Opini

Sudah Santrikah Hari-hari Kita?

Kamis, 17 Oktober 2019 | 03:15 WIB

Sudah Santrikah Hari-hari Kita?

Logo Hari Santri 2019

Oleh Dede Wahyudin

Gelora semangat memperingati hari santri 22 Oktober membanjiri media massa dimana-mana. Dari pemutaran film, pembuatan aplikasi NUKids, gelaran tablig akbar, apel upacara bendera, dan sebagainya. Serangkaian seremoni itu disemangati keberislaman yang moderat. Momen ini menjadi penting di tengah praktik keberagamaan yang radikal, surplus fanatisme, sentimen buta, religiuisitas minus ilmu, dan ujaran kebencian serta ketersebaran hoaks yang merugikan persaudaraan seiman.

Negara dan bangsa yang kuat yang terdiri dari rumah tangga yang memiliki pondasi yang kuat yang merawat pribadi-pribadi muslim dengan ilmu pengetahuan yang kuat. Tentu saja pondasi rumah yang dimaksud tidak hanya fasilitas atau perabotan rumah yang lengkap plus dengan kendaraan dan gadgetnya. Melainkan pondasi yang dimaksud adalah pondasi keilmuan sebagaimana Muslim abad pertengahan yang dapat mewarnai peradaban dunia. Ini penting dipikirkan bersama, betapa rumah yang kosong dari pondasi ilmu pengetahuan akan menjadi keluarga yang berisi pribadi-pribadi yang lemah dan rapuh, karenanya menjadi objek dan tergilas di dunia internet.

Penguasaan ilmu pengetahuan menjadi kunci peradaban Islam. Di era revolusi industri 4.0 ini wajah ilmu pengetahuan Islam harus mendominasi internet. Cyber war berlangsung setiap saat dan dimana-mana. Apabila kita sebagai orang tua tidak menjadi subjek dalam arena media sosial, maka anak kita tidak memiliki jangkar kebenaran. Dengan semangat hari santri ini, Kita tanamkan pada diri kita sebagai orang tua untuk menjadi subjek di tengah derasnya perkembangan teknologi. Sehingga anak kita tidak menyembah gadget, tetapi patuh dan taat kepada aturan rumah yang kita tetapkan.  

Dalam membangun aturan rumah, kita bisa mencontoh kearifan lokal yang telah diwariskan para pendahulu kita. Kearifan itu harus kita lestarikan dan dijaga, disebarkan, dan diamalkan. Seperti sikap kesederhanaan dalam hidup, kecerdasan yang tidak menciderai orang lain, kepekaan sosial, menjunjung tinggi martabat kemanusiaan. Disimpulkan dalam slogan-slogan yang mudah dipahami sebut saja misalnya slogan yang lazim di pulau Jawa seperti “mikul nduwur mendem jero”, “sugih tanpa benda, sakti tanpa digdaya, kuat tanpa ngasorake”.  

Kita harusnya tidak sulit-sulit amat dalam membangun rumah yang kokoh, karena kita hidup di alam dimana didalamnya bersemayam nilai-nilai Islam Nusantara. Ini dapat dijadikan modal dasar kita untuk membangun peradaban melalui anak-anak yang kita besarkan dengan susah payah. 

Kita insafi bahwa anak-anak kita sekarang sudah masuk pada zaman milenial, dimana gadget sudah menjadi pengganti peran orang tua karena intensitas interaksi dengannya hampir separuh waktu dalam setiap hari. Dimana peran kita sebagai orang tua bagi pendidikan agama dasar anak kita? Agar kita tidak tergantikan oleh gadget, kita harus berusaha mencari ustad-ustad kampung yang bersanad jelas, bukan dari seliweran share link, meme atau video di dalam gadget kita. Kita harus mulai sadar penting membangun relasi dengan ustad-ustad di kampung kita masing-masing untuk mendidik anak-anak kita agar tidak buta agama.

Di sini pentingnya kita menyiapkan rumah tangga yang santri, rumah yang bertebar informasi-informasi ilmu pengetahuan, bukan rumah tangga yang gaduh seputar informasi youtube, twitter, facebook, WhattApps dan Instagram. Saatnya kita kembalikan marwah rumah kita dari ketergantungan kepada gadget menjadi ketergantungan dengan ilmu pengetahuan dengan cara menghidupkan suasana rumah dengan kajian-kajian keIslaman. Kiranya kita perlu aturan yanng membatasi penggunaan gadget anak-anak kita, termasuk kita sebagai orang tua tidak menyibukkan diri bermedsos di depan anak-anak. Kita harus sekuat tenaga, komitmen dalam aturan-aturan rumah yang jelas dan tegas dan dipastikan dapat dijalankan oleh seluruh anggota riumah tanga kita. Dengan begitu, kita dan anak-anak kita akan menjadi subyek di dunia maya.

Semoga hari santri ini menjadikan rumah dan anak-anak kita santri setiap hari. Amiin.
 
 
Penulis adalah Kaprodi Hukum Keluarga Islam ISIF Cirebon