Nasional

Menteri PPPA Dorong Anak Laki-Laki Berani Ungkapkan Perasaan untuk Jaga Kesehatan Mental

NU Online  ·  Jumat, 6 Februari 2026 | 08:00 WIB

Menteri PPPA Dorong Anak Laki-Laki Berani Ungkapkan Perasaan untuk Jaga Kesehatan Mental

Menteri PPPA Arifatul Choirul Fauzi di Kantor Kementerian PPPA, Jakarta pada Kamis (5/2/2026). (Foto: NU Online/Jannah)

Jakarta, NU Online

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifatul Choiri Fauzi mendorong anak laki-laki agar berani mengungkapkan perasaan dan keluhan yang mereka alami sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan mental.


“Maka salah satu inisiasi yang kami lakukan adalah memperkuat anak laki-laki untuk bisa speak up juga terhadap apa yang dia dialami,” ujarnya di Kantor Kementerian PPPA, Gambir, Jakarta, Kamis (5/2/2026).


Pernyataan tersebut disampaikan Arifah saat menanggapi kasus Y (10), siswa kelas empat Sekolah Dasar (SD) di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang mengakhiri hidup.


Arifah menegaskan bahwa anak laki-laki, sama seperti anak perempuan, membutuhkan penguatan mental dan emosional serta ruang aman untuk mengekspresikan perasaan dan mencari bantuan ketika menghadapi tekanan.


Menurutnya, anggapan bahwa anak laki-laki harus selalu tampil kuat dan tidak boleh mengeluh masih cukup kuat di tengah masyarakat.


“Anak laki-laki itu boleh loh curhat, karena sekarang anak laki-laki dipaksa harus kuat, anak laki-laki itu pokoknya tidak boleh mengeluh, anak laki-laki itu pokoknya paling hebat, itu yang muncul di budaya kita,” katanya.


Ia menilai stereotipe maskulinitas yang mengakar justru membuat banyak anak laki-laki memilih diam, enggan melapor, dan akhirnya tidak mendapatkan penanganan yang semestinya.


“Tapi kenyataannya bahwa anak laki-laki itu juga manusia, bahkan banyak kasus bahwa anak laki-laki juga mengalami kekerasan,” ucap Arifah.


Kondisi tersebut, lanjutnya, berdampak serius pada kesehatan mental anak dan berpotensi melanggengkan siklus kekerasan, baik terhadap diri sendiri maupun orang lain.


Ia menambahkan, stigma maskulinitas yang menuntut laki-laki selalu mandiri dan menahan emosi kerap menjadi beban psikologis sejak usia dini. Akibatnya, banyak persoalan pribadi dipendam sendiri dan berisiko mempengaruhi kesehatan mental serta perilaku sosial remaja.


“Kita tidak menginginkan anak-anak kita yang mungkin punya semangat luar biasa untuk bisa menempuh pendidikan, tapi karena kondisi yang mungkin belum memungkinkan sehingga dia tidak punya teman untuk berbicara, dia tidak punya saluran untuk menyampaikan keresahan yang dia alami,” pungkasnya.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang