Alissa Wahid Ungkap Gus Dur saat Memimpin NU: Jaga Jarak dengan Kekuasaan
NU Online · Sabtu, 20 Desember 2025 | 22:35 WIB
Ketua Panitia Haul ke-16 Gus Dur, Alissa Qotrunnada Wahid saat menyampaikan sambutan, berlangsung di Ciganjur (Foto: NU Online/Risky)
Achmad Risky Arwani Maulidi
Kontributor
Jakarta, NU Online
Ketua Panitia Haul ke-16 Gus Dur, Alissa Qotrunnada Wahid mengungkapkan tentang kepemimpinan KH Abdurrahman Wahid saat menjadi Ketua Umum PBNUÂ 1984-1999.Â
"Dalam kepemimpinan Gus Dur, NU bergerak menjadi pemimpin gerakan masyarakat sipil, gerakan rakyat," ujarnya saat sambutan di kediaman Gus Dur, Ciganjur, Jakarta (20/12/2025) malam.
Ia mengemukakan, semasa menjabat ketua umum PBNU, Gus Dur selalu berada di barisan masyarakat sipil. Bahkan, kiprah Gus Dur tidak hanya untuk kalangan Nahdliyin.
"Tidak hanya mengurus jamaahnya saja, NU bersama Gus Dur mengajak para pemuka agama lain untuk terus memperjuangkan kedaulatan rakyat, terutama dalam masa rezim militer Orde Baru, menolak penindasan kepada rakyat atas nama pembangunan," jelasnya di hadapan ratusan jamaah dan para tokoh yang hadir.
Alissa pun menyampaikan, selama menjabat presiden, NU tidak diberikan privilege terlebih konsesi tambang. Sebaliknya, ia menganjurkan agar NU tetap mengontrol roda pemerintahan yang dipimpinnya.
"Namun, jangankan merayu dengan memberi konsesi tambang, Gus Dur justru sebagai presiden mengingatkan warga NU bahwa NU harus terus kritis kepada penguasa," ucapnya.
Pasalnya, lanjut Alissa, hal demikian sudah menjadi tugas para kiai dan nyai, yakni memikirkan kemaslahatan umum di atas kemaslahatan pribadi atau kelompok. Olah karena itu, NU perlu menjaga jarak dengan kekuasaan.
"Dawuh Gus Dur, NU harus menjaga bandul keseimbangan kekuasaan dan terus mengingatkan akan ... bahwa kekuasaan adalah untuk rakyat," tegas Putri sulung Gus Dur itu.
Sebelumnya, agenda haul ini diawali dengan pembacaan tahlil oleh Rais Syuriyah PBNU KH Muadz Thahir, dilanjutkan dengan doa oleh Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng KH Abdul Hakim Mahfidz dan Imam Besar Masjid Istiqlal Prof Nasaruddin Umar.
Â
Terpopuler
1
Pemerintah Tetapkan Idul Adha 1447 H Jatuh 27 Mei 2026
2
Tim Hisab Rukyat: Hilal Awal Dzulhijjah 1447 H Penuhi Kriteria MABIMS, Idul Adha Diperkirakan 27 Mei 2026
3
Hilal Terlihat, PBNU: Idul Adha 1447 H Rabu, 27 Mei 2026
4
Ambruknya Rupiah Dinilai Tekan Rakyat Kecil, DPR Soroti Harga Kebutuhan Pokok
5
Rupiah Terus Melemah, Anggota DPR Minta Gubernur BI Mundur dari Jabatan
6
Pesantren Didorong Jadi Benteng Perlindungan Anak dan Perempuan di Tengah Perkembangan AI
Terkini
Lihat Semua