Prediksi Awal Ramadhan 1447 H Menurut Kajian Ilmu Falak PWNU Aceh
NU Online · Sabtu, 7 Februari 2026 | 08:00 WIB
Helmi Abu Bakar
Kontributor
Lhokseumawe, NU Online
Provinsi Aceh selama ini menjadi titik penting dalam penentuan awal Ramadhan. Karena wilayah yang dijuluki Serambi Makkah itu berada di wilayah paling barat Indonesia. Kondisi tersebut menjadikan Aceh memiliki keuntungan geografis yang signifikan dalam pengamatan hilal. Saat matahari terbenam, posisi bulan di atas ufuk lebih tinggi dibanding daerah lain di Indonesia. Ini membuat peluang melihat hilal lebih besar, terutama di titik-titik strategis seperti Sabang, Lhoknga, dan Calang.
Ketua Lembaga Falakiyah PWNU Aceh, Tgk Ismail, menjelaskan bahwa secara astronomi terdapat tiga parameter utama yang menjadi acuan dalam menentukan awal bulan Hijriah, yakni konjungsi (ijtima'), tinggi hilal, dan sudut elongasi Bulan. Ketiga parameter ini saling berkaitan dan menjadi dasar untuk menilai apakah hilal memungkinkan terlihat (imkanur rukyah) atau tidak pada saat Matahari terbenam.
“Konjungsi adalah titik awal perhitungan, yaitu saat bulan dan matahari berada pada bujur ekliptika yang sama. Namun konjungsi saja belum cukup, karena setelah itu kita harus melihat posisi bulan saat matahari terbenam,” ujarnya
Lebih lanjut, akademisi Ilmu Falak Universitas Islam Negeri Sultan Nahrasiyah Lhokseumawe itu mengatakan, berdasarkan data hisab falakiyah, penentuan awal Ramadhan 1447 Hijriah berkaitan dengan posisi hilal pada Selasa, 17 Februari 2026 M, yang bertepatan dengan 29 Sya'ban 1447 H.
"Pada hari tersebut, konjungsi geosentrik terjadi pada pukul 19.01.07 WIB. Artinya, saat Matahari terbenam di seluruh wilayah Indonesia, peristiwa konjungsi belum terjadi. Akibatnya, posisi Bulan pada saat Matahari terbenam masih berada di bawah ufuk barat," paparnya.
Tgk Ismail menjelaskan bahwa ketinggian hilal di Indonesia pada hari itu berkisar antara minus 1 derajat lebih hingga minus 2 derajat lebih. Dengan posisi seperti ini, Bulan secara astronomis mustahil dapat dirukyat karena belum berada di atas ufuk.
"Selain tinggi hilal, parameter penting lainnya adalah sudut elongasi bulan, yaitu jarak sudut antara bulan dan matahari. Pada Selasa, 17 Februari 2026, sudut elongasi bulan di Indonesia hanya berkisar antara kurang dari 1 derajat hingga sekitar 1 derajat 50 menit. Nilai ini jauh di bawah batas minimal visibilitas hilal," sambungnya
Tgk Ismail menegaskan bahwa sejak tahun 2021, negara-negara anggota MABIMS, Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura, telah menyepakati kriteria baru penentuan awal bulan Hijriah. Dalam kriteria tersebut, hilal dinyatakan memenuhi syarat jika tinggi bulan minimal 3 derajat dan sudut elongasi minimal 6,4 derajat pada saat Matahari terbenam setelah konjungsi.
“Jika kita bandingkan dengan data Ramadhan 1447 H, maka jelas seluruh kriteria MABIMS belum terpenuhi. Baik konjungsi, tinggi hilal, maupun elongasi semuanya belum masuk batas imkanur rukyah,” katanya
Berdasarkan kajian ilmu falak tersebut, Lembaga Falakiyah PWNU Aceh mencatat pandangan awal bahwa bulan Sya'ban 1447 H bakal digenapkan menjadi 30 hari. Dengan demikian, PWNU Aceh memprediksi awal bulan Ramadhan 1447 Hijriah diprediksi bakal jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026.
Kajian falak ini menurut Tgk Ismail diharapkan dapat membantu umat Islam memahami proses ilmiah penentuan awal bulan Hijriah, sehingga dapat menyambut Ramadhan dengan penuh ketenangan, keyakinan, dan sikap saling menghormati dalam bingkai ukhuwah.
Terpopuler
1
Pengakuan Korban Pelecehan Gus Idris, Berkedok Syuting Konten Sumpah Pocong
2
Khutbah Jumat: Mempererat Tali Persaudaraan Menjelang Bulan Ramadhan
3
Khutbah Jumat: Menyambut Ramadhan dengan Saling Memaafkan
4
6 Puasa yang Boleh Dilakukan Setelah Nisfu Sya'ban
5
Khutbah Jumat: Menyambut Ramadhan dengan Meningkatkan Kepedulian Sosial
6
Kasus Anak SD Bunuh Diri di Ngada, Kemiskinan Jadi Faktor Risiko, Negara Diminta Hadir
Terkini
Lihat Semua