Nasional

Pengamat Nilai NU Alami Egalitarianisasi Kepemimpinan, Generasi Pengurus Makin Muda

NU Online  ·  Kamis, 5 Februari 2026 | 18:30 WIB

Pengamat Nilai NU Alami Egalitarianisasi Kepemimpinan, Generasi Pengurus Makin Muda

Suasana diskusi publik di aula kantor PKB, Jakarta, pada Kamis (5/2/2026). (Foto: NU Online/Suci)

Jakarta, NU Online

Pengamat Fachry Ali menilai Nahdlatul Ulama (NU) di abad kedua mengalami gejala egalitarianisasi kepemimpinan yang ditandai dengan munculnya generasi pengurus yang semakin muda di tubuh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).


Menurutnya, proses tersebut terlihat dari perubahan komposisi aktor-aktor di PBNU sejak era Ketua Umum KH Said Aqil Siroj hingga KH Yahya Cholil Staquf.


"Semakin lama para pengurus, aktor-aktor dalam PBNU itu lebih muda dari saya, jadi memang betul-betul mengalami kepemudaan," katanya dalam diskusi publik bertema Transformasi Nahdlatul Ulama Memasuki Abad Kedua di Aula Kantor PKB Jakarta, Kamis (5/2/2026).


Fachry menjelaskan, proses kepemudaan itu turut mengubah karakter sosial NU. Menurutnya, egalitarianisasi dipengaruhi oleh dinamika politik nasional pascareformasi yang mendorong banyak aktor terbaik NU masuk ke lembaga politik, termasuk Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).


"Jadi antara aktor NU di PBNU dengan aktor NU di dalam PKB, posisi strukturalnya sama. Sama-sama mengalami sekularisasi,” imbuhnya.


Lebih jauh, Fachry menilai kekuatan spiritual yang pada masa lalu terlembagakan dalam figur-figur besar NU kini semakin melemah.


"Jadi kekuatan rohaniah spiritual yang terlembagakan pada pribadi besar semakin lama tercerabut dari tokoh-tokoh NU," ujarnya.


Dari sisi demografi ekonomi, ia melihat basis anggota NU tidak berkembang menjadi kekuatan modal yang signifikan. Menurutnya, kelompok pedagang pasar yang selama ini menjadi bagian dari komunitas NU tidak mengalami perubahan berarti dalam kepemilikan kekayaan.


"Para pedagang di pasar, dari kakek sampai cucu, tidak ada perubahan yang berarti dalam konteks kepemilikan kekayaan," katanya.


Di sisi lain, ia menilai warga NU kini mengalami proses modernisasi melalui pendidikan, sehingga akar agraria mereka semakin sulit dilacak.


"Mereka adalah modernized people, mereka telah mengalami modernisasi seperti proses pendidikan," ujar Fachry.


Dengan tumbuhnya tokoh-tokoh berkualitas di tubuh NU, ia menegaskan pandangan mereka semestinya terakomodasi dalam struktur kepemimpinan yang kini semakin muda.


"Mereka menjadi anggota NU. Sebagai akibatnya, pandangan mereka harus terakomodasi dalam sebuah struktur kepemimpinan yang makin muda,” pungkasnya.


Lemahnya peran leading sector

Pengamat politik Prof Muhammad AS Hikam menilai peran leading sector yang dulu dipegang NU dalam masyarakat sipil kini semakin memudar. Ia menyebut PBNU saat ini sulit dikatakan sebagai bagian utama dari leading sector civil society.


"Alih-alih memimpin gerakan atau proses kritik perbaikan dalam konteks politik yang lebih demokratis, NU terlalu dekat dengan kekuasaan," jelasnya.


Ia menilai NU tengah mengalami regresi dalam beberapa aspek, mulai dari kualitas sumber daya manusia, fragmentasi dan loyalitas internal, hingga budaya politik yang dinilainya tidak lagi emansipatoris.


"Kita memerlukan transformasi tanpa menghilangkan budaya itu. Jika tidak, NU akan menghadapi regresi,” tandasnya.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang