Nasional BANJIR SUMATRA

LKK PBNU: Pemulihan Psikososial Jadi Kebutuhan Mendesak Pascabencana di Agam dan Kota Padang 

NU Online  ·  Ahad, 1 Februari 2026 | 09:00 WIB

LKK PBNU: Pemulihan Psikososial Jadi Kebutuhan Mendesak Pascabencana di Agam dan Kota Padang 

Dukungan psikososial kepada warga pascabencana di Jorong Bancah, Meninjau, Kabupaten Agam Sumbar (Foto: LKK PBNU)

Jakarta, NU Online

Bencana alam banjir dan tanah longsor yang menimpa di Sumatra Barat, Aceh, dan Sumut menimbulkan duka yang sangat mendalam. Tidak hanya mengalami kerusakan infrastruktur yang masif, bencana juga berdampak kepada warga yang mengalami penurunan ketahanan psikis dan emosi. 


Sekretaris Lembaga Kemaslahatan Keluarga Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LKK PBNU), Ai Maryati Sholihah, menegaskan pentingnya pemulihan psikososial bagi masyarakat terdampak bencana di Kabupaten Agam, dan Kota Padang 


Menurutnya, pendampingan psikososial menjadi kebutuhan mendesak pascabencana, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak dan perempuan.

 

Ai Maryati menjelaskan, setelah sebelumnya LKK PBNU memberikan dukungan psikososial di Sumatra Barat, Aceh, pihaknya melihat dampak pascabencana yang cukup luas, khususnya pada aspek psikis penyintas. Oleh karena itu, pendekatan psikososial diperlukan untuk membantu memulihkan rasa aman, nyaman, serta stabilitas psikologis korban, sekaligus memacu semangat hidup agar dapat kembali tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat.

 

“Pemulihan ini sangat penting untuk mengembalikan rasa percaya diri, mengelola emosi, serta meminimalisir kemungkinan dampak jangka panjang dari bencana ekologis, terutama pada anak-anak dan perempuan sebagai kelompok rentan,” ujar Maryati kepada NU Online, Jumat (30/1/2026).


Ia menambahkan, pendekatan kemaslahatan keluarga yang dilakukan LKK PBNU bertujuan memberikan dukungan secara optimal, baik pada individu maupun dalam lingkup keluarga. Pendekatan tersebut dipandang sebagai fondasi penting untuk mengembalikan kehidupan yang wajar pascabencana.


Saat ini, LKK PBNU tengah melakukan pendampingan di Kota Padang dan Kabupaten Agam, Sumatera Barat, selama lima hari. Di dua wilayah tersebut, LKK PBNU melatih relawan sebanyak 21 orang di Kabupaten Agam dan 26 orang di Kota Padang. Para relawan ini nantinya akan terus dimonitor untuk melakukan jangkauan layanan psikososial di berbagai lokasi yang membutuhkan.

 

Dua lokasi pascabencana tersebut menjadi titik awal bagi tim LKK PBNU bersama relawan untuk melakukan identifikasi kebutuhan psikososial warga terdampak. Pendampingan difokuskan pada anak-anak dan ibu rumah tangga yang dinilai membutuhkan perhatian khusus.

 

Menurut Maryati, isu psikososial yang paling mendesak adalah kebutuhan pendekatan yang bersumber dari potensi lingkungan itu sendiri. Salah satunya melalui penguatan spiritual dan emosional dengan menanamkan nilai-nilai keagamaan agar penyintas mampu berserah diri kepada takdir, namun tetap diimbangi dengan upaya aktif untuk melanjutkan kehidupan.


Pendekatan terhadap anak-anak juga menjadi perhatian utama, terutama untuk menumbuhkan kembali semangat belajar dan melanjutkan pendidikan. Pascabencana, tidak sedikit anak-anak yang terdampak secara psikologis maupun dalam keseharian mereka, seperti terhambatnya aktivitas sekolah, kondisi lingkungan yang rusak, hingga ingatan traumatis terhadap peristiwa bencana. Kondisi tersebut membutuhkan ruang pelepasan emosi melalui pendekatan individu, kolektif, maupun keluarga.


Dalam pelaksanaan pendampingan, LKK PBNU menjadikan nilai-nilai tradisi Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) sebagai landasan. LKK PBNU memiliki panduan tersendiri dalam memberikan dukungan psikososial, dimulai dari pendekatan psikologis untuk menciptakan rasa aman, nyaman, tenang, dan damai bagi korban yang mengalami kecemasan, ketakutan, keresahan, hingga gangguan seperti mimpi buruk dan kecenderungan menarik diri dari lingkungan.


“Jika ditemukan kebutuhan intervensi psikologis lanjutan, kami akan melakukan rujukan. LKK PBNU memiliki tenaga psikolog yang kompeten dan kami bawa langsung ke lapangan,” jelasnya.

 

Lebih lanjut, Ai Maryati menekankan bahwa LKK PBNU bergerak dalam ranah penguatan ketahanan keluarga dengan membangun kembali nilai-nilai kemaslahatan keluarga. Ketahanan keluarga dimaksud adalah memperbaiki relasi individu dan keluarga yang terganggu akibat bencana, termasuk karena rasa kecewa maupun kehilangan anggota keluarga.


Sebagai tindak lanjut, LKK PBNU juga melatih relawan agar konsisten memberikan dukungan, informasi, serta memantau perkembangan psikologis penyintas setelah pelayanan diberikan. Hal ini dilakukan melalui pemetaan potensi masyarakat dan kebutuhan yang ada, serta memastikan keberlanjutan pendampingan meski tim pusat telah kembali ke Jakarta.

 

Ai Maryati menegaskan pentingnya dukungan sosial dalam proses pemulihan. Menurutnya, penyintas membutuhkan ruang untuk bercerita, saling menguatkan, serta keterbukaan untuk menerima pendampingan profesional apabila dibutuhkan.

 

“Kita menerima bencana sebagai takdir Tuhan secara sadar, namun juga berupaya menumbuhkan kembali rasa percaya, semangat hidup, dan keberlanjutan kehidupan,” tuturnya.

 

Ia berharap upaya tanggap bencana yang dilakukan bersama NU Care-LAZISU, LPBI NU, dan Kementerian Agama (Kemenag) terus dimonitor, tidak hanya pada aspek hunian sementara dan fasilitas umum, tetapi juga pada pemulihan psikososial, khususnya bagi anak-anak dan keluarga terdampak. 


Pihak LKK PBNU berencana melakukan koordinasi lanjutan dengan Lazisnu dan mitra terkait untuk memastikan keberlanjutan program psikososial bagi penyintas bencana di Aceh dan Sumatera Barat, sementara wilayah Sumatra Utara masih belum dapat dijangkau sepenuhnya.

Gabung di WhatsApp Channel NU Online untuk info dan inspirasi terbaru!
Gabung Sekarang