Tak Pernah Dikunci, Masjid Jami Hidayatullah Jadi Wajah Islam Ramah di Jalur Pantura
NU Online · Rabu, 31 Desember 2025 | 20:00 WIB
Subang, NU Online
Masjid Jami Hidayatullah yang berada di Jalan Pantura Ciwaringin, Kecamatan Patokbeusi, Jawa Barat menjadi salah satu masjid ramah pemudik yang membuka layanan 24 jam selama libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025-2026.
Masjid ini melayani ratusan pemudik yang melintas di jalur Pantura dengan menyediakan ruang ibadah, toilet, tempat wudu, serta area istirahat yang bersih dan aman.
Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Masjid Jami Hidayatullah Ustaz Abdul Ghofur mengatakan masjid sengaja dibuka tanpa dikunci untuk memudahkan musafir dan masyarakat umum yang membutuhkan tempat singgah.
Menurutnya, banyak pemudik mengalami kelelahan di perjalanan dan membutuhkan ruang istirahat yang layak sebelum melanjutkan perjalanan.
Baca Juga
Keutamaan Membangun Masjid
“Kami membuka masjid ini 24 jam agar pemudik tidak kesulitan mencari tempat istirahat. Masjid harus hadir memberi kemudahan, terutama bagi mereka yang menempuh perjalanan jauh,” ujar Abdul Ghofur saat ditemui di lokasi, Selasa (30/12/2025).
Ia menjelaskan, masjid menyediakan ruang beristirahat yang dapat digunakan pemudik untuk sekadar melepas lelah, salat, maupun berbaring sejenak. Ruangan ini tepat berada di depan area masjid berdekatan dengan kantin, serta toilet umum.
“Toilet umum dan toilet jemaah ini letaknya terpisah, sehingga tidak akan mengganggu jemaah yang sedang beribadah. Selain itu, meski tidak setiap hari menyediakan makanan dan minuman, pada momen tertentu seperti Jumat Berkah, pengurus masjid menyiapkan makanan ringan bagi jamaah dan musafir,” ujarnya.
Menurut Abdul Ghofur, pembukaan masjid selama Nataru dilandasi kepedulian sosial, meskipun momentum ini bukan hari besar keagamaan Islam. “Libur akhir tahun tetap membuat mobilitas masyarakat meningkat. Kami ingin masjid menjadi tempat yang menenangkan dan membantu keselamatan perjalanan,” katanya.
Ia menambahkan, Masjid Jami Hidayatullah merupakan bangunan baru, digunakan sejak 2024 dan diresmikan pada Ramadan 2024. Masjid ini dibangun menggunakan dana pribadi dari Syarif Hidayat dan sejak awal diniatkan sebagai masjid yang terbuka serta dekat dengan kebutuhan masyarakat sekitar dan para musafir.
Sementara itu, pengurus DKM Bidang Keamanan, Soma, mengatakan pengamanan masjid dilakukan secara bergilir oleh petugas, pihaknya melibatkan Penyuluh Agama Idlam setempat. Menurutnya, selama libur Nataru, pengurus menyiagakan petugas untuk memastikan kenyamanan dan keamanan para pemudik yang singgah.
“Petugas keamanan selalu ada. Semua sisi di masjid ini juga sudah dilengkapi dengan Closed Circuit Television (CCTV). Kami memastikan masjid tetap aman, bersih, dan tertib meski dibuka 24 jam. Selain itu, keberadaan petugas juga membantu pemudik yang membutuhkan informasi atau bantuan ringan saat beristirahat,” ujar Soma.
Menurut Soma, selama libur akhir tahun ini, jumlah pemudik yang singgah mencapai ratusan orang. Mereka datang dari berbagai daerah dengan tujuan berbeda, baik untuk mudik, liburan, maupun perjalanan antarprovinsi.
Ia menegaskan, keterbukaan masjid tidak menimbulkan kendala berarti karena didukung kesadaran jamaah dan warga sekitar. “Alhamdulillah, sejauh ini berjalan tertib. Warga juga ikut menjaga,” katanya.
Dihubungi terpisah, Kasubdit Kemasjidan Ditjen Bimas Islam Kemenag Nurul Badruttamam menyampaikan, program Masjid Ramah Pemudik yang dijalankan Masjid Jami Hidayatullah sejalan dengan kebijakan Kemenag. Dijelaskannya, pada momentum libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026, Kemenag menyiapkan 6.919 Masjid Ramah Pemudik di berbagai daerah untuk melayani masyarakat yang melakukan perjalanan.
“Program tersebut merupakan bagian dari upaya Kemenag menghadirkan masjid sebagai ruang publik yang aman, bersih, dan nyaman bagi para musafir, baik pada arus mudik maupun arus balik,” ujarnya di Jakarta, Selasa (30/12/25).
Menurut Nurul, Masjid Ramah Pemudik merupakan penguatan fungsi sosial masjid sebagaimana kebijakan masjid ramah yang dikembangkan Kemenag, termasuk masjid ramah lansia, ramah anak, ramah perbedaan, dan ramah lingkungan.
“Kehadiran masjid sebagai tempat istirahat dinilai memiliki peran penting dalam mendukung keselamatan perjalanan masyarakat selama masa libur panjang,” pungkasnya.
Terpopuler
1
PBNU Tegaskan Aliansi yang Mengatasnamakan Angkatan Muda NU Bukan Bagian dari Organisasi NU
2
Ketum PBNU Respons Penetapan Eks Menag Yaqut Cholil Qoumas sebagai Tersangka Korupsi Kuota Haji
3
Khutbah Jumat: Rajab, Bulan Islah dan Perdamaian
4
Khutbah Jumat: Rezeki yang Halal Menjadi Penyebab Hidup Tenang
5
PWNU Aceh Dukung Pendataan Rumah Terdampak Banjir, Warga Diminta Melapor hingga 15 Januari
6
Khutbah Jumat: Media Sosial dan Ujian Kejujuran
Terkini
Lihat Semua