Internasional

Perjalanan Dakwah di Palgongsan: Menyebarkan Pesan Islam, Mengurai Tantangan Ibadah di Korsel

Selasa, 1 April 2025 | 22:00 WIB

Perjalanan Dakwah di Palgongsan: Menyebarkan Pesan Islam, Mengurai Tantangan Ibadah di Korsel

Saat di Korsel umat Islam harus pandai-pandai memanfaatkan tempat yang ada untuk shalat. (Foto: dok M Irsad Khamzah)

Daegu, NU Online 
Selama tugas dakwah Ramadhan 1446 Hijriah saya mendatangi beberapa titik atau daerah di Korea Selatan. Salah satunya pada Ahad (9/3/2025), saya bersama tiga pengurus Masjid Al Hikmah di Korea Selatan melakukan perjalanan dakwah di Palgongsan di wilayah Dong-gu, Daegu.


Perjalanan ini bukan hanya bertujuan untuk membuat konten dakwah yang akan diunggah di kanal YouTube resmi PCINU Korea Selatan, tetapi juga untuk menunjukkan tantangan nyata yang kami hadapi sebagai umat Islam di Korea Selatan, terutama dalam mencari tempat untuk melaksanakan sholat.


Setelah berangkat dari Masjid Al Hikmah sekitar pukul 14.00 KST, kami menempuh perjalanan dua jam. Setibanya di Palgongsan sekitar pukul 16.00 KST, kami langsung menikmati udara pegunungan yang sejuk serta pemandangan alam yang luar biasa indah—hutan pinus yang rimbun, bebatuan besar, dan kuil-kuil tua yang tersebar di sepanjang perjalanan. Keindahan alam ini sangat mengesankan dan mengingatkan kami pada kebesaran Allah yang Maha Pencipta. Namun, perjalanan dakwah kali ini tidak hanya berisi keindahan alam, tetapi juga tantangan yang cukup besar.


Salah satu pengalaman yang sangat berkesan dalam perjalanan ini adalah saat kami naik kereta gantung, yang oleh penduduk setempat disebut bondolan, untuk menuju puncak gunung. Meskipun cuaca cukup cerah, kereta gantung yang kami tumpangi sempat membuat kami merasa sedikit takut. Namun, kami mencoba menghilangkan rasa cemas itu dengan melantunkan shalawat bersama. Suasana yang tenang, ditambah suara angin yang sepoi-sepoi, memberikan kedamaian yang luar biasa di tengah perjalanan yang mendebarkan tersebut.

 

Sesampainya di puncak gunung, kami langsung memulai pengambilan video dakwah yang telah kami persiapkan sebelumnya. Setelah kegiatan dakwah selesai, kami menyadari bahwa waktu sholat Ashar sudah semakin dekat. Seperti yang sudah kami duga sebelumnya, kami kesulitan menemukan tempat ibadah di sekitar kawasan tersebut. Masjid atau tempat shalat yang mudah dijangkau di Korea Selatan memang sangat terbatas, terutama di daerah yang tidak memiliki komunitas Muslim besar.


Mengingat waktu shalat yang semakin mendesak, kami pun mencari tempat untuk melaksanakan shalat. Setelah sedikit mencari, kami memutuskan untuk melaksanakan shalat di sebuah bangunan kayu sederhana yang berada di sebelah parkiran. Meskipun fasilitasnya tidak memadai, kami tetap berusaha melaksanakan ibadah dengan penuh ketulusan.

 

Tantangan lain muncul ketika kami harus berwudhu. Mengingat jarangnya fasilitas wudhu di tempat-tempat umum, kami akhirnya terpaksa menggunakan toilet umum untuk berwudhu. Kami harus mengangkat kaki ke wastafel agar bisa membasuh kaki dengan benar. Kondisi ini tentu jauh dari kenyamanan yang kami harapkan, namun kami tetap bersabar dan menjalankan ibadah dengan penuh keikhlasan, memahami bahwa dalam Islam, yang terpenting adalah kebersihan dan kesucian tempat.


"Islam itu mudah. Selama tempat tersebut bersih dan suci, maka sholat bisa dilaksanakan di mana saja," ujar Abdul Haris, imigran asal Pati, Jawa Tengah, yang turut serta dalam perjalanan ini.

 

Pak Haris menjelaskan bahwa meskipun di Korea Selatan sulit untuk menemukan masjid atau tempat ibadah yang memadai, umat Islam harus tetap bisa menjalankan ibadah dengan cara yang praktis. "Di sini (Korea Selatan), mencari masjid tidak semudah di Indonesia, di mana masjid dapat ditemukan di hampir setiap sudut. Karena itu, umat Islam harus pandai menyiasati keadaan agar tetap bisa menjalankan ibadah dengan baik,” tambahnya.


Perjalanan ini memberikan banyak pelajaran berharga bagi saya dan rekan-rekan. Kami menyadari bahwa umat Islam di Korea Selatan harus beradaptasi dengan kondisi sekitar untuk tetap menjalankan ibadah meskipun dengan keterbatasan tempat dan fasilitas.


Keindahan alam yang kami nikmati di Palgongsan menjadi pengingat akan kebesaran Allah, sementara tantangan mencari tempat sholat dan berwudhu mengajarkan kami tentang kesabaran dan ikhlas dalam menjalankan agama, meskipun dalam keadaan yang tidak ideal.


Perjalanan ini juga mengajarkan kami tentang pentingnya fleksibilitas dalam beribadah, dengan meyakini bahwa Islam adalah agama yang penuh kemudahan, selama kita menjalankannya dengan cara yang benar.


M Irsad Khamzah, Dai Go Global LD PBNU 2025 dengan penugasan ke Korea Selatan. Program ini bekerja sama dengan NU Care-LAZISNU.