehari setelah pertemuan atau Rapat Konsultasi Syuriyah dengan Mustasyar di Pesantren Lirboyo.
Foto-foto pertemuan keduanya tersebar di media sosial. Di foto itu, Kiai Miftach dan Gus Yahya beserta beberapa jajaran pengurus memperlihatkan keakraban dengan tampak saling tertawa. Warganet mengunggah foto ini dengan membubuhi takarir bernada positif untuk keutuhan Nahdlatul Ulama.
Rapat Koordinasi PWNU se-Indonesia
Sore harinya, Gus Yahya menggelar Rapat Koordinasi PWNU se-Indonesia di aula lantai 8 Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta. Rapat ini dihadiri sejumlah pimpinan PWNU, baik hadir secara daring maupun luring. NU Online mengutus reporter untuk meliput pertemuan ini. Namun tak ada satu pun yang bersedia memberikan keterangan kepada wartawan.
Wakil Ketua Umum PBNU H Amin Said Husni kemudian memberikan salinan digital Surat Pemberitahuan Hasil Rapat Konsultasi dan Penundaan Zoom Meeting.
Surat ini ditandatangani Gus Yahya sebagai Ketum PBNU dan H Faisal Saimima sebagai Wasekjen. Penundaan Zoom Meeting ini tidak ada kepastian tanggalnya. Hanya tertulis "akan dijadwal ulang". NU Online belum mendapatkan konfirmasi lanjutan.
Istighosah di Masjid Raya KH Hasyim Asy'ari
Pada malam harinya, PBNU menggelar acara Istighotsah bertajuk Satu NU Satu Bangsa di Masjid Raya KH Hasyim Asy'ari, Jakarta.
Acara ini dihadiri Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar, Sekretaris Jenderal PBNU H Saifullah Yusuf, KH Imam Jazuli Cirebon, Irfan Asy'ari Sudirman Wahid (Gus Ipang), Wakil Katib Syuriyah PWNU Jakarta KH Taufik Damas, Ketua PWNU Jakarta KH Samsul Maarif, Sekretaris PWNU Jakarta HM Bahauddin, dan Habib Zaidan.
Sejumlah wartawan sempat melakukan wawancara cegat pintu (doorstop) kepada Gus Ipul dan Gus Ipang di Masjid Raya KH Hasyim Asy'ari. Keduanya menyampaikan keterangan terkait acara ini dan persoalan di PBNU.
Pada kesempatan itu, Gus Ipul menegaskan bahwa NU punya caranya sendiri untuk menyelesaikan masalah. Karena itu, sejak awal ia selalu mengarahkan semua pihak untuk menyerahkan solusi persoalan di PBNU kepada para ulama.
"Sudah kita serahkan saja pada ulama. Nanti akan ada solusi yang terkadang kita tidak duga, lewat musyawarah, lewat istikharah, mereka ambil keputusan. Jadi kita ikut saja. Istikharah sudah, musyawarah sudah. Nanti ke depan kita lihat hasilnya," kata Gus Ipul.
Ia juga mengimbau warga dan para pengurus NU di semua tingkatan untuk tetap tenang dalam menyikapi persoalan di PBNU. Ia mengungkapkan tradisi di NU yang kerap saling berseteru (gegeran) tetapi akan diakhiri dengan ger-geran (guyonan ala NU).
"Saya ingin warga NU tetap tenang, pengurus NU tetap tenang, ikuti saja perkembangan-perkembangan yang ada, yang official, jangan terbawa berita-berita hoaks, berita palsu. Tapi ikuti berita-berita yang benar. Ini dalam rangka memberi informasi yang benar, bahwa di NU itu perbedaan pendapat biasa, yang pada akhirnya nanti akan menemukan solusi. Awalnya gegeran akhirnya ger-geran," jelas Gus Ipul.
Wartawan juga menanyakan terkait status KH Zulfa Mustofa hasil Rapat Pleno di Hotel Sultan pada 9 Desember 2025 lalu. Gus Ipul lagi-lagi menjawab agar menunggu keputusan para ulama. Ia tak bisa menyampaikannya secara langsung.
“(Soal rapat pleno) tunggu saja. Tidak bisa saya sampaikan sekarang, tapi tunggu saja. Masih berproses semuanya. Kita belum tahu," jelas Gus Ipul.
Sementara Gus Ipang mengatakan bahwa acara Istighotsah Satu NU Satu Bangsa ini digagas pada dua hari sebelum adanya pertemuan Rapat Konsultasi Syuriyah dengan Mustasyar PBNU di Lirboyo, pada 25 Desember 2025.
"Ide acara ini kan Satu NU satu bangsa. Itu dari dua hari yang lalu. Jadi bukan kebetulan. Itu adalah doa. Jadi akhirnya satu hari setelah ide itu keluar, kemarin pertemuan di Lirboyo, ya hasilnya seperti itu. Ide ini sebelum ada pertemuan di Lirboyo," kata Gus Ipang. “Acara ini doa," sahut Gus Ipul.
Di lokasi yang sama, Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar juga dimintai keterangan oleh awak media yang bertanya mengenai status KH Zulfa Mustofa sebagai Pj Ketua Umum PBNU. Ia mengatakan, hasil Pleno 9 Desember 2025 belum diubah.
Kiai Miftach juga mengaku telah meminta Gus Yahya Yahya untuk tidak tersinggung karena hasil Pleno 9 Desember 2025 belum diubah.
"Ya hasil pleno kan masih belum dinasakh, belum diralat. Sepertinya, kan belum dihapus, ya pleno yang ini. Ya saya sudah bilang, Sampeyan jangan tersinggung kalau pleno yang belum diubah ini, menanti pleno yang akan datang. Seperti itu yang saya sampaikan," kata Kiai Miftach.
Ia juga berbicara soal agenda Muktamar Ke-35 NU yang rencananya akan dipercepat. Namun, Kiai Miftach belum memastikan tanggal dan lokasinya sebelum ada Rapat Pleno berikutnya.
"Muktamar kan dipercepat. Nanti, kan ada pleno. Pleno itu ya nantilah hasilnya bagaimana. Ya memang pleno itu lembaga keputusan yang tertinggi di antara muktamar dan lainnya. Kalau semua itu dibawa ke muktamar, itu lama," kata Kiai Miftach.
27 Desember 2025
Istighosah di Masjid An-Nahdlah Gedung PBNU
NU Online memperoleh pesan berantai dari Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) An-Nahdlah Gedung PBNU H Ahmad Syatiri terkait agenda Istighotsah Tasyakuran Islah.
Acara ini dihadiri oleh sejumlah staf dan karyawan PBNU, serta personel Barisan Ansor Serbaguna (Banser) yang saban hari berjaga di Gedung PBNU. Tidak ada keterangan apa pun yang didapat NU Online. Acara ini berisi istighotsah dan doa bersama untuk keutuhan jam'iyah Nahdlatul Ulama.
28 Desember 2025
Silaturahmi di kediaman KH Miftachul Akhyar
NU Online memperoleh Surat Undangan Silaturahmi bernomor 4962/PB.01/A.I.01.08/99/12/2025 yang ditandatangani Rais Syuriyah KH Muhibbul Aman Aly, Katib Ahmad Nadhif, Ketua Umum KH Yahya Cholil Staquf, dan Wakil Sekretaris Jenderal H Faisal Saimima.
Silaturahmi ini digelar di kediaman Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar, yakni di Pondok Pesantren Miftachussunnah, JI Kedungtarukan Nomor 100 Kota Surabaya, Jawa Timur, pada 28 Desember 2025. Acara dimulai pukul 12.00 WIB.
Sebagaimana tertera di dalam surat, agenda silaturahmi ini merupakan inisiasi dari Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar. "Menindaklanjuti arahan Rais Aam PBNU, dengan ini mengundang Pengurus Besar Harian Syuriyah dan Tanfidziyah untuk hadir dalam kegiatan silaturahmi," demikian bunyi surat itu.
Beredar foto dan video pertemuan
Sekitar pukul 14.00, beredar foto dan video dalam pertemuan di kediaman Kiai Miftach itu. Di antaranya foto Gus Yahya yang di kanan-kirinya terdapat Amin Said Husni dan Gus Ipul. Ketiganya berpose tertawa lepas. Foto ini beredar sangat cepat di linimasa media sosial.
Kemudian beredar foto jajaran pengurus dengan latar belakang logo Nahdlatul Ulama yang terpampang dalam layar besar. Selanjutnya, ada foto makan bersama Gus Yahya beserta beberapa pengurus lainnya. Di foto itu juga ada Kiai Miftach dan Gus Ipul.
Selain foto, ada video juga yang beredar. Video tersebut memperlihatkan Gus Yahya sedang menahan tangis sembari ikut membacakan shalawat saat marhabanan sebelum mahalul qiyam, "Ya rabbi shalli ala muhammad, ya rabbi shalli alaihi wa sallim."
Suasana di kediaman Rais Aam
Usai pertemuan, Gus Yahya berhasil diwawancara cegat pintu (doorstop). Ia menceritakan bahwa isi pertemuan antara Syuriyah-Tanfidziyah PBNU adalah membacakan shalawat secara bersama-sama sebagai upaya memperkuat ikatan batin.
Ia juga mengatakan bahwa kepengurusan NU kembali seperti semula. PBNU akan terus berjalan bersama-sama sampai akhir masa khidmah, sebagaimana mandat dari pertemuan Lirboyo pada 25 Desember 2025.
Ketua PBNU Rumadi menceritakan suasana pertemuan di kediaman Kiai Miftach itu. Ia menggambarkan pertemuan itu berlangsung hangat dan diliputi dengan kegembiraan.
Ia mengucap syukur karena pada pertemuan ini, semua pengurus tertawa gembira bersama, mulai ledek-ledekan dan peluk-pelukan. Rumadi mengatakan bahwa pertemuan ini sangat bersejarah dan menggembirakan semua pihak.
Rumadi menegaskan bahwa PBNU kembali bersatu. Tidak ada yang kalah dan tidak ada yang menang, semuanya adalah Nahdlatul Ulama. Ia menilai pertemuan itu sebagai simbol merayakan lulusnya PBNU dari ujian yang telah diselesaikan secara baik dan bersama-sama.
"Jadi, pertemuan di kediaman Rais Aam (KH Miftachul Akhyar) tidak ada pernyataan apapun kecuali kita muludan, doa bersama, terus makan-makan. Hanya itu saja," jelasnya
Senada, Sekretaris Jenderal PBNU Gus Ipul menggambarkan pertemuan itu sebagai sesuatu yang mengharukan karena para pengurus kembali guyub dan rukun dengan makan bersama dan shalawatan.
Ia memastikan bahwa ke depan, akan ada penjelasan lanjutan mengenai penyelenggaraan Muktamar Ke-35 NU. Gus Ipul mengatakan bahwa penjelasan mengenai Muktamar Ke-35 NU menunggu keterangan dari Kiai Miftach dan Gus Yahya.
"Soal Muktamar nanti akan dibicarakan lebih lanjut. Untuk waktunya, menunggu penjelasan dari Kiai Miftach dan Gus Yahya," katanya
Pertemuan Gus Yahya dengan wartawan
Gus Yahya menggelar pertemuan dengan wartawan di Restoran Ria Galeria Surabaya, usai silaturahmi di kediaman Kiai Miftach. Kepada wartawan, Gus Yahya menegaskan bahwa jajaran PBNU sepakat akan terus bersama sampai akhir masa kepengurusan.
Gus Yahya mengatakan bahwa dalam pertemuan di kediaman Rais Aam itu, semua pengurus diundang, baik tanfidziyah maupun syuriyah. Para pengurus yang sebelumnya terbelah menjadi dua, kini menyatu lagi. Bahkan, satu sama lain sudah mulai saling melucu.
Ia juga menjawab pertanyaan wartawan mengenai komposisi kepengurusan yang sebelumnya mengalami rotasi dan reposisi akibat persoalan yang terjadi di PBNU. Ia memastikan bahwa kepengurusan PBNU kembali seperti semula.
Sebagai informasi, saat persoalan berlangsung, PBNU terbelah menjadi dua. NU Online menamainya Kelompok Sultan dan Kelompok Kramat. Namun kini, sebutan nama itu sudah tak lagi relevan. Rotasi dan reposisi yang terjadi di dua kelompok itu, tak berlaku lagi.
Pihak Gus Yahya sempat merotasi pengurus tanfidziyah. Amin Said Husni dari Waketum menjadi Sekretaris Jenderal, Sumantri Suwarno dari Bendahara menjadi Bendahara Umum, KH Masyhuri Malik dari Ketua menjadi Waketum, dan Gus Ipul dari Sekjen menjadi salah satu Ketua PBNU.
Sementara pihak Kiai Miftach sempat mereposisi sejumlah pengurus. Melalui Rapat Pleno 9 Desember 2025, KH Zulfa dari Waketum menjadi Pj Ketua Umum PBNU. Kemudian M Nuh dari Rais Syuriyah menjadi Katib Aam, dan M Mukri dari Ketua menjadi Waketum PBNU.
Pertemuan di kediaman Rais Aam KH Miftachul Akhyar pada 28 November 2025 secara otomatis membatalkan rotasi dan reposisi kepengurusan itu.
Gus Yahya tetap sebagai Ketum PBNU, Amin Said Husni dan KH Zulfa Mustofa Waketum PBNU, Gus Ipul Sekjen PBNU, KH Masyhuri Malik Ketua PBNU, Mukri Ketua PBNU, KH Akhmad Said Asrori Katib Aam PBNU, M Nuh Rais Syuriyah, Sumantri Suwarno Bendahara, dan Gus Gudfan Arif Bendahara Umum PBNU.
***
Berbagai peristiwa terkait persoalan di PBNU yang terjadi setelah ini atau dalam beberapa hari ke depan akan dilanjutkan dalam artikel kronologi persoalan di PBNU bagian ke-11.
Terpopuler
1
PBNU Tegaskan Aliansi yang Mengatasnamakan Angkatan Muda NU Bukan Bagian dari Organisasi NU
2
Ketum PBNU Respons Penetapan Eks Menag Yaqut Cholil Qoumas sebagai Tersangka Korupsi Kuota Haji
3
Khutbah Jumat: Rajab, Bulan Islah dan Perdamaian
4
Khutbah Jumat: Rezeki yang Halal Menjadi Penyebab Hidup Tenang
5
PWNU Aceh Dukung Pendataan Rumah Terdampak Banjir, Warga Diminta Melapor hingga 15 Januari
6
Khutbah Jumat: Media Sosial dan Ujian Kejujuran
Terkini
Lihat Semua